Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Arie Yanitra

Selalu Belajar Menjadi Manusia Merupakan Peranan Kehidupan

Protestan Katalisator Paham Kapitalis? Apa Hubungannya dengan Indonesia?

OPINI | 20 December 2010 | 03:33 Dibaca: 961   Komentar: 0   1

I. Pengantar singkat, Korelasi antara Gerakan Reformasi dengan Masyarakat Dunia

Pada abad ke 16, Bapak reformator Kristen [Protestan] Martin Luther membuat gebrakan terbesar dalam sejarah pergerakan-agama di dalam internal gereja-Katholik. Agenda substansi reformatisasinya, menurut analisis-sosial membawa beberapa implikasi positif terhadap Eropa, yaitu: (1) restorasi [pemulihan] masyarakat Eropa kepada peradaban kebebasan berpikir (baca. jaman pencerahan), (2) Penyadaran kembali hakekat hubungan antara gereja Katholik (baca: sebagai lembaga) dengan masyarakat Eropa, (3) Manifesto reformasi Luther menyebabkan terbukanya proses sekularisme di Eropa, (4) Terbukanya pemaknaan kembali kepada sejarah kebudayaan Eropa (khususnya konteks peradaban Helenisme yang berpengaruh pada masyarakat Eropa).[1] Tradisi homogenisme [penyeragaman dalam bidang agama yang sekaligus menghegemoni kondisi sosio-politik, sosio-ekonomi, dan sosio-religius] model gereja Roma Katholik akhirnya mencapai akhir kejayaan setelah masyarakat Eropa secara bertahap mulai melakukan retorsi [perlawanan balik] kepada setiap kebijakan yang mengekang.

Tindakan perlawanan reformasi ini pada mulanya didasarkan kepada sikap-kebencian terhadap kemunafikan para pemuka agama yang bersikap seolah-olah ’suci’, sehingga tidak heran akhirnya masyarakat Eropa pada waktu itu [sampai sekarang dalam konteks abad 21] secara bertahap melahirkan keputusan-tidak seimbang yang ‘membedakan’ bahkan cenderung melakukan segregasi [pengisolasian] antara kebijakan agama [mis: ilmu teologi, institusionalisme lembaga agama, dogmatika, dstnya] dengan peradaban manusia [khususnya pemaknaan terhadap kebebasan asasi, mis: humanisme, antroposentrisme, liberalisme, dll].

Singkat cerita, berdasarkan sejarah ternyata suka/tidak suka sejarah ekspansi Eropa (baca. Bersamaan dengan kolonialisme) akhirnya juga ikut membawa implikasi korelasi antara gerakan-Reformasi dengan masyarakat dunia [khususnya semenjak era-kolonialisme hingga era-globalisasi].[2] Inilah tahapan awal bagi pembaca untuk mengetahui dasar pemikiran penulisan paper, bahwa: “Gerakan Reformasi ternyata berhubungan bahkan mempunyai dampak dengan sebab-akibat [positif dan negatif] terhadap kondisi sosial-dunia yang berproses pada saat ini.”

II. Segmentasi [Pembelahan diri] pemikiran Reformasi

Di dunia modern setiap orang berpikir untuk mencapai keinginan materi, pemikiran ini seringkali tidak disadari sebagai akibat pereduksian ekspresi manusia (baca. Konteks Eropa) yang hampir selama (kurang/lebih) 400 tahun (mulai abad 12-16) dikekang oleh ritualisme keagamaan gereja Katholik yang menyita aspek kebebasan disemua lini [mulai dari sosio-politik, sosio-ekonomi, sains, pemikiran, dll]. Semangat inilah yang membawa orang-orang Eropa mengembangkan diri bahkan dapat dikatakan berkembang dengan membelah diri dengan pemikiran-pemikiran dan gaya hidup yang baru. Baru, dalam pengertian kita dapat melihat dengan jelas, yaitu: (1) ilmu pengetahuan berkembang (mis: penemuan teknologi, penemuan benua-benua baru, penemuan obat-obatan, dstnya), (2) perkembangan pemikiran filsafat yang menghasilkan beberapa tokoh dan pola-pikirnya yang mempengaruhi cara-pandang manusia terhadap dunia sosial, mis: humanisme (contoh: David hume dan Immanuel Kant), kapitalisme (contoh: Adam Smith dengan teori ‘pasar’-nya), sosialisme (contoh: Karl Mark), komunisme (contoh: Lenin), liberalisme dengan lahirnya The Bill of Rights di Inggris (1688), dan Revolusi Prancis (1789), dstnya.

Sifat Ontologis (masyarakat Eropa) tersebut menjadi dasar lahirnya epistemologi-modern (pasca reformasi) untuk menyelidiki hakikat kehidupan manusia di dunia. Analisa penalaran sejarah ini, penulis pandang cukup untuk menghipotesa bahwa: “Sikap dan sifat keingintahuan masyarakat Eropa mendorong eksplorasi pengembangan hal-hal baru (mencakup dunia sosial, teknologi, pemikiran, dstnya) sebagai hakikat katalisator dasar.”[3] Sikap dan sifat tersebut akhirnya juga mendorong lompatan besar pada tatanan masyarakat Eropa, peralihan kepada proses-reformasi sosial yang akhirnya melahirkan beberapa pemahaman baru yang menggegerkan dunia. Salah-satunya yaitu sebuah konsep pemahaman baru yang disebut Kapitalisme.

III. Pemahaman dasar Kapitalisme secara singkat

Menurut saya, ada tiga-ciri yang dapat membantu kita memahami konteks berkembangnya paham kapitalis, yaitu: [1] Kelas, [2] Industrialisasi, [3] Perubahan Sosial. [1] Kelas dalam pengertian positif, kurang-lebih mempunyai dua fase dasar antropologi (baca. Masyarakat Tribal): (a) ‘Kelas di internal-keluarga’. Pada dasarnya Kelas hakikat mulanya diciptakan sebagai tatanan yang mendorong anggota keluarga melakukan fungsi pekerjaan rumah sesuai dengan tanggung jawabnya [ouikos]. (b) ‘Kelas di masyarakat’ untuk mengatur agar tidak terjadi kekacauan-tanggung jawab diantara para-keluarga, Secara produktifitas, ekonomi pada mulanya difokuskan kepada pertanian dan peternakan yang dilakukan agar kebutuhan primer (khususnya sandang-pangan) agar tetap dapat terjaga. [2] Hal yang mengubah sejarah-peradaban manusia di dunia adalah revolusi-industri yang menghasilkan industrialisasi secara masif (besar-besaran). Secara positif masyarakat Eropa melakukan penemuan dalam hal teknologi yang mendorong mereka, memodernisasi cara berproduksi, [3] Perubahan sosial. Industrialisasi akhirnya menumbuhkan kesadaran untuk mengembangkan aturan-baru dalam mengorganisir struktur fungsi-sosial kemasyarakatan (tuan tanah-budak menjadi majikan-buruh).[4] Langkah selanjutnya yang menjadi pertanyaan: “Apakah ketiga hal tersebut dapat menunjukkan kepada pembaca pada paham kapitalis? Menurut Max Webber, kita harus hati-hati mempergunakan terminologi istilah identifikasi-kapitalisme yang identik dengan sikap rakus. Max Webber mengatakan bahwa:

Sikap rakus yang tidak terbatas karena belum memperoleh keuntungan tidaklah identik sedikitpun dengan kapitalisme, dan malahan bukan semangatnya. Kapitalisme bahkan mungkin identik dengan pengendalian atau pengekangan, atau setidak-tidaknya identik dengan suatu watak rasional, dari sesuatu keinginan-keinginan rasional. Akan tetapi kapitalisme secara pasti identik dengan pencarian keuntungan (profit, dan keuntungan yang dapat diperbaharui untuk semuanya dengan usaha-usaha kapitalistis yang rasional dan yang dilakukan secara terus menerus. Karena memang demikian seharusnya; dalam suatu tatanan masyarakat kapitalistis secara keseluruhan, suatu usaha kapitalistis individual yang tidak memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengambil keuntungan pasti akan mengalami malapetaka, yaitu kehancuran.[5]

Secara sistematis bahwa pola-kapitalistis masyarakat industri dalam paham kapitalisme, menunjukkan sisi-positif untuk memperoleh keuntungan secara damai demi distribusi-profit yang berakibat terjadinya sebuah keseimbangan-neraca. Jadi dorongan memperoleh ‘pendapatan’ lebih didasarkan pada perhitungan rasional untuk mempersiapkan ‘keadaan ketika terjadi kesukaran’.[6]

Jadi, hakikat kapitalisme sama sekali berbeda dengan “Sifat dan sikap kerakusan manusia.”[7] Sifat dan sikap tersebut sudah ada semenjak kita lahir di dunia. Secara obyektif, kita dapat melihat pola tersebut menjadi dasariah ‘keinginan tak terbatas’ sepanjang sejarah umat manusia, mulai dari tukang becak, pelayan restoran, mahasiswa teologi, pendeta, dosen hingga presiden. Maka pemahaman dasar kapitalisme model-Webber inilah yang akan membawa kita kepada tulisan selanjutnya.

IV. Protestan, Kapitalisme dan Ketamakan Manusia

E. F Schumacher pada tahun 1973 mempopulerkan kebenaran yang tidak enak dalam bukunya yang terkenal Small is Beautifull dengan sub-judul ’suatu studi tentang ekonomi yang mengganggap seakan-akan manusia itu ada artinya’ (a study of economics as if people mattered). Ia menulis tentang ‘kegagalan membedakan antara pendapatan dan modal di mana pembedaan ini justru menentukan.[8] Yang mau dikatakan ternyata masalah ‘pendapatan’ pada sisi ekonomis juga berakibat pengerukan ‘modal’ yang berasal dari alam (ekologis). Disamping hal tersebut ‘pengerukan-pendapatan’ kaum kapitalis juga mengisyaratkan ‘pengurangan-pendapatan’ para kaum pekerja.[9] Sehingga disinilah letak permasalahan tentang kapitalisme model Webber secara praksis, apa yang membedakan hakikat paham kapitalis dengan “sifat dan sikap kerakusan manusia?”

Analisis-obyektif terhadap sifat produksi-ekonomi yang menjadi ciri-khas kapitalisme membuat keterasingan pihak-tereksploitasi (mis: petani, buruh, mahasiswa, dosen, pedagang dll).[10] Dalam ranah-praksis, metode kapitalisme demi meningkatkan produktivitas ekonomi bagi tujuan ‘pendapatan’ ternyata membuat manusia [subjek] berubah menjadi ‘objek-benda’. Akumulasi paling menyedihkan ternyata bukan masalah perniagaan [peningkatan atau berkurangnya jumlah kekayaan semata], tetapi juga menghancurkan tingkat “kemanusiaan-manusia”. Cakupan rasional/tidak rasional suatu konsepsi ekonomi khususnya yang dipengaruhi kapitalisme ternyata pada prakteknya menjadi lingkaran kekerasan-ekonomi terhadap masyarakat-kapitalis dan paham kapitalis itu sendiri. Oleh karena yang ikut mendukung penambahan-pendapatan dengan pihak yang berkurang-pendapatannya menjadi korban-kebiadaban sistem yang memaksa mereka semua berlaku seperti ‘benda’. Dari hal-hal tersebut kita dapat mengidentifikasikan bahwa: “Kapitalisme menjadi paham yang bukan saja lahir, dan berproses dalam sejarah peradaban manusia namun paham tersebut juga mempunyai peranan dalam mendukung sifat dan sikap ketamakan manusia.”

Ciri-khas gerakan Reformasi dan peranan kaum Protestan di Eropa ikut memacu kondisi berkembangnya epistemologi-modern yang meninggalkan teosentrisme. Sejarah mencatat bahwa Gerakan Protestan memang mengusahakan agar konsep-Teologi sungguh-sungguh dapat dihadirkan untuk membantu perkembangan sejarah kemanusiaan dan manusia itu sendiri. Sehingga dalam perkembangannya ciri khas Protestan lebih berorientasi kepada antroposentris [antroposentrisme] mengakibatkan Protestan menjadi katalisator Kapitalisme. Tantangan yang harus dijawab: “Setelah Protestan menjadi katalisator Kapitalisme, apakah Protestan mampu menjadi katalisator penyeimbang Kapitalisme?” Untuk itu lebih baik kita mulai menganalisa dari konteks gerakan Protestan di Indonesia.

V. Hakikat Gerakan Protestan Indonesia sebagai Katalisator Penyeimbang Kapitalisme

Webber dalam tesisnya secara konkrit melukiskan bahwa: “orientasi pada pola-pikir tradisional yang berkembang pada masyarakat Protestan pada abad ke 16-17 memacu semangat Kapitalisme.” Konsepsi mengenai paradigma tersebut dapat kita lihat dari karyanya.[11] Hanya saja cara berpikir yang mengabaikan data, fakta, peta, dan situasi serta kondisi nyata dan konkret Indonesia sendiri dengan latar belakang sejarah, bukanlah cara berpikir ilmiah melainkan textbook thinking, kajian-hafalan, yang justru tidak ilmiah dan menyesatkan serta tidak akan memecahkan masalah Indonesia ini.[12] Hal itu juga berlaku untuk memecahkan kebuntuan kaum Protestan terhadap masalah sistem-ekonomi model kapitalis-Eropa dan pengaruhnya bagi Indonesia. Untuk itu dalam memecahkan permasalahan hakikat gerakan Protestan sebagai katalisator Kapitalisme, kita harus melihat beberapa kecenderungan contoh-model yang hari ini berkembang secara kontekstual dan digunakan oleh para-Teolog Indonesia:

[1] Model Praksis

Pada dasarnya model ini secara umum merupakan metode-berpikir gaya Karl Mark. Pola ini dikembangkan oleh beberapa Teolog dengan beberapa penekanan pada ruang yang luas bagi pengalaman personal dan komunal baik pemahaman budaya atas iman maupun pemahaman perspektif sosial.[13] Hal ini berarti lebih kepada respon dari pihak lokal terhadap gerak ruang yang mereka miliki. Dalam hal-praksis di Indonesia, kaum-agamawan Protestan cenderung mendorong jemaat setempat menjadi lebih peduli terhadap konteks sosio-masyarakat di tempat mereka berjemaat.

[2] Model Sintesis

Hakikat gerakan Protestan sebagai katalisator Kapitalisme dalam batasan tertentu, disebabkan oleh dinamika sejarah yang berlaku ‘pasang’ pada saat itu. Pasang, dalam pengertian menghadapi lingkungan sosial masyarakat Eropa yang beralih dari keterkekangan doktrin-doktrin agama yang tampak super-metafisika di sintesiskan menjadi doktrin-doktrin material yang lebih masuk-akal secara antropologis. Disinilah model ini menuntut peranan-peranan keterbukaan dan dialog terhadap paham kapitalis

Disamping kedua model tersebut, sebenarnya ada satu model yang menjadi tradisi-Protestan dan itu berpengaruh dalam mereka berteologi hingga hari ini, yaitu yang ketiga adalah [3] model antropologi. Namun gado-gado penerapan metode berpikir dan berpraktek para teolog Indonesia menjadi katalisator penyeimbang kapitalisme kadangkala menjadi kurang efektif dan berhasil oleh karena kurang-menyoroti akibat dari produk kapitalisme dalam perbedaan perspektif antara kepentingan pemerintah Hindia Belanda dengan konteks usaha zending untuk menghasilkan produk teologi-lokal dan misi PI Indonesia.

VI. Konteks Historis Kapitalisme di Indonesia

Sebelum agama Kristen [Protestan] masuk ke Indonesia melalui perdagangan yang dibawa oleh orang-orang Belanda melalui Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) telah terlebih dahulu ada agama-agama lama, mis: Hindu, Budha, dan Islam yang telah mengakar dalam setiap pola interaksi kebudayaan-religius masyarakat Indonesia. Misi PI (Pekabaran Injil) yang dibawa-pun seringkali selalu dikaitkan dan diidentifikasikan dalam hubungan muatan sosio-politis, yang membawa kepentingan motif-misi: (a) motif-misi imperialis (menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang patuh dan tunduk kepada kepentingan ‘penjajah’), (b) motif-misi kolonialisme (membawa sumber daya manusia Barat yang mempunyai tradisi dan kebudayaan unggul dibandingkan dengan bangsa Indonesia). Bukannya penulis mempertanyakan keabsahan-historitas hal tersebut, namun bantahan identifikasi ini jelas dapat kita lihat bahwa dalam beberapa hal, seperti yang Van den End ungkapkan:

Sebagai pedagang, orang-orang Belanda tidak mengutamakan pekabaran Injil. Mereka mengakui kewajiban Negara (di Indonesia: VOC) untuk mendukung kehidupan gereja pada umumnya dan usaha pekabaran Injil pada khususnya.[14]

Tetapi disisi lain sesungguhnya yang menjadi prioritas ‘tetap’ kepentingan utama adalah proteksionis-ekonomi (sifat perlindungan modal-kapital) ‘perusahaan dagang Belanda’. Van den End bahkan mengungkapkan bahwa pernah ada orang-orang Herrnhut yang mau melamar untuk mengabarkan Injil di Indonesia namun ditolak oleh VOC.[15] [catatan:Tulisan ini pernah diungkapkan penulis dalam tugas misiologi]

Inilah konteks pembahasan kita yang konkret, Pada faktanya, pengaruh paham kapitalisme hakikatnya bukan menjadi satu-paket dengan agama Kristen [Protestan] yang masuk di Indonesia. Motif Pekabaran Injil [PI] sebenarnya hanya dimaksudkan sebagai alat untuk memberitakan Yesus Kristus (baca. Motif sosio-religius). Dari analisa tadi kita dapat melihat perbedaan bahwa masyarakat-Kristen yang dilayani oleh zending-zending non-profit tidak bermaksud dikabarkan ataupun diajarkan paham kapitalis. Sehingga berdasarkan data dan fakta kemungkinan-besar agama Kristen [Protestan] di Indonesia tidak pernah bermaksud difungsikan menjadi katalisator kapitalisme di Indonesia, apalagi menjadi subjek pelaku Kapitalisme. Hal ini yang membedakan konteks antara masyarakat Kristen [Protestan] Indonesia dengan masyarakat Kristen [Protestan] Eropa.

VII. Peranan umat-Kristen menjadi Katalisator Penyeimbang Kapitalisme di Indonesia

Tulisan ini sebenarnya ditujukan sebagai penutup tulisan sekaligus saran-tindakan konkret per-individu namun bukan sebagai penutup harapan agar ’sifat dan sikap ketamakan’ manusia mampu direduksi menjadi ’sikap dan sifat kepedulian’.[16] Kritik-sosial harus dilihat bukan sebagai pembedaan mis: teosentris/antroposentris, moderni/kuno, kanan/kiri maupun kapitalis/sosialis, dstnya. Habermas menyarankan konsekuensi proses rasionalisasi untuk memandang kapitalisme bukan sebagai momok maupun musuh, namun bagaimana kita menyetujui konsep rasionalisasi yang bertanggung jawab.[17]

Teolog tidak selalu harus melakukan perubahan sosial dengan skala tindakan besar [berangan-angan dengan imaginer] dan terlalu textbook thinking hanya dengan meretafsir ulang dan berhermeneutik-ria atas Alkitab. Karena pada hakikatnya dalam konteks ini, lawan kita adalah pengaruh-struktural yang tidak kelihatan dari masyarakat yaitu ’sifat dan sikap ketamakan manusia yang tak terbatas’. Max Webber menyatakan dengan kejujuran bahwa Kapitalisme sudah menjadi bagian yang utuh di dalam kehidupan umat manusia dan merasuk kedalam tingkah laku hidup [budaya hidup] dan cara pandang lahiriah. Bagaimana cara mengatasi hal tersebut? Bagi penulis, Yesus telah mengajarkan kepada kitauntuk; [1] Menjalani hidup dengan penuh-kesederhanaan, [2] Lebih peduli terhadap sesama dalam kompleks-sosial, [3] Serta tidak menjadi serupa dengan keinginan mereka yang tamak, ketiga hal ini dalam skala kecil cukup untuk menjawab solusi permasalahan kapitalisme. Penyadaran inilah yang seharusnya dilakukan terus-menerus oleh komunitas Kristen [Protestan] yang bertanggung jawab agar dapat menjadi garam dan terang dunia.


[1] Catatan: Karena terbatasnya halaman paper, untuk memahami pemaparan penulis sebaiknya pembaca dapat melihat kajian bacaan ‘lebih lanjut’, buku-buku dasar yang sekiranya dapat membantu melihat konteks sejarah, penulis menyarankan agar pembaca diantaranya pembaca membaca buku: Dr.H. Berkhof dan Dr. I.H. Enklaar. 2002. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK.

[2] Globalisasi sebenarnya terjadi sudah sejak lama oleh hubungan perdagangan intensif antara ketiga Benua yaitu: Eropa (khususnya semenjak penaklukan Aleksander Agung dan dilanjutkan pada jaman kekaisaran Romawi), Afrika (contoh: Mesir), dan Asia (contoh: Babilonia, Cina dan India), namun hubungan antara ketiga benua betul-betul dapat terjalin dan bisa dikatakan proto-tipe globalisasi (dunia tanpa batas) dapat berkembang dikarenakan beberapa faktor: (1) sifat ekspansif-penaklukan(isme) Mongol dan kemudian dilanjutkan oleh sifat ekspansif-kolonialisme (pasca Reformasi) Eropa (dalam artian positif) yang mencoba menemukan rute baru dalam perdagangan-ekonomi ke Asia semenjak kurang-kondusifnya jalur-sutra oleh karena pertikaian agama yang berlarut-larut (baca. Perang salib antara Eropa dan Timur Tengah, mencakup Afrika Utara). (2) Eksplorasi para-petualang Eropa terhadap “The Unknown World” (Benua-benua Baru).

[3] ‘Katalisator’ mempunyai pengertian sebagai alat (zat) untuk mempercepat reaksi kimia (persenyawaan). Pada tulisan ini, kata tersebut sengaja digunakan sebagai kata-kunci untuk menunjukkan hakekat etimologi-kata dan sifat dari ‘katalisator’.

[4] Penulis mencatat ada perubahan ciri-signifikan ketika berbicara peralihan “tuan tanah-budak” menjadi “majikan buruh”. Pada masyarakat pra-industri, budak adalah kepemilikan penuh, dimana [sebagian besar] hakikat dasarnya seringkali tidak memiliki acuan ‘hak’. Di dalam struktur masyarakat-industri, buruh masih memiliki hak-acuan yaitu upah.

[5] Max Webber. 2007. Etika Protestan dan semangat kapitalisme.Yogyakarta: Wangun Printika Yogyakarta. Hal, 24.

[6] Catatan: Untuk dapat memahami pola-pikir paham kapitalisme secara netral, penulis menyarankan para pembaca melihat teori-ekonomi yang lahir pada konteks-masyarakat industri Eropa, mis: buku Adam Smith (The Wealth of Nation).

[7] Band: Max Webber (Etika Protestan dan semangat kapitalisme). Hal, 23.

[8] Baca lebih lanjut: John Stott. 1994. Isu Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani: Penilaian Atas Masalah Sosial dan Moral Kontemporer. Jakarta: Yayasan Sosial Bina Kasih/OFM. Hal, 147-149.

[9] Band: David Millwood. 1977. The Poverty Makers. Geneva: World Council of Church.

[10] Band: Anthony Giddens. 1986. Kapitalisme dan Teori sosial modern: Suatu analisis karya-tulis Marx, Durkheim, dan Max Webber. Jakarta: Universitas Indonesia. Hal, 12.

[11] Baca: Webber (Etika Protestan dan semangat kapitalisme). Hal, 101-189.

[12] Diungkapkan oleh Tan Malaka. Lebih lanjut baca: Tan Malaka. 1999. Madilog: Materialisme Dialektika Logika. Jakarta: Pusat Data Indikator. Hal, xv.

[13] Band: Stephen B.Bevans. 2002. Model-Model Teologi Kontekstual. Flores: Ledalero Maumere. Hal, 143.

[14] Dr Th. Van den End. 2000. Ragi Cerita 1: Sejarah gereja di Indonesia tahun 1500-1860. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, Hal. 33-34.

[15] Ibid, Hal. 34.

[16] Catatan, mengenai kata ’sifat dan sikap kepedulian’ [1] Komunitas Kristen di Indonesia dengan beberapa oknumnya [celakanya jumlahnya sangat banyak?] telah menjadikan sebagian besar komunitas Kristen yang mengelola lembaga-lembaga sosial berdasarkan profit-oriented (sifat dan sikap rakus manusia) [2] Para pendeta juga menjadi pelaku-pelaku KABIR [Kapitalis-Birokrat] yang bekerja oleh karena upah atau pendapatan dan bukannya kepedulian seperti yang Yesus ajarkan [3] Penulis juga belum dapat menyelesaikan rumusan yang dapat menjadi alternatif karena problematika disini adalah watak dasar manusia yang cenderung tamak yang kemudian berevolusi menjadi teori dan konsepsi ketamakan (baca. Salah satunya adalah munculnya paham kapitalis).

[17] Band: tulisan B, Kieser SJ di buku Teologi & Praksis Komunitas Post Modern. Budi Susanto (ed). 1994. Yogyakarta: Kanisius. Hal, 179-198.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Gaharu di Hutan Perbatasan …

Dodi Mawardi | | 29 November 2014 | 11:18

Jokowi Tegas Soal Ilegal Fishing, …

Sahroha Lumbanraja | | 29 November 2014 | 12:10

Menjadikan Produk Litbang Tuan Rumah di …

Ben Baharuddin Nur | | 29 November 2014 | 13:02

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak? …

Wahyu Indra Sukma | | 29 November 2014 | 05:44

Ikuti Blog Competition ā€¯Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 10 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Catokan Favorit Saras #7 …

Uthu Santuhan | 8 jam lalu

“Tukang Sayur Nekat Jadi …

Nanda Nastiti | 8 jam lalu

Kebelet Nikah? Oh, No! Belum Saatnya! …

Shabrina Aulia Tsaa... | 8 jam lalu

Isu Hot Tentang Buku Digital …

Bambang Trim | 8 jam lalu

Memang Sudah Saatnya Rakyat yang Membangun …

Agus Nofianto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: