Back to Kompasiana
Artikel

Agama

I.t. Kriyonadhy

Pengajar yang terus belajar

ORANG HINDU BISA MASUK SURGA?

OPINI | 05 October 2010 | 02:28 Dibaca: 2444   Komentar: 12   1

Beberapa waktu lalu aku mengajak anak-anak berlibur ke Bali. Seperti biasa, kemanapun pergi anak keduaku selalu membawa mainan mobil-mobilan. Tanpa memegang mobil-mobilan dia pasti rewel selama perjalanan.

Di tengah perjalanan, kami singgah ke sebuah masjid  besar di pinggir jalan raya untuk sholat. Suasana masjid yang lapang dan teduh membuat anak-anak begitu riang bermain ke segenap penjuru masjid. Kebetulan masjid sedang sepi dan hanya ada beberapa petugas kebersihan yang tengah membersihkan beberapa bagian di serambi masjid.

Setelah bersantai sejenak, kami bersama-sama mengambil wudlu dan sholat berjamaah. Selesai sholat kami kembali bersiap keluar dari masjid, tapi tiba-tiba anak keduaku merengek, “Lho, mobil-mobilanku kok tidak ada? Tadi kutaruh di sini” Rengeknya sembari menunjuk tiang di serambi masjid.

Begitu dia mulai menangis akupun bergegas ke  dekat toilet mendekati petugas kebersihan yang tadi bekerja tak jauh dari tempat itu. “Maaf, pak. Apa tadi lihat mainan anak saya di serambi?”

“Nggak tahu”  Jawabnya acuh tak acuh seraya menjauh. Akupun berusaha berkeliling ke seluruh penjuru masjid tetapi tak menemukan mainan itu. Kamipun melanjutkan perjalanan meski anakku terus menangisi mainannya. Dia baru kembali tenang setelah kembali mendapatkan mainan di sebuah toko di kota Banyuwangi.

Setelah dua hari berkeliling pulau Dewata, kami menghabiskan waktu di danau Bedugul yang sejuk. Di sana kami mengahabiskan waktu seharian dengan memancing ikan di dekat sebuah tempat semacam pura, entah apa namanya. Di sana ada beberapa orang yang memakai ikat kepala putih, berpakaian putih dan mengenakan semacam kain di pinggangnya. Saya bilang ke anak-anak, “Mereka itu orang Hindu. Mungkin sedang beribadah”

Dengan menenteng plastik berisi beberapa ekor ikan anakku begitu riang kuajak kembali ke tempat parkir dengan jalanan yang curam yang jaraknya cukup jauh dari lokasi kami memancing. Saat mobil hendak berjalan, tiba-tiba ada seorang lelaki berpakaian adat Hindu mengetuk kaca mobilku. “Maaf pak. Sepertinya ini mainan milik putaranya”

Kontan anakku kegirangan, “O, iya. Itu mainanku” kata anak keduaku.

“Hampir saja ketinggalan lagi” sahut kakaknya.

Dengan ramah, lelaki itu menyerahkan mainan itu. Kamipun mengucapkan terima kasih berulang-ulang, bahkan beberapa kali menganggukkan kepala saat kendaraan mulai melaju meninggalkan lahan parkir. Beberapa saat setelah kami meninggalkan lokasi wisata itu, tiba-tiba anak keduaku bertanya, ”Apakah orang Hindu juga masuk surga? Mereka kan baik sekali?”

Aku terhenyak dengan pertanyaan sederhana ini. Aku tahu dia menghubungkan sikap orang Hindu itu dengan sikap orang Islam di masjid tempo hari. “Orang baik pasti masuk surga” jawabku diplomatis.

“Orang Hindu tadi juga baik, apa juga masuk surga?” tanyanya meyakinkan.

“Ya, orang Islam, Kristen, Yahudi, Konghucu, Hindu, Budha yang baik pasti masuk surga” jawabku diplomatis. Terus terang agak sulit menjelaskan masalah itu. Aku sadar, selama ini kami diajarkan bahwa kelak hanya orang Islam yang masuk surga, demikian pula yang diajarkan pada anakku di sekolah, tetapi aku tak mungkin menjawab demikian, sebab fakta yang dijumpai anakku sama sekali berbeda.

“Kalau orang Islam tapi teroris?” tanyanya lagi penuh selidik.

“Mereka di neraka” tegasku.

“Kata pak Guru, selagi tidak Islam orang kan tidak bisa masuk surga? Apa pak Guru salah?”

Dengan sedikit gelagapan aku kembali menjawab diplomatis. “Allah Maha Tahu siapa yang paling berhak masuk surga”

Rupanya dia masih penasaran dengan sikap orang Islam di masjid tempo hari yang mengecewakannya dan sikap orang Hindu yang demikian baik. Selama perjalanan, dia terus mempertanyakan persoalan teologis itu, dan memaksaku berdiskusi tentang sesuatu yang hampir-hampir tak pernah terbayangkan akan membahasnya bersama anak kelas II SD. Berbeda dari pemahaman yang selama ini diajarkan guru dan orang tuaku, kali ini kami harus membangun pemahaman yang dapat diterima nalar dan pengalaman anakku, juga olehku.

Sebagian doktrin agama memang memberikan batas-batas kebenaran berdasarkan siapa pengikut siapa, siapa kelompok siapa. Yang termasuk pengikut (diyakini) pasti selamat dan masuk surga, sedangkan yang bukan pengikut (dipercaya) hanya berhak atas neraka, tidak selamat. Padahal, doktrin agama sedemikian problematik ketika  dihadapkan pada realitas kemanusiaan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 11 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | 7 jam lalu

Si Bintang yang Pindah …

Fityan Maulid Al Mu... | 8 jam lalu

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | 8 jam lalu

Jokowi Mirip Ahmadinejad …

Rushans Novaly | 8 jam lalu

Alternatif Solusi Problem BBM Bersubsidi …

Olivia | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: