Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Husni El-jufri

al-Azhar University

Khutbah Arafah 1431 H (Menuju Islam yang Humanis)

OPINI | 19 November 2010 | 05:02 Dibaca: 410   Komentar: 0   0

Bismillahirrahmanirrahim12901427852007383830

Hadirin dan Hadirat

Jama’ah haji yang dimulyakan Allah Swt.

Pada hari ini, di padang arafah sungguh merupakan nikmat Allah yang sangat membahagiakan. Kita bersama, bisa menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima. Al-Hajju Arafah; inti ibadah haji adalah di padang Arafah, begitu sabda Rasul.

Rasulullah yang diutus oleh Allah untuk menebarkan kasih sayang Ilahy, karena seluruh ibadah yg dilaksanakan, sudah sepatutnya didasari dengan cinta dan membuahkan cinta Allah, RasulNya, terlebih-lebih cinta sesama manusia, sesama mahluk Allah di muka bumi ini.

Oleh sebab itu, izinkanlah kami untuk menyampaikan surat cinta Ilahy, melalui khutbah di padang Arafah, pada siang yang begitu indah dan menawan ini.

Hadirin dan hadirat, Hujjaj dari negeri tercinta, Indonesia dan darimanapun anda berada…

Allah berfirman : wama arsalnaka illa rakhmatan lil alamin, tidak lain rasulullah diutus untuk menebarkan kasih sayang di muka bumi ini. Sebagaimana sayidina Adam dan sayidatina hawa bertemu di jabal Rahmah, padang arafah, untuk saling memadu kasih dan menyebarkan cinta kasih, oleh sebab itu, semoga haji kita smua, menumbuhkan kasih sayang antar sesama.

Satir Samudera segera menghampiri ranjangnya, setelah seharian penat, tersengat sinar sang surya. Sebagaimana kita di arafah, pada hari ini. Kini, kita kembali merasa damai, menyatu bersama tetesan-tesan air suci nurani. Sebentar lagi, pada tengah keheningan malam yang kelam, serta hari yang sunyi, langit pun tak pernah bosan untuk menghembuskan nafas ilahiyah, mendegupkan jantung risalah, diiringi cinta kasih seraya menyemburatkan welas asih.

Seketika, akal jernih mengalir lirih. Pun, qalbu, darah dan nadi mulai mendayu. Entahlah, ruang dan waktu tidak kita raba, namun mengapa sisa usia, kita tahbiskan tuk bersenda. Si Cerdik Iblis dan manusia licik, bergurau dan bergumul bersama kita dalam kubangan kebingungan. Jangan biarkan ibilis dan syetan bertengger di dada kita, menyebabkan kejahatan dan kebencian. Mengapa agama kian membawa “petaka”? sementara agamawan selalu bersilat lidah dalam “bhineka”, dan pemeluknya dicampakkan oleh mereka di “neraka”. Kini, Fatwa tak lagi bernyawa. Diktatorisme, egoisme, fanatisme, serta seabrek momok menyeramkan telah mencoreng wajah Islam. Ia tenggelam di zaman jahiliyah, yang diramu dengan pra sejarah. Islam yang mengusung berjuta makna kedamaian, semakin menyeramkan. Tak heran bila wanita tak lagi dinamai manusia, Kemana lagu-lagu cinta itu sirna?  Walau pada zaman ketololan Ia dianggap maha, namun milenium menyebutnya usang dan binasa.

Syahdan, mereka lupa akan pondasi dan nilai-nilai agama. Substansi hanyut terdinding materi. Bungkus kebencian, menghalangi kado saling memahami yang berisikan cinta, “bahasa yang mengikat dunia dalam rasa”. Tanpanya, titik pun lenyap tak bermakna. Sehingga lahirlah curiga, heroisme disalah artikan menjadi terorisme, hubungan bilateral dituduh skandal, serta romantisme dipandang sebagai kriminalisme. Setiap kata bermakna ambigu, tak heran bila sebuah kalimat berarti rancu. Dimana wujud cinta yang disimbolkan dengan bahasa?, bahasa yang menjadi senyawa agama dan perdamaian dunia. Tidakkah para agamawan merasa malu, dengan para musikus yang selalu bersatu padu dalam tangga nada lagu?. Masihkah para Mufti percaya diri, padahal fatwanya serampangan dan ngeri?.  Sementara ahli medis tidak pernah ribut dalam kode etik, tapi mengapa Majelis ulama’ mudah menghakimi dengan kesesatan yang menggelitik?. Dunia bola tunduk dibawah FIFA, namun sayang, bahasa pemersatu para kiai kian sirna.

Seolah-olah agama menjadi rancu dan hanya diperbudak oleh nafsu. Padahal tercipta klan dan suku-suku, untuk saling mengenal dan bersatu. Persatuan yang memperkokoh sebuah kebenaran. Tapi kok malah dibelokkan, seperti firman Tuhan, “Mereka saling berpecah belah, setiap kelompok mengacungkan klaim-klaim kebenaran”. Bukankah strata dihadapanNya hanya ditentukan oleh ketakwaan?. “ Inna Akramakum indallahi atqakum …” begitu firmanNya.

Al-qur’an dan al-sunnah adalah titik tolak norma, namun apalah artinya tanpa bahasa pemersatu yang bernafaskan cinta?. Cerai berai, fanatisme golongan dan keterbelakangan umat Islam menjadi pemandangan sehari-hari, kenapa kita masih ngotot, merasa paling benar sendiri?. Dari zaman Baheula kita selalu meributkan warna, tapi lupa akan asal usulnya. Kulit diperdebatkan, tapi isi yang lezat tak pernah jadi santapan. Indah dan mudahnya Islam, luntur hanya karena ribut soal hukum bersalaman. Sunah dan tidaknya jenggot semakin dipermasalahkan. Bahkan urusan kamar mandi diperdebatkan, pun kue tart ikut diharamkan.

Mereka menjustifikasi “neraka”, bagi siapa saja yang berbeda. Tidak kah kita malu dengan musikus yang selalu selaras dan seirama, begitu juga dengan dunia bola dibawah komando FIFA. Agama kian mencekik, tapi perawat tak pernah ceroboh mengaku dokter suntik. Fatwa-fatwa serampangan direstui oleh insiyur-insiyur agama yang ngawur. Agamawan-agamawan baru lahir, tapi anak-anak sungai agama tak lagi mengalir. Mereka bukanlah pemikir, tapi hanya tukang menuduh kafir.

Kita hidup di zaman gila, bukan hakim tapi menghakimi terdakwa. Privasi hamba dan klaim kebenaran Ilahi disejajarkan, padahal kita juga akan dimintai pertanggung jawaban. Kok beraninya bergaya seperti Sang Maha Kuasa? padahal belum tentu kita adalah hamba yang sesungguhnya. Dialah Sang Maha pengampun, tak perduli terhadap siapa pun. Maksiat ataupun ta’at tak menjamin selamat. Hanya, hak preogatifNya mencurahkan samudera rahmat. Kasih sayangNya tak terhingga dan tak ternilai harganya. Pantaskah si Tukang menghakimi kafir, syirik, fasik, dan sesat menjadi sang Maha pencurah rahmat?, Sifat Tuhan diperkosanya, sungguh kurang ajar bukan?… Astaghfirullah..!!!

Pada Suatu hari, seorang Badui mendatangi majelis rasul, ia pun merengek dan mengemis. Dengan sifat kedermawanan Sang Rasul, Beliau memberikan hadiah spesial. Kemudian Rasul bertanya pada orang badui tersebut, ” Sudah kah aku berbuat baik kepadamu?”, “belum sama sekali” sahut badui. Para Sahabat pun geram, melihat sikap badui yang tidak sopan. Kemudian Rasul mengajak masuk badui ke dalam rumahnya, beliau memberikan hadiah yang lebih khusus hingga badui merasa puas, kemudian rasul pun bertanya, “sudah berbuat baik kah aku kepadamu?”, “ternyata engkau sangat baik sekali” jawab badui. lalu rasul menoleh ke arah para sahabat seraya bersabda, ” sesunggunya perumpamaan aku dan lelaki ini, bagaikan seseorang yang kehilangan ontanya. Kemudian orang-orang di sekitarnya datang untuk membantu mencarikan. Padahal kedatangan mereka, justru menjadikan onta tersebut semakin takut. Akhirnya pemilik onta itu berkata, biarkanlah aku sendiri yang mencarinya. Tak lama kemudian, dengan berbekal makanan onta, ia kembali menemukannya.

Ilustrasi di atas mengingatkan, jika hubungan pemilik onta dan ontanya, serta rasul dan badui tidak boleh kita campuri, akankah kita mencampuri privasi Allah dengan hambaNya?, Walaupun mereka telah mendapat legalisasi ahli surga atau neraka, toh Allah jua yang menghakimi mereka. Lupakah, jika kita juga terdakwa dihadapannya?, apalagi pengampunan Allah lebih luas dari azabNya.

Baginda RAsul mengajak kita untuk mempermudah, bukan mempersulit; dakwah adalah bahasa ajakan, bukan ejekan. Beliau adalah suri tauladan yang mencerminkan keadilan, kemuliaan, kasih sayang, kesederhanaan, kedermawanan, dll. Sumber inspirasi segala keindahan di jagat raya ini. Bila demikian, kenapa kita harus garang dan menyeramkan?. Pantaskah mengharamkan, mencabik-cabik, dan merusak tata nilai yang telah beliau amanatkan. Apabila engkau meneladaninya, pasti engkau menyayangi mereka. Beliau bersabda, “Diterima taubat seorang hamba, sebelum nafas terakhirnya”.  Allah tidak akan mengampuni Syirik, namun mengampuni selainnya. Bila syirik adalah kriminal terdahsyat, namun mengapa mereka gegabah untuk menjustifikasi orang lain?. Aneh memang!, tuduhan terberat, namun mudah terlontar. Agama adalah pesan Tuhan, bukan rekayasa manusia. Bila perdebatan nilai nominal mata uang kian meresahkan, lantas kapan kita memahami nilai intrinsiknya?. Garis start agama yang hilang; seyogyanya kembali kita temukan dengan membiarkan keharmonisan privasi antara hamba dengan empunya.

Biarlah fatwa kembali berdawai, seperti dzikir diartikan dengan shalat, mengkaji al-qur’an, haji, shalat Jum’at dan sebagainya, sebuah makna majemuk yang rasional dan berdasar. Tapi, bagaimana jika kita korelasaikan?. Bukankah semua ibadah mengandung dzikir?, tapi dzikir juga sebuah ibadah tersendiri. seperti tiap makanan mengandung unsur air, tapi H2O adalah unsur tersendiri. Dzikir adalah menyebut, bukan sekedar mengingat; tanpa memohon terbebas dari mudharat dan mengharap manfa’at. Bila kita berdebat, tak akan berujung hingga kiamat. Menutup akal dan nurani, berarti membiarkan bodoh diri sendiri. Ajakan kebenaran antara hamba dan Tuhan adalah dengan hikmah, mauidhah hasanah, begitu juga manusia mengajak manusia.

Marilah kita bersama-sama memperbanyak dzikir, wirid dan berdoa dengan khusyu’ dan tawadhu’ pada hari yang mulya ini, ditempat yang mulia ini, serta atas bimbingan Manusia paling mulya; syarafuzzaman, syaraful makan wa syaraful fulan, begitulah kiat-kiat kita berdo’a kepadaNya.

Diskusi ilmiah, bukanlah upaya membenarkan yang salah. Seorang Ksatria menerima kebenaran dengan lapang dada. Di atas langit masih ada langit. Memang, Cukup pelik membumikan bahasa langit. Bila Rosul adalah penghubung manusia dengan sastra langit, mungkin masih perlu kita diskusikan siapa pewaris yang bergelar “sastrawan langit”?. Meski Tuhan tidak berada di langit. Siapa pewaris para nabi, figur yang meneruskan perjuangan Sang Rasul, semoga kita selalu terpercik cahayaNya dan cinta kasih Sang Rasul, agar kita juga sadar untuk memanusiakan manusia sebagai bagunan Tuhan di muka bumi ini.

Amin Allahumma Amin…

Hadzanallah wa iyyakum ajma’in…

Assalamu’alaikum Warahmatulllah Wabrakatuh…

Arafah, 09 Dzulhijjah 1431 H.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 13 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 15 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: