Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Bakaruddin Is

Saya pensiunan PNS di Departemen Pertanian, pendidikan terakhir Faculty of Agriculture and Forestry, Univesity of selengkapnya

Beberapa Tips Dalam Menunaikan Ibadah Haji

REP | 18 November 2010 | 14:04 Dibaca: 935   Komentar: 51   5

Ibadah Haji adalah rukun Islam yang ke lima, tetapi hanya wajib bagi orang yang mampu, sebagaiman hadist berikut: ”Muhammad Rasulullah SAW bersabda: ”Islam itu ditegakkan atas lima dasar, yaitu syahadat, mendirikan shalat lima waktu, membayar zakat, menunaikan ibadah puasa wajib bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah bagi yang mampu”. (sepakat ahli hadist

12900482021170703161

Ka

Bagi orang yang mampu untuk menunaikan ibadah Haji dalam arti biayanya cukup, tetapi dia tidak mau menunaikanya, lalu dia meninggal dunia sebelum menunaikan ibadah Haji, maka ancamannnya sangat berat, yaitu meninggal dunia sebagai Yahudi atau Nasrani, sebagaimana hadist berikut: ”Muhammad Rasulullah SAW bersabda” Siapa yang memiliki bekal dan kendaraan, yang dapat membawanya ke Baitul Haram, tetapi tidak melaksanakan haji, maka ia akan mati seperti seorang Yahudi atau Nasrani (HR Tirmizi dan Baihaqi).

Ibadah Haji, merupakan salah satu tanda-tnda kebesaran Allah, dengan firman-Nya: ”Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka, barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dan barangsiapa mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukiri kebaikan lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah 158)

1290048739890406078

Kabah di Masjidl Haram

Namun, berbeda dengan Ibadah Umrah, Ibadah Haji hanya dapat dilakukan sekali setahun pada waktu yang telah ditentukan Allah, yaitu bulan Zulhijah. Allah berfirman: Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafas, berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, hai orang-orang yang berakal” (Al Baqarah 197)

Namun demikian, biaya perjalanan Haji harus dengan harta  yang halal.  Bukan hasil korupsi atau hasil kejahatan lain, karena tidak akan diterima oleh Allah, sebagaiman hadist: ”Abu Hurairah mengabarkan bahwa Muhammad Rasulullah SAW bersabda: ”Jika seseorang menunaikan ibadah haji dengan harta yang halal, dan kakinya telah menginjak Tanah Haram, kemudian mengucapkan ’Labaik-allahumma labaik” (Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu, maka Allah menyerunya dari langit: ”Allah menerima dan menyambut kedatangnamu, dan dengan bekal kendaraan yang halal, kamu akan memperoleh haji mabrur dan diampuni dosamu.

Sebaliknya bila ia pergi dengan harta yang haram, lalu dilangkahkan kakinya pada Tanah Hraram, dan ia mengucapkan: ”Labaik-allahumma labaik (Ya Allah aku datang memenuhi panggilan.Mu), maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit seraya berfirman: ”Tidak diterima kunjunganmu dan tidak berbahagia kedatanganmu, karena perbekalanmu dari harta haram, jauh dari pahala (Thabrani).

Bagi kaum Muslimin dan Muslimat yang belum mendaftar untuk menunaikan Ibadah Haji, saya sarankan untuk segera mendaftarlan diri sebagai calon jamaah Haji dan menabung di Bank yang menerima Tabungan Haji. Jangan beranggapan bahwa saya kan masih muda, nanti saja kalau saya sudah tua. Kita tidak pernah tahu umur kita. Ancaman dari Allah yang disampaikan melalui Rasulullah SAW amatlah keras, bahwa kalau kita sebenarnya mampu untuk melaksankan ibadah Haji, tetapi tidak mau atau tidak berniat menjalankannya, lalu kita meninggal dunia sebelum menunaikan ibadah Haji, sanksinya sangat berat, yaitu mati bukan sebagai seorang Muslim atau Muslimah, atau bukan umat Nabi Muhammad SAW.

Bila kita sudah berniat dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan ibadah Haji, dan sudah menabung walaupun belum lunas, tapi kita keburu meninggal dunia sebelum menjalankan ibadah Haji, insya-Allah kita sudah mendapat pahala Haji sebagaimana orang yang telah melaksanakannya. Amin.

Ada seorang tetangga dekat saya, saat dia mendapat rezeki yang lumayan besar, lalu dia merenovasi rumahnya menjadi bertingkat dan indah. Tapi dia tidak pernah menikmati rumah barunya, karena keburu meninggal dunia, hanya beberapa hari sebelum rumahnya jadi. Akhirnya istri dan anak-anaknya kembali tinggal bersama mertuanya. Rumahnya dibiarkan kosong sampai sekarang.  Saat itu umurnya masih sangat muda, sekitar 30 tahun, dan anaknya masih balita. Kini anak-anaknya sudah remaja. Seandainya dia tahu ajal akan menjemput, saya yakin almarhum akan memilih menjalankan ibadah ke Tanah Suci ketimbang membangun rumah yang megah. Semoga hal ini tidak terjadi pada diri anda, saudaraku.

Tips Dalam Menunaikan Ibadah Haji

Berdasarkan pengalaman pribadi, beberapa Tips yang mudah-mudahan bermanfaat bagi calon jamaah Haji, adalah sebagai berikut.

Tdak Perlu Bawa Makanan dan Alat Masak dari Indonesia

Hampir semua jenis makanan dan bahan makanan dari seluruh dunia termasuk Indonesia ada di Arab Saudi khusunya di Mekah dan Madinah, sehingga tidak perlu repot-repot membawa makanan dari Indonesia. Ikan mas dan ikan lele yang hidup pun ada dijual di sana. Mie instant Indonesia juga banyak. Orang-orang dari negara lain pun senang makan mie instant buatan Indonesia karena bumbunya lebih  sedap, kata mereka.

Begitu juga alat masak, semua tersedia di sana, tidak perlu bawa dari Indonesia. Cukup beli di sana, dan harganya tidak mahal. Selama di Mekah dan Madinah, di tempat pemondokan sudah tersedia alat-alat masak yang lengkap di dapurnya, atau beli makanan jadi yang ada dimana-mana

Jangan Terlalu Cepat Membeli Oleh-oleh dan Jangan Boros

Jamaah Haji Indonesia di Arab Saudi paling terkenal suka belanja. Baru tiba di Arab Saudi sudah banyak yang belanja untuk oleh-oleh, termasuk karpet. Sebaiknya jangan belanja dulu untuk barang yang tidak perlu karena ibadah utama yaitu ibadah Haji masih belum dilaksanakan. Apalagi bagi jamaah Gelombang Pertama, yang langsung ke Madiniah untuk melaksanakan shalat Arbain, soalnya Wukuf di Arafah sebagai puncak Ibadah Haji masih lama sekitar 20-25 hari lagi.

Siapa tahu pada saat hari pelaksanaan ibadah Haji kita jatuh sakit, lalu harus dibawa ke Padang Arafah untuk Wukuf dengan ambulan yang tentunya memerlukan biaya ekstra, atau saat melakukan Sai, bila kita kurang atau tidak sehat, kita harus ditandu, yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tidak ada Haji tanpa Wukuf di Arafah.

Bila pelaksanaan Haji telah selesai semua, dan tinggal menunggu waktu pulang, bolehlah kalau kita mau belanja untuk oleh-oleh. Itupun jangan yang berat dan besar, karena akan menambah biaya, karena kelebihan berat bawaan. Maksimal berat bagasi yang diperkenankan tanpa biaya tambahan adalah 30 kg. Hati-hati dalam memilih barang, karena banyak barang yang sebenarnya buatan Indonesia. Ngapain beli produk Indonesia di Arab yang lebih mahal?. Di Pasar Tanah Abang Jakarta juga banyak.

Sebaiknya Melempar Jumrah dari Tingkat Atas

12900484051629145291

Melempar Jumrah

Melempar jumroh merupakan salah satu rukun Haji. Tanpa melempar jumrah, Haji tidak sah. Jumrah itu ada tiga, yaitu Jumrah Aqobah, Jumrah Ula dan Jumrah Usta. Melempar Jumrah Aqoba dilakukan pada hari pertama, setelah Wukuf di Arafah, sedangkan keesokan harinya melempar jumrah untuk ketiga jumrah sekaligus Melempar jumrah Aqabah pada hari pertama adalah termasuk rukun haji yang paling sulit, karena jutaan jemaah Haji menuju titik yang sama. Oleh karena itu sering terjadi kecelakaan saat melempar jumrah Aqabah hari pertama ini. Banyak yang meninggal karena terinjak jamaah lainnya, sebagaimana yang terjadi tahun 2004.

Alhamdulillah saat ini Jumrah Aqabah itu sudah dibuat “lebar” seperti dinding, sehingga para jemaah dapat melempar jumrah Aqobah dari jarak yang lebih jauh dari biasanya. Melempar jumrah dapat dilakukan baik dari tingkat bawah maupun di tingkat atas. Namun demikian, untuk lebih aman saya menyarankan, bila jemaah haji terlalu banyak yang melempar jumrah dari tingkat bawah, sebaiknya kita melempar dari tingkat atas. Apalagi saat ini tempat melempar jumrah sudah dibuat lima tingkat.

Melempar jumrah dari tingkat atas, jauh lebih enak dan santai, pemandangan indah, udara segar, dibanding dengan di bagian di bawah yang sempit, udara pengap, pemandangan mentok ke dinding, sehingga orang-orang yang di bawah akan lebih mudah emosi.

Untuk mendapatkan ruang yang lebih lega untuk melempar jumrah dapat dilakukan dengan cara melempar dari arah yang berlawanan dari datangnya para jemaah. Pada umumnya para jemaah tidak sabaran dalam melempar jumrah. Begitu mereka merasa sudah cukup dekat dengan jumrah, mereka langsung melempar.

Untuk lebih mendekat, sebaiknya kita ”keliling” setengah lingkaran, sehingga kita melempar dari arah yang berlawanan dengan arah jemaah yang baru datang. Dari sini umumnya sangat lega, dan bisa melempar jumrah dari jarak yang dekat.

Cara Buang Air Agar Tidak Antri Panjang

Salah satu masalah yang sering dihadapi jamaah adalah buang air besar maupun kecil. Semua WC di Arab Saudi tertutup, dan tidak ada tempat khusus buang air kecil yang berdiri seperti di Indonesia. Sesuai dengan sunah Rasul, kencing seharusnya jongkok, (tidak boleh berdiri). WC di sekitar Masidil Haram dan Mesjid Nabawi sebenarnya sangat banyak, yang terletak di lantai bawah tanah di sekeliling mesjid. Untuk mencapainya bisa dengan turun tangga biasa atau melalui eskalator.

Agar tidak terlalu lama antri, sebaiknya pilih lantai yang paling bawah, yaitu lantai minus-3 dari tanah. Di sini jamaah lebih sedikit yang antri, bahkan bisa tidak antri sama sekali. Berbeda dengan lantai minus 1 atau lantai pertama di bawah tanah, di sini jauh lebih banyak jamaah yang antri. Penyebabnya, banyak jamaah terutama yang dari desa seperti petani, yang tidak biasa atau belum pernah menggunakan eskalator, sehingga mereka lebih suka menggunakan tangga biasa, dan tentu saja mereka mencari WC yang jaraknya lebih dekat dengan permukaan tanah.

Jangan Memberi Sedekah Sembarangan

Di Kota Mekah dan Medinah banyak sekali pengemis dan peminta-minta yang datang dari berbagai Negara, terutama dari Negara-negara Afrika, yang memanfaatkan jamaah Haji unuk meminta-minta.

Mereka meminta-minta di jalan-jalan dan di sekitar mesjid, mirip cara peminta di Indonesia. Banyak di antaranya wanita dan anak-anak. Kita bukan tidak boleh memberi sedekah kepada mereka, tetapi harus hati-hati. Masalahnya, kalau sekali kita memberi sedekah pada seseorang, maka yang lain akan datang brgerombol, memaksa minta sedekah juga, dan kalau tidak diberi mereka marah.

Kepala penulis  pernah dipukul karena tidak mau memberi sedelah kepada orang-orang yang datang bergerombol setelah penulis memberi sedekah kepada salah seorang di antara mereka. Lagipula Rasulullah tidak pernah menganjurkan untuk mengemis dan meminta-minta. Rasulullah mengajarkan kita untuk ”memberi pancing”, bukan ”memberi ikan”.

Cara Membawa Air Zamzam Lebih Banyak

Setiap jamaah sebenarnya mendapat jatah Air Zamzam sebanyak 5 liter atau 1 jerijen yang besarnya sudah ditetapkan. Sewaktu kami menunaikan ibadah Haji tahun 2003/2004, air Zamazam tersebut kami terima di Cengkareng, Jakarta. Untuk daerah lain, tentu di tempat embarkasi masing-masing.

Bila kita ingin membawa air Zamzam lebih banyak, kita harus membeli jerijen yang tersedia di toko sekitar Masjidil Haram. Pada saat akan naik pesawat, di airport ada petugas yang akan ”membungkus” jerijen air Zamzam tersebut dengan kantong plastik tebal dengan membayar biaya tertentu, dan air Zam-zam ini bisa langsung dimasukan ke dalam bagasi. Penulis waktu pulang ke Tanah Air membawa 10 liter air Zamzam.

Perbarui Niat Setiap Tahun untuk Melaksanakan Ibadah Haj

Allah Yang Maha Kuasa yang menentukan segala sesuatu, termasuk dalam memilih orang-orang untuk datang ke Baitullah untuk melaksanakan Ibadah Haji. Banyak orang yang kaya, secara finansial pasti mampu menjalankan Ibadah Haji, tetapi sampai mati mereka tidak sempat melaksanakan Ibadah Haji, sementara banyak orang biasa seperti para petani, nelayan, pedagang kecil. pegawai rendahan, yang tampaknya tidak akan mampu melaksanakan Ibadah Haji, tetapi Allah Memilihnya untuk datang ke Baitullah, Rumah Allah. Tahun 2010, ada seorang tukang becak yang melakukan Ibadah Haji dengan menabung selama 20 tahun.

Untuk itu, hendaknya kita niatkan untuk melaksanakan Ibadah Haji secara sungguh-sungguh, dan berusaha untuk merealisasikannya sesuai dengan kemampuan kita. Segeralah daftarkan diri anda ke Kantor Departemen Agama Kabupaten/ Kota dimana anda tinggal, dan buatlah tabungan haji di Bank yang menerima tabungan Haji seperti Bank Mandiri, BRI. atau Bukopin Jangan diambil atau digunakan untuk keperluan lain.

Lakukan Shalat Hajat dan berdo’a setiap malam. Selanjutnya kita bertawakal kepada Allah. Terserah Allah apakah akan mengabulkannya, kapan dengan cara apa. Allah Yang Maha Menentukan segala sesuatu. Bila Allah berkendak lain, kita meninggal sebelum menunaikan Ibadah Haji, insya-Allah niat kita sudah sampai dan mendapat pahala Haji, walaupun kita belum pergi Haji, karena kita sudah berniat dan berusaha dengan sungguh-sungguh.

Semoga bermanfaat

Semoga yang membacanya dengan penuh perhatian, akan diberangkatkan oleh Allah ke Tanah Suci sebelum dipanggil menghadap Allah. Amin ya Robbal ’alamin.

Bagi saudara-saudara kita yang baru saja pulang ke Tanan Air dari menjalankan Ibadah Haji, kita doakan, semoga mendapat Haji Mabrur/ Mabruroh. Bagi yang sudah pernah menunaikan Ibadah Haji, semoga dapat menunaikan Umrah atau Haji lagi di tahun-tahun mendatang. Amin.

Depok, 18 November 2010

Bakaruddin Is

Baca juga artikel terkait dari penulis, reportase perjalalanan haji pribadi penulis, yang dilaksanakan dengan biaya dari dermawan (insya-Allah halal), bukan dengan uang korupsi atau kejahatan lainnya.

1. Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Biaya Sendiri Tanpa Korupsi: Bagian Pertama

http://agama.kompasiana.com/2010/11/15/melaksanakan-ibadah-haji-tanpa-biaya-sendiri-tanpa-korupsi-bagian-pertama/

2. Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Biaya Sendiri Tanpa Korupsi: Bagian Kedua

http://agama.kompasiana.com/2010/11/16/melaksanakan-ibadah-haji-tanpa-biaya-sendiri-tanpa-korupsi-bagian-kedua/

3. Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Biaya Sendiri Tanpa Korupsi: Bagian Ketiga

http://agama.kompasiana.com/2010/11/16/melaksanakan-ibadah-haji-tanpa-biaya-sendiri-tanpa-korupsi-bagian-ketiga/

4. Kejadian-kejadian Luar Biasa Saat Saya Menunaikan Ibadah Haji

http://agama.kompasiana.com/2010/11/18/kejadian-kejadian-luar-biasa-selama-saya-menunaikan-ibadah-haji/?ref=signin

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kurikulum 2013: Buku, Seminggu Dibagikan …

Khoeri Abdul Muid | | 20 August 2014 | 17:25

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Keluarga Pasien BPJS: Kenapa Dokter Tulis …

Posma Siahaan | | 20 August 2014 | 12:48

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 7 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 11 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 11 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: