Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Rajab Ritonga

Saya seorang wartawan karir di kantor berita Antara dengan posisi saat ini Direktur SDM dan selengkapnya

Jumatan di Masjidil Haram

REP | 02 December 2010 | 07:22 Dibaca: 239   Komentar: 2   0

Jumatan di Masjidil Haram

12912744611668740141

Jemaah di halaman Masjidil Haram

Dear pilgrim, Civil Defense is warning that Makkah Holy Mosque (Al Haram) is full. For your safety please divert to another near mosque.

Pesan singkat (SMS) dari Pertahanan Sipil (Hansip) kota Makkah itu dikirim ke seluruh jemaah haji dalam bahasa Inggris dan Arab saat mendekati waktu sholat Jumat, 12 November 2010 yang bertepatan dengan 6 Zulhijah 1431 Hijriah, atau tiga hari menjelang wukuf di Padang Arafah. Rupanya, Masjidil Haram yang memiliki daya tampung 1.000.000 jemaah hari itu tidak mampu lagi menampung 2.000.000 jemaah haji yang sudah berkumpul di Makkah, menunggu keberangkatan ke Arafah. Mereka semua ingin sholat Jumat di Masjidil Haram, sehingga suasananya sangat padat sekali, nyaris tidak bisa bergerak.

Jemaah perempuan sebenarnya tidak wajib menjalankan sholat Jumat. Namun siapa yang ingin melewatkan sholat di Masjidil Haram? Tidak satupun. Sebab sholat di masjid ini lebih utama dari 100.000 kali di masjid lain. Itu sebabnya, lelaki dan perempuan umpel-umpelan di masjid tertua di dunia yang dibangun Nabi Muhammad SAW itu. Semua tempat penuh, bahkan hingga sampai pelataran toko-toko yang berada di luar kompleks masjid.

Mengetahui sholat Jumat di Masjidil Haram pasti penuh, saya bersama tiga teman lainnya sudah berangkat dari Wisma Misi Haji Indonesia di kawasan Shisha, sekitar lima kilometer dari Haram pada pukul 10.00 waktu Makkah. Benar saja, untuk mencapai jarak yang dekat itu kami perlu waktu 45 menit menumpang mobil kedutaan yang merayap di antara kepadatan jemaah.

Kami bertiga turun di dekat istana kerajaan yang berada di sebelah kiri pintu masuk King Abdul Aziz. Masya Allah, waktu sholat Jumat masih 1,5 jam lagi, namun halaman luar Masjidil Haram sudah penuh sesak nyaris tidak bisa ditembus untuk masuk ke dalam masjid. Askar yang berjaga bahkan sudah memblok halaman itu dengan tali pembatas ke dalam masjid. Mereka mengarahkan jemaah untuk menjauh dari halaman masjid, mencari tempat lain di sekitar halaman masjid.

Kami lalu memutuskan untuk sholat Jumat di lantai empat Hotel Hilton yang berada di batas akhir halaman masjid di sebelah kanan. Di hotel berbintang itu, lantai empat digunakan untuk sholat kaum lelaki, sedangkan di lantai limanya untuk perempuan. Dinding dua lantai hotel itu berupa kaca tembus pandang, sehingga pandangan jemaah tetap bisa tertuju ke Masjidil Haram. Namun, tidak mundah untuk mencapai hotel sebab kami harus melintasi halaman masjid yang luas namun dipadati jemaah.

Jemaah sudah menduduki halaman masjid, tidak peduli dengan sinar matahari yang menyengat. Polisi yang bertugas juga sudah memblokir dengan tali pembatas tempat-tempat jemaah yang sudah sesak untuk menutup arus manusia yang berusaha mengarah ke dalam masjid atau mengisi shaf-shaf yang sudah padat.

Akal-akalan ala Indonesia lantas digunakan. Tidak berhasil menerobos tali pembatas, kami kembali melakukannya di antara petugas yang lalai. Setelah berada di dalam shaf jemaah yang duduk, maka kami berjalan di muka shaf menuju arah hotel. Cara itu efektif, sebab kalau berjalan mengikuti jalan yang dibentuk polisi, di antara dua pembatas selain padat juga akan sangat lama.

Strategi yang dilakukan dengan cara pintas itu berhasil mendekatkan kami ke hotel, namun rasanya tidak tega juga harus melangkahi jemaah yang ada kalanya sedang sholat. Tetapi itulah yang terjadi. Dengan bersusah payah akhirnya kami bisa mencapai lantai empat hotel Hilton pukul 11.00, artinya kami harus menunggu selama satu jam di dalam hotel yang ber AC dingin itu. Lumayanlah, sholat di sana daripada di halaman masjid yang penuh sesak dan panas terpapar matahari.

Sementara kami “nyaman” berada di hotel, perjuangan teman yang lain termasuk seorang kyai haji terkenal di tanah air lebih “berwarna”. Mereka berangkat ke Masjidil Haram pukul 11.00 lebih harus merasakan “penderitaan” sebab mobil sudah terhalang masuk ke kawasan masjid. Bahkan mobil mereka akhirnya hanya bisa mencapai terowongan Mahbasjin yang menuju Masjidil Haram.

Rombongan Pak Kyai harus rela berjalan kaki 1,2 km sepanjang terowongan bersama jemaah lainnya yang menyemut sebelum kemudian sholat Jumat di pelataran toko setelah keluar dari terowongan. “Kami sholat tidak melihat masjid, dan hanya mendengar suara imam,” cerita teman saya itu.

Kembali ke laptop. Selesai sholat, perjuangan untuk kembali ke titik penjemputan juga tidak mudah. Kami menunggu 30 menit di dalam masjid dengan harapan kepadatan jemaah akan berkurang. Ternyata tetap tidak mudah untuk melintasi halaman masjid menuju depan hotel Le Meredien.

Kami dengan sabar harus menunggu mobil yang akan menjemput, yang baru bisa menembus keramaian itu sekitar pukul 15.30 waktu Makkah. Saat menunggu mobil jemputan, saya asyik menyaksikan ulah manusia, termasuk ojek motor yang tiba-tiba bermunculan. Ternyata di Makkah, juga ada ojek je.

Makkah, 12 November 2010.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Kapal Feri Karam, 300-an Siswa SMA Hilang …

Mas Wahyu | | 17 April 2014 | 05:31

Tawuran Pasca-UN, Katarsis Kebablasan …

Giri Lumakto | | 17 April 2014 | 09:09

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 4 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 5 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 5 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: