Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Feizal

PNS, Menikah/4 anak, S2 Teknik, Suka menulis, Mengisi kolom tetap Makna setiap hari Rabu di selengkapnya

Surah Pilihan, Contoh Dakwah Menarik Paramuda di TV

REP | 06 February 2011 | 11:03 Dibaca: 1515   Komentar: 2   0

Surah Pilihan adalah judul tulisan saya pada kolom Makna di koran Riau Pos tanggal 2 Februari 2011. Kolom itu muncul tiap hari Rabu (kecuali dua kali hari Kamis karena masalah teknis) halaman 21 yang muncul sejak bulan Mei 2010. Judul tulisan di kolom itu sering satu atau dua kata yang akan dikemukakan makna yang ada pada kata itu, yang dikaitkan pula dengan keadaan aktual di sekeliling kita.

Judul Surah Pilihan muncul dari sebuah acara ba’da subuh di TV1 Malaysia, yaitu tentang pembahasan tentang surat-surat dalam Al-Quran berdasarkan pilihan pemirsa melalui email. Setelah muncul di Riau Pos, seorang teman mengirimkan SMS agar bisa ditulis di media nasional sehingga kandungannya dapat dibaca lebih luas lagi. Saran yang baik itu saya jawantahkan dengan mengedit dan memfrasa kembali (rephrase) tulisan itu sebagai berikut.

Tentang kualitas acara Surah Pilihan itu dan isi nya tentu relatif. Kalau niat kita menonton untuk mencari ilmu karena Allah, acara ini tentu sangat menarik karena bisa mengisi waktu luang dan mengantarkan langsung ke hadapan kita peluang untuk meningkatkan diri dengan pengetahuan kandungan surah-surah Al-Quran. Namun ada dua hal yang menarik dari acara itu.

Pertama, pembawa acara dan pembahasnya yang masih muda namun piawai adalah “kaki tangan kerajaan” yang mengurus agama. Kita jarang berjumpa dengan pembawa acara dakwah di tv yang masih muda dan berbobot, apalagi dari kantor pemerintah. Beda dengan acara dakwah tv kita yang dibuat menarik dengan guyon dan tawa, kajian Al-Quran yang serius dan bernas ini dibawakan secara menarik.

Kedua, walau setting broadcastingnya tidak glamour tapi secara teknis dan profesi, acara yang dikelola pemerintah ini sudah mirip dengan tampilan siaran-siaran TV swasta kita. Rundown acaranya tidak monoton tapi demikian dinamis dan variatif. Acara itu dikemas secara menarik, modern dan up-to-date dalam style sana, sehingga banyak mendapat respons secara interaktif dari generasi muda yang memilih surah untuk dibahas.

Dari bahasan ini dapat pula kita tarik dua hal: Pertama, acara-acara TV pemerintah pun sebenarnya bisa baik dan menarik jika dilakukan secara profesional. Profesionalisme ini bukan berarti tergantung pada pendapatan namun pada aspek potensi, kompetensi, kapabilitas, dan niat dari pelakunya. Aspek-aspek ini mestinya jadi prioritas dalam mempersiapkan SDM pelakunya, karena nanti akan terkait juga ke tingkat pendapatan.

Kedua, acara kerohanian yang berbobot perlu disajikan secara profesional dan kreatif.  Ini menyangkut settingnya, rundown acaranya, pembawa acaranya, dan termasuk interaksi dengan pemirsa yang nyambung dengan kekinian misalnya dengan email, jejaring sosial, atau sms.

Ketiga, acara-acara keagamaan tidak mesti hanya menjadi domain kaum tua tapi akan bisa menarik generasi muda juga kalau dibawakan dengan cara belia tapi tetap berkompeten.  Karena itu otoritas agama perlu melihat pangsa usia dan mempersiapkan pelaku-pelaku dan metoda dakwah yang sesuai. Juga, efektivitas proses pembelajaran agama untuk generasi muda perlu jadi perhatian karena masih kentalnya pemahaman paradigma bahwa praktek beragama itu untuk yang tua-tua atau ke masjid pada masa tua nanti. Masjid-masjid perlu lebih diramaikan dengan agenda yang “nyambung” dengan paramuda.

Anyway, itu menuntut adanya ide dan konsep-konsep yang perlu disiasati serta menuntut kesungguhan dalam implementasinya. Tauladan dari para pemimpin yang mengharap ridhoNya akan sangat besar pengaruhnya untuk memperbaiki keadaan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Tifatul Sembiring di Balik Hilangnya …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Skenario Menjatuhkan Jokowi, Rekayasa Merah …

Imam Kodri | 8 jam lalu

SBY Hentikan Koalisi Merah Putih …

Zen Muttaqin | 8 jam lalu

Dari Semua Calon Menteri, Cuma Rizal Ramli …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Rayhaneh Jabbari Membunuh Intelejen Coba …

Febrialdi | 7 jam lalu

Penumpang KA Minim Empati …

Agung Han | 7 jam lalu

Enam Belas Tahun yang Lalu …

Muhakam -laugi | 8 jam lalu

Ada Cinta di Minggu Ke-13 …

Rian Johanes | 8 jam lalu

Ayo Muliakan Petani Indonesia …

Robert Parlaungan S... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: