Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Makalah Perbandingan Madzhab Fiqih

OPINI | 25 November 2010 | 21:11 Dibaca: 4934   Komentar: 0   0

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam masyarkat kita di Indonesia ini berkembang berbagai macam aliran yang berkenaan dengan masalah fiqih. Kendati mayoritas umat Islam mengaku bermadzhab Syafi’i, tetapi Madzhab lain pun sedikit banyak ada pengaruhnya terhadap umat Islam di Indonesia. Pemikiran ini di dasarkan atas kenyataan- kenyataan yang terjadi dalam masyarakat kita sehari-hai, bahwa ada saja terlihat perbedaan pendapat yang berkenaan dengan masalah furu’ (Cabang), baik mengenai Ibadah, Mu’amalah dan lain-lainnya[1].

Untuk mempersamakan perbedaan yang ada itu maka kita di bekali dengan mata kuliah Perbandingan Madzhab, dengan bekitu kita diharapkan menjadi penengah yang dapat mempersatukan perbedaan pendapat selama ini.

Dalam tulisan singkat nan sedehana ini kami akan mencoba sedikit menguraikan tentang khilaf (perbedaan) yang terjadi pada masalah Ibadah.

Kita tentu tahu bahwa sholat adalah pangkal dari segala ibadah. akan tetapi, tidak sedikit ikhtilaf ( Perbedaan) di anatar pendapat para Imam Mujtahid mengenai Rukun, Syarat maupun tatacaranya. untuk memperjelas pembahasan maka kami tidak membahas semua ikhtilaf ( perbedaan) yang begitu banyak meski baru dalam hal Ubudiyah ( Sholat ). Kemudian untuk lebih spesifik dalam pembahsan nanti kita akan mengambil rukun sholat yaitu Hukum membaca Al-Fatihah menurut para Imam Madzhab terutama yang empat.

B. RUMUSAN MASALAH

Yang menjadi fokus utama dalam pembahasan makalah ini ya itu tentang hukum membaca surat Al-fatihah dalam sholat fardlu maupun sunah, menurut pandangan imam Madzhab yang empat.

C. TUJUAN PENULISAN

Yang menjadi tujuan utama dalam penyusunan makalah ini ya itu :

1. Gunan memenuhi tugas-tugas terstruktur Matakuliah Perbandingan Madzhab Fiqih

2. Dari membaca dan mendiskusikan makalah ini, tentang perbedaan pendapat dalam hukum membaca surat Al-Fatihah, di harapkan mahasisiwa lebih toleran terhadap orang-orang yang berbeda pendapat ( madzhab ).

3. Agar mahasiswa mampu menjadi penengah dari pertanyaan seputar perbedaan pendapat mengenai hukum-hukum syari’at, maupun hukum-hukum yang lainnya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SHALAT

Shalat menurut istilah bahasa berarti: do’a ( memohon) sedangkan menurut pengertian syara’ sebagaimana kata imam Rafi’i shalat ialah : ucapan-ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan ditutuup dengan salam disertai beberapa syarat yang sudah ditentukan[2].

Asal diwajibkannya sholat yaitu berdasarkan firman Allah :

(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ……………….

Artinya : Dan Dirikanlah shalat. ( QS. Al-Baqoroh : 43)

Dari devinisi di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa sholat ialah suatu perbuatan yang mengandung do’a yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam disertai dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan (Rukun)

B. RUKUN SHOLAT

Rukun ialah hal yang harus dikerjakan kalau tertinggal, maka batal perbuatan itu[3] ( tidak sah). jadi hal-hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam sholat disebut rukun seperti :

1. Niat

2. Berdiri

3. Takbirotul Ihrom

4. Membaca Fatihah

5. Ruku Dengan Tuma’ninah

6.

3

I’tidal dengan Tuma’nonah

7. Sujud dengan Tuma’ninah

8. Duduk diantara dua sujud dengan tuma’ninah

9. Duduk Akhir, Membaca syahadat dan sholawat pada Nabi

10. Salam yang pertama dan hendak keluar ( Selesai )

Rukun-rukun shholat seperti yang tersebut diatas adalah rukun sholat menurut madzhab Syafi’i. Seperti sebelumnya telah kami jelaskan dalam latar BAB I bahwa pembahasan kami tertuju pada satu rukun sholat yang menjadi Ikhtilaf itu. Yaitu hukum membaca Al-fatihah dilihat dari sudut pandang imam Mdzhab yang empat.

C. DALIL - DALIL MEMBACA AL-FATIHAH DALAM SHOLAT JAMA’AH

Banyak sekali perbedaan mengenai Membaca Fatihah dalam sholat, disini kami mengutip beberapa terjemah hadist yang menjadi dasar dari perbedaan pendapat tersebut. Adapun dalil-dalilnya yaitu :

1. Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi

لاَ صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَاُ بِفَا تِحَةٍ الْكِتَبِ (رواه البخارى وسلم)

Artinya : Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Al-Fatihah ( H.R. Bukhori & Muslim)[4]

2. Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi

لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَايَقْرَاُالرَّجُلَ فِيْهَا بِفَا تِحَةِ الْكِتَبِ (رواه الدارقطئ)

Artinya : Shalat tidak cukup ( tidak sah), di mana orang tidakk membaca Fatihah ( Daruquhtni)[5]

3. Terjemah Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW selesai dari shalat yang beliau mengeraskan bacaannnya. Lalu beliau bertanya, “Adakah diantara kami yang ikut membaca juga tadi?”. Seorang menjawab,”Ya, saya ya Rasulullah SAW”. Beliau menjawab,”Aku berkata mengapa aku harus melawan Al-Quran?”. Maka orang-orang berhenti dari membaca bacaan shalat bila Rasulullah SAW mengeraskan bacaan shalatnya (shalat jahriyah).” (HR. Tirmizy)[6].

4. Terjemah Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi

Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah SAW shalat mengimami kami siang hari, maka bacaannya terasa berat baginya. Ketika selesai beliau berkata,”Aku melihat kalian membaca di belakang imam”. Kami menjawab,”Ya “. Beliau berkata,”Jangan baca apa-apa kecuali Al-Fatihah saja“.( Ibnu Abdil berkata bahwa hadits itu riwayat Makhul dn lainnya dengan isnad yang tersambung shahih).

5. Terjemah Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi

Dari Jabir dari Rasulullah SAW berkata,”Siapa shalat di belakang imam, maka bacaannya adalah bacaan imam(HR. Ad-Daruquthuny dan Ibnu Abi Syaibah)

6. Terjemah Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi

Apabila imam membaca maka diamlah(HR. Ahmad)

Dilihat dari begitu banyaknya dalil Hadist yang menyebabkan perbedaan dalam hukum membaca Surat Al-Fatihah dalam Sholat. Untuk lebih jelasnya kami uraikan beberapa pendapat Imam Madzhab di bawah ini

D. HUKUM MEMBACA AL-FATIHAH DALAM SHOLAT JAMA’AH MENURUT FUQOHA (Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi)

Untuk lebih memperjelas bagaimana perbedaan pendapat serta argumen dan dalil-dalil yang menjadi pegangan Imam Mdzhab kami rinci sebagai berikut.

1. Madzhab Hanafi

Menurut pendapat mdazhab ini membaca di belakang imam baik al-fatehah atau surat yang lain hukumnya makruh yang mendekati haram, baik di sholat jahr atau siri. dasar mereka adalah sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam.

مَنْ كَانَ لَهُ اِمَامُ فَقِرَاءَة ُاْلإِ مَامَ لَهُ قِرَاءَةٌ

Artinya : “barang siapa yang mempunyai imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya.” (HR Ibnu Majjah dan yang lainnya - Hadist Dho’if [lemah])[7]

Dari keterangan pendapat Madzhab Imam Hanfi mengatakan bahwa siapa yang mempunyai imam maka bacaan imam adalah bacaan baginya. Secara tidak langsusu Makmum tidak boleh membaca apapun di belakang imam.

2. Mazhab Syafi’i

Menurut Mazhad Syafi’i Membaca al-fatehah adalah wajib hukumnya bagi setiap makmum di belakang imam. kecuali pada sholat jahr, maka diam mendengarkan bacaan imam lebih wajib. dasar meraka adalah hadist berikut :

لاَ صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَاُ بِفَا تِحَةٍ الْكِتَبِ (رواه البخارى وسلم)

Artinya : Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Al-Fatihah ( H.R. Bukhori & Muslim)

Dari keterangan pendapat Madzhab Imam Syafi’i membaca Surat fatehah di belakang imam yang sholat siri ( Bacaannya Pelan) maka Wajib hukumnya membaca fatehah tetapi jika sholat jahr maka lebih wajib mendengarkan Bacaan imam.

3. Madzhab Maliki

Menurut Pendapat Madzhab Imam Maliki Membaca di belakang imam bagi makmum adalah sunnah hukumnya pada sholat siri. dan pada sholat jahr maka makruh hukumnya.

Jadi menurut pendapat madzhab ini membaca al-fatehah di belakang imam dalam sholat jhar hukumnya makruh dan sunah pada sholat siri.

4. Madzhab Hambali

Sebagaimana pendapat madzhab maliki, yaitu sunnah hukumnya membaca Al-fatehah di belakang imam pada sholat siri dan dalam diamnya imam. Dan makruh hukumnya pada sholat jahr.

Dari semua pendapat Madzhab diatas kita dapat menilai dan mengetahui pendapat mana yang lebih kuat dan mendapat mana yang akan kita aplikasikan dalam ibadah sholat kita, semua itu kembali pada masing-masing individu.

BAB III

KESIMPULAN dan SARAN

Sholat adalah ibadah yang di syari’atkan kepada umat Islam dengan atuaran dan syarat-syarat tertentu yang mesti dipenuhi guna kesempurnaan, akantetapi dari beberapa syarat ( rukun ) sholat terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai wajib tidaknya rukun tersebut dilakukan. Seperti perbedaan pendapat dalam hal hukum membaca fatihah dalam sholat Jama’ah

Hal demikian lumrah terjadi mengingat begitu banyaknya dali-dali dan hadist-hadis. Serta begittu banyaknya kaum intelektual Islam ( Mujtahid ). Akan tetapin dalam menyikapi perbedaan ini kita sebagai kaum akademisi harus mampu menengahi masyarakat dalam perbedaan pendapat ini. Jangan samapai perbedaaan masalah kecil mencadi penyebab perpecahan umat.

KATA PENGANTAR

Bismilahirrohmannirrohim

Segala puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan izin dan ridho-Nya makalah sederhana ini dapat penyusun rampungkan.

Sholawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kedamaian dan rahmat bagi semesta alam.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mandiri dari mata Kuliah Perbandingan Madzhab. Dan terimakasih kami ucapkan kepada dosen pengampu, dan teman-teman yang ikut serta dalam penysunan makalah yang bertema Hukum Membaca Al-fatihah ini.

Kami berharap makalah ini sedikit banyaknya memberikan manfaat khususnya bagi penyusun sendiri umum ya bagi semuanya.

Akhirnya kepada Allah jua penyusun memohon ampun, kalau sampai terjadi kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Besar harapan kami atas masukan guna perbaikan isi materi dari makalah ini.

Semoga apa yang kami susun bermanfaat.

Amien ya Robal’alamin.

Cirebon, 5 Oktober 2010

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG ………………………………………………………………………….. 1

B. RUMUSAN MASALAH………………………………………………………………………. 2

C. TUJUAN …………………………………………………………………………………………….. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SHALAT……………………………………………………………………… 3

B. RUKUN SHOLAT……………………………………………………………………………….. 3

C. DALIL - DALIL MEMBACA AL-FATIHAH DALAM SHOLAT JAMA’AH 4

D. HUKUM MEMBACA AL-FATIHAH DALAM SHOLAT JAMA’AH MENURUT FUQOHA (Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi)………………………………………………………………….. 6

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………………………….. 8

DAFTAR REFERENSI

ii

DAFTAR REFERENSI

Ø Abdul Fatah Idris Dr. H., Fikih Islam Lengkap, Rineka Cipta, Jakarta 2004

Ø M. Ali Hasan., Perbandingan Madzhab, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 1995

Ø Imron Abu Amar Drs. H., Terjemah Fa-Hul Qarib Jilid 1, Menara Kudus, Kudus 1982

Ø http://muslimsein.wordpress.com/2010/06/16/hukum-membaca-al-fatihah-di-belakang-imam/

http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg22065.html


[1] Berbandingan Madzhab, M. Ali Hasan hal : 1

[2] Terjemah Fat-hul qorib jilid 1 hal 72

[3] Fikih Islam Lengkap, Drs. H. Abdul Fatah Idris & Drs. H. Abu Ahmadi, hal : 46

[4] Fikih Islam Lengkap, Drs. H. Abdul Fatah Idris & Drs. H. Abu Ahmadi, hal : 48

[5] Fikih Islam Lengkap, Drs. H. Abdul Fatah Idris & Drs. H. Abu Ahmadi, hal : 48

[6] Semua terjemah hadist ini diambil dari : http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg22065.html

[7] Di kutip dari http://muslimsein.wordpress.com/2010/06/16/hukum-membaca-al-fatihah-di-belakang-imam/ yang bersumber dari Majlis Ulama Mesir

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 15 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 17 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 18 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 18 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: