Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Fatiya Hartanti

Pengasuh Dialog Klinik Remaja Radio Serasi Ungaran

“Revolusi” Pelajaran Agama

OPINI | 18 October 2010 | 12:32 Dibaca: 72   Komentar: 1   0

40% pelajar dari 404 pelajar di Malang pernah melakukan hubungan seks (detiksurabaya,4/10/2010). Apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika membacanya? Biasa saja,hanya sekedar hasil penelitian? Wow, banyak juga ya? Atau anda menganggap ini masalah besar yang bisa jadi juga terjadi di Semarang, di seluruh kota di Jawa Tengah, di seluruh pelosok Indonesia?

Yup, ini masalah besar yang harus segera dicari pemecahannya. Jangan sampai pelajar-pelajar kita yang akan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa terdepan ternyata telah melakukan kemaksiatan besar di usia muda mereka. Kejayaan seperti apa yang akan mereka persembahkan untuk negeri ini kelak jika hari ini perilaku seperti itu?

Ketika bicara perilaku seks bebas maka kita bicara moral, kemudian bicara agama, dan dari mana pelajar mendapatkan pemahaman agama? Umumnya, dari pelajaran agama di sekolah! Pelajaran agama sudah diberikan sejak SD hingga perguruan tinggi dengan jumlah jam pelajaran suangat minimal, bahkan di perguruan tinggi hanya dua SKS di semester awal. Jadi berapa banyakkah pemahaman agama para pelajar kita?

Lalu apa yang diajarkan dalam pelajaran agama dari SD hingga SMA? Tak jauh dari rukun iman, rukun islam, dan sedikit muamalat. Yang diulang-ulang dengan materi yang sama hingga akhirnya menjadi hafalan di luar kepala saja.

Kadang muncul pertanyaan dalam diri saya, jangan-jangan pelajaran agama yang seperti pelengkap ini hanyalah untuk menunjukkan bahwa negeri yang merupakan negeri dengan penduduk muslim terbesar ini BUKANLAH negara sekuler. Buktinya, masih ada pelajaran agama! Soal pelaksanaan ajaran agama kan urusan individu!

Perlulah kiranya dilakukan perubahan yang sistemik pada pelajaran agama di sekolah. Janganlah pelajaran agama hanya menjadi formalitas semata. Pelajaran agama islam adalah satu pelajaran yang wajib diberikan dan bahkan harus ditambah jamnya! Materi yang diberikan juga harus dikonsep secara sistematis dan integral dari Play Group hingga SMA. Ketika anak sudah harus belajar shalat ketika usia 7 tahun maka pelajaran shalat sudah harus diberikan sejak Play Group. Rukun iman dan rukun islam sudah dikenalkan, pendalaman bisa dilakukan di SD.

Di Sekolah Dasar anak juga dibekali dengan pendidikan pra baligh, disampaikan kepada mereka apa tanda-tanda baligh dalam pandangan islam, kewajiban-kewajiban mereka ketika baligh apa saja harus disampaikan. Jadi tidak, akan terjadi anak yang sudah baligh tidak menjalankan shalat fardhu, mengumbar auratnya atau tidak tahu cara mensucikan diri selepas haid dan mimpi basah.

Ketika SMP, mereka diajarkan terkait hukum-hukum islam yang mengatur kehidupan mereka, diberikan pengajaran bagaimana sistem pergaulan islam. Sehingga mereka tahu bagaimana berhubungan dengan lawan jenisnya, sejauh mana mereka boleh berinteraksi. Masa SMA bisa dijadikan penguatan materi pembelajaran di SMP dan lebih jauh mempelajari kewajiban untuk menerapkan aturan islam dalam seluruh aspek kehidupan mereka, bukan sebatas kehidupan pribadi namun kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dengan kurikulum yang integral, pelajaran agama akan menjadi pelajaran yang dinamis, mengingat fakta yang terus berkembang namun senantiasa bisa ditemukan jawabannya dalam islam. Pelajar tidak akan lagi melenguh dan mengeluh ketika datang pelajaran agama, karena di pelajaran agama inilah mereka akan menemukan solusi atas setiap permasalahan mereka. Masalah dengan keluarga, masalah dengan teman, masalah dengan lawan jenis, masalah cita-cita, hobi, keinginan dan banyak hal lagi akan menjadi banyak hal yang asyik didiskusikan di pelajaran agama. Subhanallah!

Bagi bapak dan ibu guru agama, bukan maksud saya menggurui namun sudah saatnya islam yang sempurna ini kita berikan kepada para pelajar agar mereka memahami indahnya islam, dan ridho kehidupannya di atur dengan islam. Bagi pemangku kebijakan pendidikan, mohon agar diadakan “revolusi” atas pelajaran agama. Jangan ketika ada pelajar yang melakukan melakukan kesalahan yang melanggar aturan agama, guru agama dan pelajaran agama menjadi tertuduh, namun tidak pernah ada upaya untuk membenahi dan memberikan porsi lebih pada pelajaran agama! Saatnya Berubah tuk Selamatkan Generasi, Jadikan Indonesia Lebih Baik dengan Syariah!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 12 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sejarah Munculnya Lagu Bunuh Diri Dari …

Raditya Rizky | 8 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 9 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: