Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Joshua Emanuel

suka blogging, sering nongkrong depan internet, umur 30 th, mengelola bisnis sendiri

Nikah Beda Agama di Indonesia

OPINI | 11 December 2010 | 13:05 Dibaca: 582   Komentar: 6   0

Nikah, tentu sudah menjadi tujuan hidup dari hampir semua manusia di bumi, terkecuali bagi agama katolik yang mana para Imam gereja tidak di perbolehkan menikah, itu memang suatu aturan yang sudah turun temurun di wariskan oleh gereja katolik.

Kembali ke topik .
Di indonesia, sedikitnya ada 6 Agama ( dulu ada lima, tapi kemudian di tambah satu lagi pada masa kepemimpinan Bpk Abdul rahman wahid, Alm  ), dan jumlah penduduk di indonesia lebih dari 200 Juta jiwa dengan bentuk keyakinan yang berbeda beda pula, yaitu 6 agama yang di akui di indonesia menurut undang undang. Seiring dengan berkembangnya kehidupan perkotaan, serta semakin majunya teknologi, maka ruang lingkup sosialisasi dari setiap individu menjadi begitu luas. mulai dari yang sekedar hijrah ke kota untuk bersekolah, sampai dengan yang bertujuan merubah nasib yanitu menata karir .

Pada kehidupan perkotaan, termasuk juga kehidupan pedesaan di jaman sekarang, setiap individu yang merasa saling tertarik dan memiliki niat baik untuk membina suatu hubungan pribadi , tentu banyak yang berlatar belakang dengan agama yang berbeda.  tapi yang namanya cinta, pasti bisa mengalahkan segalanya, mungkin yang tadinya terlau fanatik , lau kemudian cara pandangnya mulai berubah hingga tidak lagi melihat perbedaan agama sebagai suatu hambatan untuk membina sebuah hubungan yang bersifat pribadi .

Melihat ringkasan di atas, sebagaimana kita ketahui, bahwa, di indonesia ( kalu saya tidak salah baca ) belum ada suatu aturan hukum ataupun undang undang tambahan  yang membolehkan pernikahan beda agama di sahkan menurut hukum. Tapi, kalau di Luar negeri, sudah banyak negara yang membolehkan pernikahan beda agama.
Ini sangat penting, karna mengingat bahwa keyakinan beragama adalah bagian dari hak azasi manusia yang tak bisa di pisahkan oleh siapapun dari individiu manapun .

Saya Melihat, Banyak yang menjadi korban dari ketidak jelasan mengenai aturan nikah beda agama ini, yang mana, kebanyakan salah satu pihak harus mengikuti si pria atau mengikuti si wanita dalam hal agama, demi mempermudah pengurusan dokumen pernikahan yang sah. Kalau sudah begini, secara tidak langsung tentu ini sudah masuk kepada pelanggaran hak azasi manusia, karna sudah secara tidak langsung memaksa orang lain untuk mengikuti keyakinan / agama dari salah satu pasangannya.

Imbasnya adalah, ketika menyandang status agama yang baru, pasti ada gejolak bathin bagi individu yang terpaksa harus berpindah agama mengikuti sang suami atau istri. dan, tentu saja, urusan berbicara dengan tuhan secara perlahan mulai terusik dan mungkin akan terabaikan.

Semoga ini bisa menjadi sedikit masukan

Joshua E

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 22 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 24 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 20 December 2014 09:14

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 20 December 2014 08:49

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 20 December 2014 07:59


Subscribe and Follow Kompasiana: