Back to Kompasiana
Artikel

Agama

M Ishak Iskandar

Name: M ishak iskandar pendidikan Spd web site: wwww.genaktifasiotak.blogspot.com

Bekal Menjelang Ajal

OPINI | 29 December 2010 | 04:10 Dibaca: 319   Komentar: 0   0

BEKAL MENJELANG AJAL

Bismillaahir rohmaanir rohiim

Alhamdu lillahi Robbil ‘alamin, wasaholatu wasalamu ‘ala asrofil anbiyai wal mursalin, wa’ala alihi wasohbihi ajma’in.

Kullu nafsin daiqotul maut = Tiap-tiap diri yang berjiwa pasti merasai mati.

Bertitik tolak dari ayat 35 Surat Al Anbiya inilah, kita mencoba berbicara dan sekaligus bertanya, apa yang harus menjadi bekal menjelang ajal ini ?

Lalu, kenapa kok repot-repot meneliti mencari bekal tadi ? Karena kita tahu, bahwa di akhirat nanti kita akan mendatangi suatu tempat dari dua tempat yang bertolak belakang sifatnya, yakni syurga, tempat yang maha mengenakkan dan neraka tempat yang maha tidak mngenakkan. Sedangkan kita tentu akan memilih tempat yang enak, otomatis.

Walaupun ada ayat : Inna lillahi wa inna ilahi rojiun = asal dari Allah kembali kepada Allah, tetapi kan kembalinya tentu ke salah satu tempat dari dua tempat tadi, di mana kita mau kembali ke tempat yang enak.

Nah, untuk tujuan itu, Allah berfirman dalam Surat no 90 (Al Balad = Negri ayat 10) : Wa hadainahu najdain = Dan kami tunjukkan kepadamu dua buah jalan, yakni jalan yang baik ke sebalah kanan yang menuju ke syurgaKu dan jalan yang bururk ke sebelah kiri yang menuju ke nerakaKu.

Kalau kita kritis, sebenarnya ayat ini menimbulkan pertanyaan pada kita, sebab ayat berbicara tentang negri ( Negara ), tapi Allah berbicara tentang jalan. Kenapa jalan bukan Negara ? Ataukah mungkin maksud Allah juga sebenarnya Negara, tapi tiba-tiba menyebut jalan, rasanya tidak relevan. Tapi untuk sementara biarlah hal ini tak usah kita permasalahkan dulu.

Apa sebenarnya yang dimaksud Allah dengan jalan kanan ? Tidak lain adalah jalan yang dicontohkan dilalui oleh Rasulullah Muhammad saw, yakni melalui jalan yang bernama Din yang benar yaitu Din Islam, bukan Din yang bathil (selain Islam).

Kenapa saya dengan tegas berani mengatakan di sini, bahwa Islam adalah Din yang paling benar ? Karena ini berdasarkan firman Allah dalam Surat Ali Imron ayat 19 : Inna dina indallahil Islam = Din yang diridhoi disisi Allah ialah Din Islam. Kemudian di ayat 85 nya : Wamay yabtaghi ghoerol Islama dinan, fala yukbala minhu, wa huwa fi akhiroti minal hosirin = Barangsiapa yang mencari Din selain Din Islam, maka ditolak ( tidak diterima ) oleh Allah, dan di akhiratpun mereka termasuk orang-orang yang merugi. Inilah firman Allah bukan kata-kata saya sendiri.

Karena firman Allah ini pulalah saya tidak berani berkata : SEMUA AGAMA ITU BAIK. Menurut hemat saya, janganlah mengaku sebagai muslim yang benar kalau berani berkata seperti di atas, karena ini berarti agama yang lain pun “sama baiknya” dengan Islam. Kecuali kalau mengatakan : semua agama itu baik, tapi Islam adalah yang terbaik.

Setelah memberitahu manusia, bahwa Din yang diridhoi oleh Allah untuk dianut itu “hanya” Islam, Dia memberitahu, apa target hidup manusia yang harus diraih dikala dia dipanggil ke hadiratNya ? Maka Dia berfirman dalam Surat Ali Imron ayat 102 : Ya ayyuhal ladina amanut taqullaha haqqo tukotih, wa la tamuttuna illa wa antum muslimun = Hai orang-orang yang telah beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan taqwa yang benar, dan dikala nanti kamu mati harus dalam “kondisi sebagai muslim” ( bukan sebagai kafir ).

Dari sini jelas, bahwa “tugas pertama dari Allah setelah kita lahir ke dunia dan sudah dewasa, ialah harus menjadikan diri kita sebagai muslim” ( pemeluk Din Islam dan harus taqwa yang benar ).

Timbul pertanyaan : Kalau begitu, bagaimana caranya kita menjadi muslim yang benar ?

Allah melalui Rasulnya Muhammad saw, memerintahkan : Kamu harus menyatakan persaksian kebenaran aqidah Islam ke hadapan Allah, dengan cara yang bernama rukun Islam yang pertama, ialah mengikrarkan “bayiah” yaitu : Transaksi jual beli dengan Allah, dimana yang kita jual ialah amwal ( harta ) dan anfus ( jiwa raga ) dan dibeli oleh Alah dengan Jannah ( syurga ). Bayiah ini kalau orang Nasrani dinamakan “baptis”.

Bayiah ini berbunyi : ASHADU ALLA ILAHA ILLALLAH, WA ASHADU ANNA MUHAMMADAR ROSULULLAH = saya bersaksi, bahwa tak ada illah yang wajib di sembah dan diibadati kecuali Allah SWT, dan saya bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad saw adalah Rasul Allah.

Setelah kita menyatakan persaksian ini kepada Allah SWT, “baru kita diberi tugas” berupa rukun Islam : nomor 2 yaitu mendirikan sholat ( aqimis sholat ), nomor 3 yakni mengeluarkan zakat dan infak, nomor 4 puasa pada bulan ramadahan dan nomor 5 yakni menunaikan ibadah haji ke baitullah jika mampu : a. ilmu agamanya, b. biayanya, dan c. kesehatannya .

Sampai di sini, kita bertanya lagi : Apakah tugas yang 4 macam di atas ini diwajibkan oleh Allah kepada seluruh umat manusia tidak pandang bulu ? TIdak ! tugas-tugas ini hanya diwajibkan kepada : “manusia yang sudah menjadi muslim” ( pemeluk Din Islam yang haq ).

Dengan kata lain manusia yang belum menjadi muslim, atau belum mengikrarkan bayiah, sekali-kali Allah tidak mewajibkan melakukan peribadatan tersebut. Kenapa demikian ? Karena Allah setelah memberi tugas ini, berjanji akan memberi balasan atau imbalan yang dinamakan “pahala” kepada manusia yang sudah menjadi muslim itu. Kesimpulannya : Tidak ada hak bagi seorang manusia untuk menagih/meminta imbalan atau pahala kepada Allah bagi orang yang belum menjadi muslim, walaupun diapun melakukan tugas-tugas tadi disertai rukun-rukunnya yang sempurna. Dimana dalilnya ( ayatnya ) tentang ini ? Dalilnya Allah firmankan alam Surat Al Anfal ayat 35 : Wama kanna sholatuhum indal bait, illa mukaan wa tasdiyatan, faduku azaba bima kuntum takfurun, artinya : Sholat mereka ( yang belum jadi muslim ) disisi baitKu, tidak lain hanyalah seperti bersiul dan bertepuk tangan ( hanya bermain-main belaka ). Sebab itu terimalah “azabKu” ( bukan terimalah pahalaKu ), karena hakekatnya kamu itu “masih kafir” ( belum muslim )—-walaupun ikut-ikutan melaksanakan tugas dariKu.

Tentang bayiah ini Allah lebih jauh mengistilahkannya dengan kata “HIJRAH”.

Kalau begitu, apa tugas kita sebagai orang tua dari anak-anak kita yang paling pokok kepada mereka, bila mereka sudah dewasa ?.

Tugas kita sebagai orang tua yang paling pokok ialah menyuruh mereka melaksanakan hijrah, yakni mengikrarkan aqidah Islam atau mengikrarkan bayiah. Seperti saya katakan tadi di depan, kalau orang Nasrani membaptis anak-anaknya.

Lebih baik lagi kita menyuruh keturunan kita berbayiah itu, dikala mereka sudah masuk sekolah dasar, kira-kira pada usia 7 tahun, dimana mereka sudah cukup mampu membedakan “buruk” dan “baik”. Jangan tunggu mereka menginjak usia remaja.

Adapun mendidik/mengajarkan bagaimana melaksanakan tugas-tugas : sholat ritual 5 kali sehari semalam, puasa ramadhan, cara-cara mengeluarkan zakat, dan cara-cara manasik haji, boleh saja kita mulai pada usia mereka sekitar 5 atau 6 tahun dengan penjelasan kepada mereka, bahwa kalau mereka taat melaksanakan tugas-tugas ini, Allah akan memberi imbalan yang bernama pahala. Tapi ingat janganlah pahala dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan tugas-tugas tersebut.

Kenapa kita tidak mengutamakan mendidik keturunan kita melaksanakan tugas-tugas di atas seperti diprioritaskan ? Karena walaupun mereka setelah dewasa dan tua mahir serta taat melaksanakan tugas-tugas peribadatan di atas, kalau mereka belum menjadi muslim ( belum berbayiah ) amal-amal mereka itu tidak ada nilainya sama sekali, malah diancam azab sebagai firmanNya tadi di ayat 35 Surat Al Anfal itu. Dus ibadah mereka hanya dianggap sebagai kerja bakti, walaupun tadi sudah ditekankan jangan bermotivasi mengejar pahala tapi harus dengan motivasi lillahi ta’ala mencari ridho Allah.

Kalau begitu, sekarang mari kita introspeksi diri kita sendiri sebagai orang tua, apakah peribadatan keIslaman kita yaitu : sholat ritual, zakat/infak, puasa ramadhan, dan haji kita yang sudah kita tunaikan selama ini, sudahkah kira-kiranya mengantongi nilai yang bisa menjadi bekal nanti di akhirat, yang dicatat oleh malaikat-malaikat Rokib dan Atid ?.

Dalam hal ini, silahkan saja Tanya diri kita masing-masing sendiri, sudahkah kita menjadi muslim yang haq dimata Allah, ataukah kita masih berstatus muslim keturunan ( kafir ) karena belum hijrah ? belum mengikrarkan bayiah ? belum mengikrarkan aqidah Islam ? belum mengikrarkan 2 kalimat syahadat ?

Kalau belum, tak ada hak kita mengharap apalagi menagih pahala-pahala/imbalan yang dijanjikan Allah yang bisa dijadikan bekal di akhirat nanti.

Mungkin kita bertanya, kok kayanya soal hijrah ini merupakan kewajiban utama bagi manusia dari Allah ?

Memang betul, sebagai firmanNya dalam Surat Annisa ayat 97 : Innal ladina tawaf fahumul malaikatu dolini anfusihim, qolu fima kuntum, qolu kunna mustadafina fil ardi qoluu alam takun ardullahi wasiatan “fatuhajiru” fiha, faulaika ma’wahum “jahanamu” wasaat masyiiron = artinya : Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat pada saat orang itu sedang mendzolimi dirinya, malaikat bertanya kepadanya : waktu kamu kuwafatkan tadi itu sedang dalam kondisi bagaimana sesungguhnya kamu itu ? Dia menjawab : Kami adalah orang yang tak bisa menunaikan peribadatan Islam secara murni dan konsekwen sesuai yang diperintahkan Allah, karena kami adalah rakyat yang tertindas oleh penguasa kami. Kami tidak boleh melaksanakan syariat Islam yang diperintahkan Allah itu. Malaikat berkata lagi : Bukankah bumi Allah itu luas ? Lalu kamu “hijrah” saja dari tempatmu yang sekarang ini ke tempat yang tidak melarang kamu untuk menegakkan syariat Islam. Tapi karena mereka waktu hidup di dunia itu tidak mau hijrah ( meninggalkan tempat yang lama ), maka di akhirat mereka dicemplungkan di neraka jahanam dan itulah sejahat-jahat tempat tinggal ( Annisa, 4/97 ).

Dari keterangan Allah melalui firamnNya ini, jelas, bahwa walaupun kita sudah memiliki keimanan yang haq, tapi kalau tidak hijrah, tetap saja di akhirat kita harus menjadi penduduk neraka jahanam. Jadi walaupun sudah jadi mu’min, jangan berandai-andai bisa masuk syurga kalau kita tidak hijrah, ialah pindah ke tempat yang tidak melarang kita menegakkan syariat Islam.

Jelaslah disini, bahwa kewajiban hijrah ini merupakan kewajiban nomor 2 ( berikutnya ) setelah kita menyatakan “beriman” dengan mengikrarkan “bayiah”. Kalau begitu, jauh lebih tidak ada hak lagi berandai-andai akan masuk syurga, kalau berbayiahpun belum.

Kini malah kita bertanya lagi. Iman yang seperti apa yang dikehendaki oleh Allah itu ? Iman tersebut ialah iman yang sesuai dengan hadits Rasul : Al imanu tasdikun bil qolbi, wa ikrorun bil lisani wa amalun bil arkani, artinya : Yang dinamakan iman yang benar itu adalah :

1. Harus diyakini kebenaran aqidah Islamnya itu yakni 2 kalimat syahadat dalam qolbu ( hati )

2. Harus diikrarkan ( diucapkan ) syahadatnya itu dengan lisan ( lidah )

3. Harus diamalkan ( dikerjakan ) hikmah syahadat itu dengan perbuatan berdasarkan arkan ( rukunnya )

Jika ini sudah kita laksanakan, baru kita mempunyai hak memiliki keimanan yang sejati ( yang haq ).

Kenyataannya bagaimana kita ? Eeeeh….. dikasih tahu, bahwa untuk menjadi muslim yang haq itu harus dimulai dengan mengucapkan 2 kalimat syahadat, malah kita memberi argumentasi : Islam aliran apa yang demikian itu ? Yang bertanya demikian malah justru seorang guru ngaji/guru agama yang memiliki jamaah pengajian.

Akan lebih sinis lagi kalau yang memberi tahu itu tidak meyakinkan dia karena bukan tokoh agama yang popular atau da’I yang kondang yang suka memberi ceramah dimesjid-mesjid atau di kantor-kantor pemerintah yang resmi. Dan akan makin nyerongot kalau diberitahu, bahwa setelah mengucapkan 2 kalimat syahadat ( berbaiyah itu ) masih harus melaksanakan “hijrah”. Uuuhh ….., mungkin akan menjuluki : “Ini tidak lain Islam aliran sesat dan menyesatkan”. Ungkapan ini persis seperti jawaban para umat di jaman para Rasul dulu : Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata !

Itu tadi diatas ialah definisi iman yang haq menurut hadits Rasul.

Adapun definisi iman yang haq menurut firman Allah, kita temukan diantaranya dalam Surat Al Anfal ayat 74 yang berbunyi : Waladina “amanu”, “wahajaru”, “wajahadu fisabilillah”, wa “ladina awaw wanasoru “ : “Ulaika humul mu’minuna haqqo”. Lahum maghfirotun wa rizkun karim, artinya : Orang-orang yang sebenarnya beriman itu ( mu’min yang sejati ) ialah :

  1. Orang yang telah memiliki keimanan
  2. Orang yang telah berhijrah
  3. Orang yang berjihad di jalan Allah dan memberi tempat tinggal dan menolong kaum Muhajirin.

Bagi orang-orang seperti ini, Allah memberi ampunan dan rizki yang mulia.

Di sini Allah sampai berfirman : “Ulaika humul mu’minuna haqqo” = mereka itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya beriman = iman yang haq, pemiliknya ialah “mu’min sejati”.

Dus berdasar ayat 74 Surat Al Anfal ini, mu’min sejati itu harus : 1. beriman, 2. hiijrah, 3. jihad di jalan Allah. Kalau begitu, tidak bisa kita mengaku sudah berjihad di jalan Allah kalau belum hijrah, dan tak bisa pula mengaku sudah hijrah kalau belum beriman yang haq. Kenapa demikian ? Karena urutannya ialah : amanuhajaru—barulah jahadu.

Dalam poin 3 disini disebutkan : memberi tempat tinggal dan menolong “kaum Muhajirin”, maksudnya bukan kaum Muhajirin zaman Rasulullah dulu, tapi misalnya begini : Bulan yang lalu adik ipar saya melakukan musahadah hijrah bersama suaminya, karena dianjurkan oleh saya supaya melaksanakannya. Tetangganya menuduh, bahwa adik ipar saya mengikuti Islam aliran sesat dan dilaporkan kepada pihak polisi ( pihak berwajib ). Karena adik ipar saya dan suaminya merasa terancam, lalu dia evakuasi ke rumah saya. Nah didalam hal ini maka sayalah yang oleh Allah dinamakan : Orang yang berjihad di jalan Allah dan “memberi tempat tinggal dan menolong kaum Muhajirin”, dimana kaum Muhajirinnya iaalah : adik ipar saya sekeluarga itu.

Bagaimana statusnya dalam pandangan Allah orang-orang yang telah beriman tetapi tidak hijrah ? Ini kita temukan dalam Surat Al Anfal ayat 72 yang berbunyi : Innal ladina amanu, wa hajaru, wa jahadu bi amwalihim wa anfusihim fi sabilillah, wa ladina awaw wanasoru ulaika ba’duhum auliyau ba’din, wa ladina amanu walam yuhajiru ma’lahum miw walayatihim min syaiin atta yuhajiru wa innis tansorukum fiddiini fa alaikumun nasru illa ‘alakaumin bainakum wa bainahum misakun, wallahu bima ta’maluna basiir, artinya : Sesungguhnya orang-orang yang telah beriman, berhijrah ( berpindah ) serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan dirinya dan orang-oorang yang memberi tempat tinggal dan menolong ( al Anshor ) yang hijrah, mereka itu satu sama lain saling melindungi. Adapun terhadap orang-orang yang beriman “akan tetapi tidak hijrah”, maka “tak ada kewajiban sedikitpun bagimu ( Muhammad ) untuk melindungi mereka” sebelum mereka berhijrah pula. Tapi jika mereka minta tolong dalam urusan agama, maka kamu wajib untuk menolongnya, kecuali kepada mereka yang ada perjanjian dengan kamu. Allah Mahamelihat segala sesuatu yang kamu kerjakan ( Al Anfal, 8/72).

Disini Allah menjelaskan kepada kita, bahwa walaupun seseorang telah beriman jika dia belum hijrah, maka kita ( yang telah hijrah ) tidak diwajibkan sedikitpun untuk melindungi dia, artinya pula dia tak punya hak untuk memperoleh perlindungan/pertolongan.

Kalau kita kembali menyimak ayat 97 Surat Annisa di depan, saya jadi teringat cerita kyai guru ngaji saya waktu saya berusia sekitar 10 tahun. Kata beliau : Hai anak-anak, nanti kalau mayatmu sudah ditaruh di liang lahat dan orang-orang yang mengantarkan sudah 7 langkah mau kembali pulang ke rumahnya masing-masing, kamu di dalam kubur dibangunkan oleh malaikat Munkar Nakir yang bertanya : Man Robbuka = Siapa Rob mu ( tuhanmu ). Wama imammuka = Siapa Imammu ( pemimpinmu). Wama kiblatuka = Kemana kiblatmu dsb. Kata beliau, hafalkan pertanyaan-pertanyaan itu agar kamu bisa menjawabnya kelak di liang kubur. Setelah saya besar, saya berpikir, pertanyaan itu bukan cuma di liang kubur, tapi justru kepada kita yang masih hidup di mana roh kita dikubur oleh jagad sagir ( badan kita ), agar kita memikirkan apa yang harus kita lakukan waktu hidup ini agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi menurut hadits pun memang kita di liang lahat dibangunkan oleh malaikat Munkar Nakir itu, dan kita mesti percayai. Adapun malaikatnya yang bertanya kepada manusia yang masih hidup ialah sesuai dengan arti kata bahasa Arab : Malak = power, kekuatan, tenaga, energi yang diberikan kepada “ladinas tofaina” = manusia yang mustofa, manusia pilihan Allah, hamba pilihan Allah yang memiliki pemahaman yang benar tentang Din Islam ini, yakni Muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Setelah saya tua dan rajin membaca Al Quran, saya menemukan ayat 65 Surat Yasin : Al yauma nahtimu ‘ala abwahihim, watukalimuna aydihim, watashadu arjuluhum, bimakanu yaktibun, artinya : Pada hari ini “kami tutup mulut mereka”, sedang yang berbicara kepada kami tangannya, dan kakinya menjadi saksi atas apa-apa yang mereka kerjakan waktu hidup di dunia.

Dengan demikian, walaupun kita sudah hafal di luar kepala semua jawaban pertanyaan malaikat Munkar Nakir tadi, sama saja bohong, karena di sana kita tidak dapat menggunakan mulut untuk berbicara. Di sini nyata benar kebodohan kita. Maka dalam hal ini tak perku kita mengahapal pertanyaan apapun, tapi yang diperlukan kerja nyata melaksanakan perintah-perintah Allah, meninggalkan larangan Allah sewaktu hidup di dunia. Adapun istilah yang popular dalam melaksanakan perintah-perintah Allah ialah : Fastabikul khoerot bi idnillah, artinya : Berlomba memperbuat kebajikan dengan ijin Allah. Kalau kita sudah bisa begini tanpa repot-repot menghapal jawaban pertanyaanpun nanti pasti jawaban akan tersedia.

Secara sepintas, mungkin setelah kita menyimak ayat 35 Surat Al Anfal di depan, kita akan berpikir, bahwa Allah sangat zakelijk, artinya kalau dia menetapkan sesuatu itu harus begitu, maka tak ada siaspapun yang boleh dan bisa menawar untuk tidak begitu. Memang begitulah cara Allah untuk mendidik manusia dalam memahami arti kata “taat”. Kalau tidak demikian, maka manusia akan seenaknya saja memohon : Ya Allah, sesuatu yang engakau haramkan, tolongalah supaya engkau halalkan, juga sesuatu yang Kau halalkan, supaya Engkau haramkan.

Untuk menelaah logis tidaknya ayat 35 Suat Al Anfal tadi, bahwa walaupun seseorang melakukan peribadatan Islam dengan sempurna rukun-rukunnya, ( misalnya sholat ) kalau orang itu belum menjadi muslim, oleh Allah tidak diberi nilai pahala, bahkan diancam dengan azab, sekarang saya akan memberikan contoh ringan.

Umpamakan sekarang anda mengaku sebagai mahasiswa kedokteran UI. Sementara anda belum mendaftarkan diri ke UI sebagai mahasiswa fakultas kedokteran. Waktu anda ditanya teman anda : kuliah dimana engkau sekarang ? di UI fakultas Kedokteran, jawab anda. Wah hebat, anda lulus sipenmaru dan diterima di UI.

Ah, saya tidak ikut ujian Sipenmaru kok, dan sayapun tidak daftar segala macam sebagai mahasiswa fakultas kedokteran UI. Pokoknya yang penting kita selalu mengikuti kuliah, uang kuliah tiap tahun dibayar lunas. Tiap tentamen kita selalu mengikutinya, dan soal-soal kita kerjakan dengan benar, beres kan ?

Oh…., jadi anda tidak mendaftarkan diri dulu sebagai mahasiswa fakultas kedokteran UI ? nomor induk registrasi mahasiswa pun anda tidak punya ? Ya nggak punya dong, orang nggak daftar.

Sekarang silahkan anda dalam kehidupan dunia ini berlaku seperti demikian. Nanti pada waktu dosen suatu mata kuliah, — bahasa Inggris, misalnya–, memeriksa lembar jawaban anda waktu tentamen, dia tidak akan menemukan nama anda di daftar absensinya, karena anda belum mendaftar. Kalau saya sebagai dosennya, saya tidak akan memeriksa pekerjaan anda apalagi memberi nilai, karena anda bukan mahasiswa fakultas kedokteran. Padahal mungkin jawaban anda betul semua. Begitu pula dosen-dosen mata kuliah lain tidak akan memberi nilai kepada lembar jawaban anda, walaupun jawabannya benar. Nah itu baru di dalam tingkat tentamen. Lalu bagaimana pula nanti di kala anda harus mengikuti ujian akhir untuk meraih title dokter ? kira-kiranya, bisakah anda mengikuti ujian akhir ?. Tidak mungkin bisa.

Apa penyebabnya ? Tidak lain Cuma karena anda menganggap tidak perlu mendaftarkan diri dulu secara resmi sebagai mahasiswa fakultas kedokteran.

Maka secara analogi, walaupun anda melaksanakan peribadatan-peribadatan keIslaman secara benar dan sempurna rukun-rukunnya, dosen malaikat Rokib dan Atid ( malaikat pencatat amal baik buruk kita ), tidak akan memberi pahala peribadatan kita, karena tidak dianggap sebagai mahasiswa Universitas Islam, sebab belum mendaftarkan diri kepada Rektornya, Allah yang mahaesa melalui bagian penerimaan mahasiswa baru yakni Rasulullah Muhammad saw. Dalam daftar absensi dosen malaikat Rokib dan Atid, nama anda tidak ada, apalagi NIRM nya.

Dalam hal sebagai mahasiswa fakultas kedokteran pun, anda menganggap tidak perlu mendaftarkan diri dulu ke fakultas kedokteran. Anda pikir, yang daftarnya cukup ayah anda saja dulu, kan dia juga dulu kuliah di fakultas kedokteran. Ini sama persis anda menganggap tidak perlu mengikrarkan bayiah, cukup yang berbayiahnya ayah anda saja dulu, ini artinya anda sebagai muslim keturunan.

Yang sangat merugikan kita, kalau status kita masih muslim keturunan, maka berdasar ayat 35 Surat Al Anfal tadi, peribadatan kita bukan mendapat pahala, tapi malah mendapat azab Allah. Kalau kita telaah lebih jauh, kita melaksanakan peribadatan Islam, tidak dapat pahala malah dapat azab, ini sama artinya dengan : Kita itu tidak melaksanakan peribadatan Islam.

Berkaitan dengan ungkapan : “tidak melakukan peribadatan” ( sholat, zakat, puasa dan haji ), saya teringat peristiwa di tahun ‘95-an, saya menerima surat selebaran dari Syekh Ahmad dari Saudi Arabia, dimana dalam selebaran tersebut terdapat juga kalimat : Tidak sholat, tidak zakat, tidak puasa dan tidak ibadah haji, hingga timbul pertanyaan dalam hati : “apa penyebabnya”?. Berikut ini saya kutipkan selebaran tersebut :

BERITA PENTING

Berita penting untuk seluruh umat Islam di seluruh dunia. Surat ini datangnya dari Syekh Ahmad di Saudi Arabia, beliau berkata : Hamba bersumpah dengan nama Allah SWT dan Nabi Muhammad saw. Wasiat untuk seluruh umat Islam dari Syekh Ahmad, seorang penjaga makam Rasulullah saw di Madinah waktu di Mesjid Nabawi, Saudi Arabia :

Pada malam tatkala hamba sedang membaca Al Quran dan hamba sampai tertidur lalu hamba bermimpi. Di dalam mimpi hamba bertemu dengan Rasulullah saw dan beliau bersabda : Di dalam 60 ribu orang yang meninggal dunia diantara beliau tidak ada seorangpun yang mati beriman dikarenakan :

  1. Seorang istri tidak lagi mendengar kata-kata suaminya
  2. Orang kaya yang mampu tidak lagi melambangkan rasa belas kasih pada orang-orang miskin
  3. Dewasa ini banyak orang tidak mengeluarkan zakat/infak, tidak puasa, tidak sholat, dan tidak menunaikan ibadah haji, padahal mereka ini mampu unutk melaksanakannya.

Oleh karena itu wahai Syekh Ahmad, engkau sabdakan kepada semua umat manusia di dunia ini supaya berbuat kebajikan dan menyembah Allah SWT. Demikian pesan Rasulullah saw kepada hamba. Berdasarkan pesan Rasulullah saw tersebut, karena itulah hamba berpesan pula kepada segenap umat Islam di dunia :

  1. Bersholawatlah kepada Nabi saw
  2. Janganlah bermalas-malasan dalam mendirikan sholat/mengerjakan sholat ritual 5 kali sehari semalam
  3. Berzakat, infak dan sodakohlah dengan segera dan santunilah anak yatim piatu
  4. Berpuasalah di bulan Ramadhan dan jika mampu tunaikanlah ibadah haji

Jika menyimak pemberitaan di atas, alangkah herannya kita jika memperbandingkan dengan kenyataannya dewasa ini yang tampak dengan mata kasar, ( terutama di Negara kita Indonesia menjelang abad ke 15 H ini ), lahiriahnya kita sungguh merasakan bangga melihat animo dari segala lapisan masyarakat dalam melaksanakan peribadatan keIslaman ini. Apa buktinya bahwa kita merasa bangga ?

a. Berapa puluh bahkan mungkin ratus ribu buah masjid telah dibangun di seluruh nusantara tempat muslimin muslimat sholat, tapi kata Rasulullah tadi : sekarang ini sudah tidaka ada lagi yang sholat.

b. Berapa puluh bahkan mungkin ratus milyar rupiah hasil zakat, infak, sodakoh tiap tahun di Indonesia saja, tapi kata Rasulullah tadi : Sekarang ini sudah tidak ada lagi yang zakat, infak, sodakoh.

c. Sekurang-kurangnya 75% bangsa Indonesia yang mengaku muslim ini tentu puasa pada bulan Ramadhan, tapi kata Rasulullah sekarang ini : Sudah tidak ada lagi yang puasa Ramadhan.

d. Lebih-lebih peribadatan Islam yang satu ini, yaitu ibadah haji. Berapapuluh bahkan ratus ribu jamaah haji Indonesia tiap tahun yang mampu menunaikannya, walaupun ongkos naik haji berpuluh juta rupiah, tapi kata Rasulullah sekarang ini : Sudah tidak ada lagi yang menunaikan ibadah haji.

Empat poin a,b,c, dan d diatas inilah yang menimbulkan pertanyaan dalam hati saya : ”apa penyebabnya”.

Rupanya penyebabnya itu, karena muslim di Indonesia ini, bahkan mungkin di dunia ini, dalam pandangan mata Allah : KENA DENGAN AYAT 35 SURAT AL ANFAL. Wallahualam bis sawab !

Kalau memang benar karena ini, inipun punya alasan yang cukup, karena saya perhatikan muslim Indonesia ini pada umumnya adalah sebagai berikut :

a. Dalam mempelajari Din Islam ini memakai metode : “dari detail menuju ke global”, contonya : Semua tokoh-tokoh agama, pemuka agama, guru-guru ngaji, para kyai, ustad-ustad, para ajengan, mengutamakan mengajarkan : bagaimana rukun syahnya sholat ritual, rukun syahnya harokat zakat, rukun syahnya puasa dan rukun syahnya ibadah haji. Ini artinya, yang dipelajari atau yang di dalami itu dari soal-soal yang detail dulu.

Persis seperti kita mau membuat sebuah sepeda, kita buat tiap-tiap onderdilnya dulu masing-masing. Ban nya tidak diperhitungkan berapa jari-jari lingkarannya. Ban luar dan dalamnya tidak disesuaikan besar lingkarannya dengan lingkaran velk nya. Rantainya kita buat saja asal yang bernama rantai, tidak peduli apakah nanti cocoknya itu dengan rantai sepeda motor. Semua onderdilnya kita buat seperti itu. Setelah selesai pembuatan semua onderdil kita konstruir, kok tidak jadi sepeda ?

b. Seharusnya mempelajari Islam ini secara global dulu, yaitu Islam nya. Bagaimana membuat Islam ini atau bagaimana kita menjadikan diri kita menjadi muslim ini. Setelah itu barulah kita mempelajari detail-detailnya yaitu factor-faktor yang sudah disebut diatas tadi. Begitulah yang saya maksudkan mempelajari Islam dengan metode dari “global” menuju ke “detail”. Kalau membuat sepeda tadi, mula-mula kita membuat “maket” sepeda yang kita inginkan itu, maka otomatis nanti kita akan tahu besar lingkaran bannya, panjang rantainya, besar masing-masing bautnya, panjang stangnya, bentuk sadelnya, bentuk pedalnya, besarnya lingkaran gigi depan dan belakang, panjang batang standarnya dan sebagainya. Nanti, begitu kita konstruir, pasti akan pas menjadi sepeda.

Keadaan seperti ini tidak bisa kita sangkal, memang begitulah kita mempelajari Din Islam selama ini. Kita larut dalam mempelajari hal-hal yang detail, berkutat soal hilafiah, soal usholi, soal do’a qunut, soal azan sekali atau dua kali waktu sholat Jum’at dan lain-lain. Soal yang paling pokok terlupakan, yaitu soal yang “global” yaitu harus mendaftarkan diri dulu sebagai muslim yang haq dengan cara : mengikrarkan “bayiah” itu. Muslim Indonesia mempelajari Din Islam itu persis seperti saya contohkan mahasiswa fakultas kedokteran, menganggap tidak perlu mendaftarkan diri sebagai mahasiswa fakultas kedokteran, yang dia utamakan asal bisa mengerjakan tugas-tugas menjawab soal-soal tentamen. Begitu pula halnya Muslim Indonesia ini dia tidak perlu mendaftarkan diri atau menjadikan dirinya muslim dulu, yang penting bisa mengerjakan peribadatan-peribadatan Islam seperti sholat, zakat, puasa dan haji.

Karena itu, kelanjutan jalan pikiran muslim Indonesia ini, makin mengkristal pemahamannya mengenai Din Islam ini seperti itu. Dan jangan heran kalau kehidupan masyarakat muslim Indonesia ini menampakkkan fenomena-fenomena pemahaman peribadatan ke-Islaman ini sebagai berikut :

1. Kalau menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, sudah terpampang dimana-mana spanduk besar-besar yang menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Kalau seorang kuyai ceramah agama, pasti yang menjadi topiknya ayat 183 Surat Al Baqoroh yang berbunyi : Ya ayyuhal ladina amanu, kutiba alaikumus siam, kamakutiba ‘alal ladina min qoblikum, la’alakum tataaquun, artinya : Hai orang-orang yang telah beriman, diperlukan atas kamu puasa, sebagaimana telah diperlukan atas orang-orang sebelum kamu berpuasa juga, mudah-mudahan kamu bertaqwa.

2. Dikala menjelang sholat Idul Firi atau Idul Adha ( Idul Qurban ), spandukpun sudah terbentang dimana-mana, bahkan biasanya lebih marak, dengan seruan : Mari kita hadiri sholat Id di lapangan anu !

3. Kalau tiba saatnya penarikan harokat zakat/infak/sodaqoh, pasti juga kita jumpai spanduk besar-besar dimana-mana yang mengajak menunaikan ibadah mengeluarkan harokat zakat infak sodaqoh ini.

4. Lebih-lebih kalau menjelang pelaksanaan ibadah haji, sepuluh bulan lagi sebelum tibanya bulan Julhijah, para penyelenggara layanan ibadah haji sudah genjar beriklan di televise atau radio pemerintah maupun swasta, menyampaikan kepiawaian/kecanggihan servise yang mereka berikan berikut fasilitas-fasilitas/kemudahan yang mereka janjikan. Lebih-lebih spanduk sudah tak terhitung banyaknya. Alahamdulillah kalau dalam realisasinya pelayanan mereka persis seperti yang dijanjikannya. Cuma sayangnya kadang-kadang terbalik 180 derajat dalam pelaksanaannya yang dilakukan oleh segelintir oknum yang mencari keuntungan pribadi dengan cara menipu calon jemaah haji dan lain-lain. Itu yang dilakukan oleh pihak swasta. Yang dilakukan oleh departemen agama pun memperlihatkan satu cara yang kurang memadai, misalnya dengan system harus mensetor ongkos naik haji lebih dulu berpuluh-puluh juta, tiga atau empat tahun sebelum keberangkatan ke tanah suci. Kalau kita lebih kritis, uang setoran yang disimpan di bank tersebut, berapa banyak bunga yang dikeluarkan oleh bank. Ini kayaknya sudah menjurus ke soal riba.

Dari poin satu sampai empat ini, tidak lain dalam cara/rangka pemantapan pemahaman muslimin/muslimat akan rukun-rukun Islam : sholat, zakat/infak, puasa dan haji.

5. Tapi, seumur saya menjunjung kepala diatas leher atau seumur saya mengaku sebagai muslim, sekarang usia saya sudah 74 tahun, waktu kecil pernah merasakan jajan ke warung pakai uang penjajah Belanda, dengan uangh sepeser (1/2 sen ) dapat lontong 1 dan goring tempe 1, belum pernah sekalipun meliha spanduk yang motivasinya : “memantapkan pemahaman muslimin/muslimat terhadap rukun Islam yang pertama ( peribadatan paling pokok ) yaitu : AQIDAH ISLAM = PENGIKRARAN 2 KALIMAT SYAHADAT”, yang spanduknya kira-kira berbunyi begini : SAUDARA-SAUDARA, YANG BARU SAJA MENGINJAK AKHIL BALIQ, HADIRILAH HARI “SYAHADATAIN” – bersyahadat secara missal—DI PARKIR TIMUR SENAYAN, PADA TANGGAL 1 MUHARAM 14..H, YAITU HARI PROKLAMASI SAUDARA-SAUDARA SUDAH MENJADI MUSLIM YANG HAQ.

Terus terang sampai usia 74 tahun ini saya belum pernah melihat spanduk seperti ini. Begitu pula belum pernah mendengar dari seluruh Indonesia ini di daerah mana atau di propinsi mana yang memasang spanduk seperti ini di Indonesia. Padahal ini yang menjadi pokok seseorang menjadi muslim.

Dari fenomena seperti ini, sekarang saya bisa memastikan, bahwa kemungkinan 30% muslimin/muslimat Indonesia masih berstatus “Muslim Keturunan”, yaitu muslim yang merasa menjadi muslimnya itu Cuma karena ayah ibunya muslim, jadi bukan muslim yang dimulai dengan pengikraran bayiah ( mengikrarkan 2 kalimat syahadat = rukun Islam yang pertama ). Dugaan saya ini pun lebih kuat lagi, karena sekitar tahun 90-an saya pernah berdiskusi dengan seorang guru agama di SMA tempat saya mengajar, begini :

“Pak, bapak kan guru agama Islam di sini. Kapan bapak menjadi muslim ?”

Jawab beliau : “ Loh, saya sejak lahirpun sudah muslim dong, karena orangtua sayapun muslim, sudah pada jadi haji lagi! Memangnya muslim anda bagaimana sih ?”

Kalau saya, merasa sudah menjadi muslim itu karena sudah mengikrarkan 2 kalimat syahadat ( rukun Islam yang pertama ) kepada Allah, disaksikan oleh minimal orang muslim yang lain yang haq. Bahkan waktu saya berbayiah, saksinya bukan Cuma 2 orang tapi 5 orang. Sejak waktu itu, kalau saya berjumpa di sekolah dengan beliau, beliau selalu meledek saya : “Sudah bayiah, euy!.. “, “oh jelas dong..”, jawab saya.

Kalau kita akan lebih kritis, maka seorang Tionghoa yang tadinya mungkin beragama Konghucu, lalu masuk Islam melalui pengikraran bayiah, dia lebih benar Islamnya ketimbang muslim Indonesia pribumi yang berstatus muslim keturunan.

Ngomong-ngomong soal rukun Islam yang ke-5, tidak sedikit yang punya pandangan ( terutama yang masih status Islam keturunan ), bahwa kalau seseorang sudah mampu menunaikan rukun Islam yang ke-5 ini, berarti sudah meraih derajat kemusliman yang paling sempurna, istilah dia, muslim yang persegi.

Apakah kita dalam mempelajari Din Islam ini mau terus seperti ini sampai hari qiamat ? Padahal nenek moyang kitapun di-Islamkannya oleh para wali songo dulu, ialah dengan cara men-SYAHADATKAN mereka secara massal, dengan cara yang kita kenal sekarang upacara SEKATEN, dari kata SYAHADATAIN.

Jadi, pada upacara syahadatain–( Sekaten, kata orang Jawa ), yang diselenggarakan oleh para wali songo waktu itu ialah : Mensyahadatkan para nenek moyang kita secara massal ( bareng-bareng ). Mereka yang masih beragama hindu, budha, animisme dan lain-lain. Dikumpulkan dengan dipancing oleh pagelaran kesenian seperti wayang kulit atau wayang golek dan sebagainya. Setelah kumpul semua, disela-sela pagelaran itu, disuruh berkumpul dan dituntun untuk mengikrarkan 2 kalimat syahadat bareng-bareng, yaitu mengikrarkan rukun Islam yang pertama, dalam arti bareng-bareng “di-Islamkan”.

Selain itu, kalau sekarang saya mendengar akan diselenggarakan Sekaten, saya teringat juga akan cerita pewayangan yang menceritakan Negara Amarta, yaitu negaranya Pandawa Lima, kecurian “Jamus Layang Kalimusodo”, sehingga pada saat itu banyak aparat pemerintah yang melakukan perbuatan angkara murka, kalau sekarang ini di Negara kita perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme. Kenapa demikian ? Karena memang yang hilang itu bukan Jamus Layang Kalimusodo, tapi : Jamus Layang “KALIMAH SYAHADAT”.

Arti hakiki dari pengucapan 2 kalimat syahadat ini ialah : Manusia disuruh masuk Din Islam itu melalui “pintunya”, ( pintu Dar Islam, pintu Darul Islam, pintu Rumah Islam ), karena syahadat itu oleh Allah diumpamakan pintu Din Islam, rumah Islam. Sholat diumpamakan tiangnya, zakat diumpamakan alat-alat pembersih, kalau di rumah kita seperti sanitasi, wc water closet ), kamar mandi, ventilasi dan lain-lain. Puasa diumpamakan pagarnya, karena waktu kita puasa nafsu kita dipagari. Adapun ibadah haji oleh Allah diumpamakan juga “komponen rumah Islam bagian belakang”. Kenapa belakang ? Karena ibadah haji itu pelaksanaannya paling belakang dibanding dengan sholat, zakat dan puasa.

Kalau begitu, cara-car para wali songo dulu dalam meng-Islamkan bangsa Indonesia itu, betul-betul sesuai dengan firman Allah Surat Al Baqoroh ayat 189 : Yasalunaka anil ahilati. Qul : Hiya “mawakitu” linasi wal “haji”, walaesal birru bi anta’tul buyuta min duhuriha, walakinal birro manit taqo, wa’tul buyuta min abwabiha, wattaqullaha laalakum tuflihun, artinya : Mereka ( umat Muhammad ) bertanya kepadamu ( Muhammad ) perihal bulan. Katakan hai Muhammad. Bulan itu “untuk menentukan waktu untuk manusia” dan “untuk menentukan ibadah haji”. Kami ( Allah ), “ tidak menganggap sebagai satu kebaktian kalian, bila kalian memasuki rumah itu dari belakangnya”. Tapi yang kami sebut kebaktian kalian itu ialah, perbuatan orang-orang yang taqwa kepadaKu, yaitu : “MEMASUKI RUMAH ITU DARI PINTUNYA”.

Yang Ku maksud rumah disini ialah rumah Islam, Din Islam, bukan rumah mewahmu yang di Pondok Indah, kalau maksudnya rumah itu masa harus Kubicarakan di Quran, masuk rumah ya harus dari pintu. Justru yang Kumaksudkan rumah disini ialah rumah dalam bahasa Arabnya Dar, Dar Islam, dan pintunya ialah 2 kalimat syahadat.

Disini Allah menjelaskan dengan kalimat perumpamaannya, bahwa untuk masuk Din Islam ( rumah Islam ) itu atau menjadi muslim yang haq ( benar ), harus melalui “pintunya”, melalui “syahadat”, bukan melalui bagian belakang rumah Islam, yakni ibadah haji.

Kalau harus saya jelaskan memakai bahas manusia kalimat Allah diatas : Hai manusia, jangan sekali-kali kamu merasa sudah jadi muslim yang haq dalam pandanganKu, mentang-mentang sudah mampu menunaikan ibadah haji 17 kali, padahal kamu belum pernah mengikrarkan rukun Islam yang pertama, pertanda masuk Islam melalui pintunya, melalui pengikraran 2 kalimat syahadat. Denga kata lain kata Allah : “Sekali-kali bukanlah penunaian ibadah haji yang menjadi ukuran kemuslimanmu yang haq itu”.

Sampai disini, rupanya kita sudah hampir bisa membuat skala prioritas jenis-jenis bekal dari yang paling dulu harus kita raih sampai kepada yang kadar pentingnya makin rendah. Secara jelasnya : “mana yang lebih penting, mahir dulu menunaikan kewajiban peribadatan ke-Islaman,–( sholat, zakat/infak, puasa dan haji ) –, atau menjadikan diri kita dulu sebagai muslim yang haq”.

Adapun yang merangsang kita mempersiapkan bekal ini, ialah ayat 34 Surat Lukman, yang berbunyi : Wama tadri nafsun mada taksibu godan, wa ma tadri nafsun bi ayyi ardi tamuttu , artinya : Tidak seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari, dan tidak seorangpun yang tahu di bumi mana dia akan mati.

Kita anggap ayat ini sebagai perangsang, sebab kita tidak tahu kapan kita akan mati. Kalau kita tahu kapan akan mati, misalnya 20 tahun lagi, boleh saja sekarng kita santai-santai dulu, bergajul dulu. Karena tidak tahu itulah, maka kita harus sedia payung sebelum hujan.

Sekarang saya mau mencoba meneliti pertanyaan di hati kecil pada awal makalah ini, yaitu Surat Al Balad ( Negri/Negara ) ayat 10, yang berbunyi : Wahadainahu najdain, artinya : Dan kami tunjukkan kepadamu 2 buah jalan. Surat ini membicarakan negri/Negara, tapi Allah berkata jalan.

Rupanya, yang dimaksud Allah dengan jalan disinipun sebenarnya “jalan untuk melaksanakan perjalanan hiudp manusia”, alias tempat, alias wilayah, alias “negri/Negara”. Dan kita akan lebih yakin lagi bahwa yang dimaksud jalan oleh Allah ialah “Negara”, bila kita kaitkan dengan kewajiban seorang muslim nomor 2 yaitu harus “hijrah” ( setelah kewajiban nomor 2 beriman ), dimana tentu Allah menyuruh hijrah itu dari Negara yang “bathil” ke Negara yang “haq”.

Negara yang bathil ialah Negara yang menolak diberlakukannya syariat Islam dan Negara yang haq ialah Negara yang menegakkan syariat Islam ( Hukum Allah dalam Al Quran ).

Kalau begitu sekarang, kalau hijrah ini merupakan perintah wajib dari Allah sebagaimana tercantum dalam firmanNya Surat Annisa ayat 97 didepan, supaya kita tidak dicemplungkan ke neraka jahanam, maka tugas kita sekarang bertambah, yaitu harus mencari Negara yang haq itu untuk hijrah, sedangkan kita sendiri sekarang tidak tahu dimana keberadaannya negara yang haq tersebut. Terus terang, “hanya orang-orang yang ditunjuki dan dapat hidayah dari Allah sajalah yang bisa menemukan Negara tersebut”.

Namun demikian, walau kita tidak tahu Negara yang haq tersebut, sampai disini sekurang-kurangnya kita sudah bisa membuat rangkuman atau skala prioritas tugas kita dalam rangka mencari bekal menjelang ajal ini, yaitu :

1. Menjadikan diri kita sebagai muslim yang haq ( bukan muslim keturunan )

2. Berbuat Istiqomah, artinya kita konsekwen melaksanakan rukun Islam yang 4 lagi yaitu : Aqimis sholat ( mendirikan sholat ) yang dalilnya di dalam Quran : Tanha anil fahsa’i wal munkar = mencegah berbuat keji dan munkar, bukan cuma melakukan sholat ritual 5 kali sehari semalam, membayarkan zakat/infak, puasa ramadhan, dan kalau mampu menunaikan ibadah haji.

Selanjutnya melalui tulisan ini, saya ingin mengajak saudara-saudara saya sesama muslim saling wasiat taqwa, saling bertukar pemahaman tentang hal-hal yang tampaknya sampai detik ini belum ada keseragaman pengertian antara sesama kita muslim ini. Hal-hal tersebut diantaranya :

  1. Perbedaan antara hadits dan Sunnah.

Hadits ialah ucapan atau kata-kata Rasulullah atau firman Allah dalam Quran. Sedangkan Sunnah ialah : Penjabaran , perealisasian, pengaplikasian dari hadits Rasul atau dari firman Allah tadi

Contohnya : Rasul berhadits : Jika kamu masuk ke kamar kecil, dahulukan kaki kiri, dan dikala keluar dahulukan kaki kanan. Nah, apakah hadits Rasul ini “di-Sunnahkan” oleh Rasulullah ? Ya di-Sunnahkan dong ! Kalau beliau masuk kamar kecil, beliau mendahulukan kaki kirinya, dan dikala keluar, beliau mendahulukan kaki kanannya. Contoh hadits lagi : Bila kamu mau minum, ucapkan Basmalah, selesai minum ucapkan hamdalah. Apakah hadits Rasul ini disunahkan juga oleh Rasul ? Ya disunnahkan donng ! Beliau mengangakat gelas ke mulut sambil mengucapkan Basmalah, selesai minum, taruh gelas di meja sambil mengucapkan hamdalah. Contoh Sunnah Rasul dari firamn Allah, diantaranya : An Akimudin, artinya : hendaklah kamu mendirikan Negara. Apakah firman Allah ini “disunnahkan” juga oleh Rasulullah ? Ya disunnahkan dong ! Beliau mendirikan Negara Islam Madinah, Negara Islam yang pertama sekali didirikan di muka bumi ini.

Dengan demikian, hadits bisa salah dalam memberitakan kepada orang lain oleh yang mendengarkan pertama atau oleh yang meriwayatkannya. Misalnya begini : Waktu Rasul berhadits ( berbicara ) dihadapan beberapa orang sahabat, ada salah seorang yang mendengarkannya sedang agak ngantuk, karena malamnya pulang meronda. Sehingga hadits yang mengatakan : Jika masuk kamar kecil dahulukan kaki kiri, menjadi : Dahulukan kaki kanan, karena sedang agak ngantuk itu tadi.

Tapi sunnah, tidak mungkin salah, karena sunnah merupakan “peragaan nyata, pempraktekkan nyata”, mata ikut menyaksikannya.

Karena itu : peribadatan Ialam yang paling benar ialah : “berpijak kepada Al Quran dan Sunnah Rasul….., bukan : “berpijak pada Al Quran dan Hadits Rasul”

  1. Perbedaan zakat dan infak

Zakat berasal dari kata Yuzaki, artinya membersihkan, tazkiyah, maksudnya membersihkan harta kita.

Pada dasarnya, seluruh harta kekayaan kita itu harus dikeluarkan zakatnya satu kali seumur kita miliki. Piring, sendok, garpu, mangkok, mobil, kursi, meja, tanah, televise, kulkas dan lain-lain. Hitung nilai uangnya berapa juta. Setelah ketahuan misalnya seratus juta rupiah, keluarkanlah zakatnya sekian persen menurut peraturan zakat dari nilai nominal tersebut. Dari mulai dibeli sampai piring itu hilang atau pecah, mobil itu dicuri orang lain, tak usah dikeluarkan lagi zakatnya. Begitu pula dari mulai dibeli sampai dijual rongsokannya ke tukang loak, televise hitam putih kita itu tak perlu dikeluarkan lagi zakatnya.

Lain halnya dengan infak. Kalau infak itu wajib dikeluarkan secara rutin tiap bulan dari segala jenis rizki yang diberikan Allah kepada kita. Berapa besarnya ? Menurut ketentuan Rasulullah, minimal uslun ( sepersepuluh ), maksimal sulus ( sepertiganya )

Ketentuan ini terjadi ketika sahabat Abu Bakar Siddiq ra akan menyerahkan seluruh ( 100% ) hartanya kepada Rasul untuk perjuangan ukhuwah Islamiyah. Rasulullah bersabda : Kalau kau serahkan seluruhnya mana untukmu dan keluargamu ? Jawab Abu Bakar : Untuk saya cukup Allah dan Rasulnya saja ! tidak boleh ! jawab Rasul, minimal uslun ( sepersepuluhnya ), maksimal sulus ( sepertiganya )

Bagaimana prakteknya ? Misalkan kita punya gaji 1 juta rupiah tiap bulan. Maka waktu terima gaji tanggal 1, keluarkanlah infaknya minimal 100 ribu rupiah ( sepersepuluhnya ) maksimal 300 ribu rupiah ( sepertiganya ), tapi harus diserahkan ke Baitulmal.

Atau misalkan begini : Tanpa diduga, bulan ini kita dapat kiriman uang dari anak kita di Amerika 5 juta rupiah. Ini pun hakekatnya rizki dari Allah. Maka keluarkanlah infaknya minimal 500 ribu rupiah ( sepersepuluhnya ), maksimal 1,65 juta rupiah ( sepertiganya ) diserahkan ke Baitulmal.

Oh pak, saya buikan pemakan gaji bulanan, tapi sebagai pedagang. Bagaimana infaknya ? Hitunglah laba bersih tiap bulan, keluarkanlah sepersepuluhnya minimal, sepertiganya maksimal. Kalau sebagai pedagang, bisa jadi laba bersih tiap bulan tidak sama, tapi caranya infak sama saja sepersepuluh atau sepertiganya.

Pak saya bukan pemakan gaji bulanan bukan pula pedagang, saya seorang petani. Cara infaknya : Misalkan anda menanam 10 pohon pisang. Waktu panen anda punya 10 tandan pisang yang matang dan bagus, tiap tandan ada 10 sisir, jadi ada 100 sisir yang bagus. Bagikanlah minimal 10 sisir kepada tetangga, maksimal 33 sisir sebagai infak pertanian.

Kenapa infak ini demikian urgen nya sampai harus dikeluarkan rutin tiap bulan untuk jenis penghasilan yang rutin bulanan ?

Karena infak ini merupakan salah satu factor sebagai “orang taqwa sejati” ( mutaqina haqqo ), sesuai firman Allah Surat Al Baqoroh ayat 2-4 sbb : Dalikal kitabu laroyba fihi hudalil mutaqin : Muttaqinal ladina, yu’minuna bil goibi, wayukimunas sholata wamimarojaknahum yunfikun dst……., atinya : Kitab ini ( Quran ) tidak perlu diragukan isinya, sebagai petunjuk hidup bagi orang taqwa. Orang taqwa itu ialah :

1. Yu’minun ( percaya ) kepada yang ghoib

2. Mendirikan sholat

3. “Menginfakkan” sebagian rizkinya yang diberikan Allah, dst

Saking urgentnya soal infak ini, sampai-sampai Rasul bersabda : Seorang muslim yang menunaikan ibadah haji, tapi seumur hidupnya tidak pernah mengeluarkan infak, maka hajinya boro-boro mabrur, diterima saja oleh Allah……, tidak!

Suatu hal yang saya merasa sangat geregetan jika membaca Quran Tafsir ialah : Kata “yunfik” selalu diterjemahkan dengan “menafkahkan”, yang seharusnya “menginfakkan”. Karenanya tidak terasa pentingnya infak tersebut karena di sebut “nafkah”. Hal lain lagi, dalam Surat Yasin ayat yang berbunyi : Wal Quranil hakim diterjemahkan : demi Quran yang berhikmah. Seharusnya demi Quran sebagai Hakim ( sebagai hakim yang memutus segala perkara kehidupan manusia muslim ). Disini diterjemahkan demi Quran yang berhikmah, padahal kata Arabnya Hakim bukan hikmat.

Kembali ke masalah Sunnah Rasul, sekarang ini kan kita kenal penyakit yang bernama AIDS. Kata orang-orang pintar ahli pengobatan penyebabnya ilah karena ganti-ganti pasangan hubungan seks lebih-lebih karena tanpa nikah. AIDS adalah singkatan dari bahasa Inggris. Tapi karena saya bukan ahli bahasa Inggris dan takut salah penterjemahannya, saya pelesetkan saja ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut : Akibat Ingkar Dari Sunnah Rasul.

Memang betul rupanya, dimana seharusnya mengadakan hubungan seksual itu dengan yang sudah kita nikahi, yang sudah syah menurut sunnah Rasul. Ini wanita yang belum kita nikahi, kia embat ! Ya jelas dong “ingkar sunnah

KATA PENGANTAR

Sebagai seorang muslim, kita sangat yakin berdasarkan ayat Al Quran, bahwa senang atau susahnya hidup di akhirat itu ditentukan oleh amal baik atau amal buruk kita sewaktu hidup di dunia ini. Ini artinya sama persis dengan perumpamaan, kalau ingin menuai hal yang baik, maka kita harus banyak menanam kebaikan. Ini mutlak dan tak mungkin ditawar lagi.

Maka karena itulah, melalui tulisan ini saya mencoba menelaah melalui pengkajian firman-firman Allah, bagaimana caranya “menanam kebaikan” tadi, agar kita bisa menuai kebaikan yang akan menjadi bekal hidup kita di akhirat nanti. Insya Allah !

Penulis,

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 3 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 6 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 10 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 12 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: