Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Komersialisasi Dakwah

OPINI | 21 November 2010 | 06:32 Dibaca: 385   Komentar: 10   1

Ulama pewaris peran-peran kenabian, namun pemahaman ahli waris kenabian itu telah direduksi menjadi pengkhotbah—selanjutnya menjadi profesi yang sejajar dengan profesi lainnya seperti dokter, guru atau pengacara.

Padahal ada ayat yang menyatakan ballighu anni walau aayah, sampaikanlah walau satu ayat. Maka menyampaikan kebenaran itu kewajiban setiap muslim. Dan penyampai kebenaran tidak dipersonifikasikan dengan lulusan fakultas dakwah.

Malah, para pendakwah memerankan tugasnya dengan kekeliruan yang cukup fatal, karena kadung pendakwah dijadikan sebagai sebuah profesi. Maka ia berhak mendapatkan upah. Padahal sejak Nabi Ibarahim hingga Nabi Muhammad SAW menyerukan kalimat yang sama: Allah itu Maha Esa dan mereka tak harapkan upah seperserpun.

Akan halnya dakwah gratis itu, Al Quran berkali-kali mengutip kata Nabi. Makannaya: seseorang tidak boleh dibayar hanya karena mengajak orang lain kepada kebenaran. Jika tidak, apakah itu tidak berarti ayat-ayat telah dijual secara murah?

Al Quran menegaskan prinsip itu. Sebagai penyeru, para Nabi tak lupa kewajibannya mencari nafkah. Nabi Isa tukang kayu, Nabi Daud dan Sulaiman seorang raja, Rasulullah Muhammad sebagai pedagang.

Yang unik, pada diti Nabi terakhir. Energi profesionalitas beliau dipakai untuk menegakkan kebenaran. Ini adalah sebuah contoh paripurna. Pesannya: kerahkan seluruh energi yang kau miliki untuk menegakkan kalimatullah, Allah itu Esa.

Akibat kekeliuran paradigma, tugas dakwah tak lagi inheren dalam kehidupan seorang muslim. Seorang dokter seolah tidak pas dakwah karena itu wilayah ustadz. Presiden, pengacara, tukang bengkel, sampai simbok penjual pecel di pojok pasar juga terasa kurang pantas kalau berdakwah.

Karena fenomena inikah, umat tak banyak berubah lebih baik. Belum lagi umat diusik kasak kusuk soal tarif ustadz sekian juta sekali ceramah, membuat nasehat ustadz kehilangan wibawa.
Salam Kompasiana…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 10 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 10 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: