Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Khutbah, Tabhlig dan Dakwah

OPINI | 26 September 2010 | 07:29 Dibaca: 21912   Komentar: 5   1

Khutbah, Tabligh dan Dakwah

Khutbah, secara harfiah berarti ceramah atau pidato. Dalam fikih, khotbah diartikan dengan pidato dari seorang khotib yang diucapkan di depan jamaah sebelum shalat jum’at atau setelah shalat Id. Khutbah berisi tentang nasihat-nasihat guna mempertebal iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Khutbah yang ada dalam agama Islam seperti khotbah idul fitri, khutbah iedul adha, khotbah jum’at, khutbah gerhana , khotbah nikah dan khotbah wukuf di Arafah. Apabila khotbah sedang dikhotbahkan, para jamaah harus mendengarkan dan menyimak dengan khitmat.

Tabligh artinya menyampaikan. Apabila ditilik dari segi istilah, tabligh yaitu menyampaikan syari’at islam atau aturan-aturan Islam kepada umat manusia sebagai pedoman dalam hidup guna memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dakwah artinya menyeru atau mengajak yaitu menyeru atau mengajak manusia kepada ajaran Islam atau suatu ajakan untuk berbuat baik dan beriman kepada Allah SWT. Orang yang berdakwah dinamakan da’i atau juru dakwah.

Tatacara Khutbah

Sebelum shalat jumat dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan khutbah yaitu disebut dengan khutbah Jumat. Orang yang berkhutbah dinamakan khatib. Seorang khatib harus dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Paham dengan benar ajaran agama Islam.
  2. Paham seluk beluk khutbah, baik yang menyangkut syarat, rukun dan sunat-sunatnya
  3. Dapat menyampaikan dan berbicara di public dengan jelas, santun dan gampang dipahami pendengar
  4. Dewasa atau baligh dan dapat menjauhkan diri dari berbagai macam dosa baik yang kecil apalagi yang besar
  5. Memiliki ilmu keislaman yang mumpuni dan shaleh

Seorang khatib harus mengerti dan paham syarat-syarat dua khutbah Jum’at yaitu syaratnya sebagaimana berikut:

  1. Suci dari hadas dan najis serta menutup aurat
  2. Khutbahnya dimulai pada waktu setelah matahari tergelincir atau sudah masuk waktu dzuhur
  3. Khotib berdiri apabila kuasa pada waktu berkhutbah
  4. Khotib duduk diantara kedua khutbah
  5. Khutbahnya disampaikan dengan suara lantang, bahasa yang baik dan halus, kata-katanya yang fasih, lancar, teratur, ungkapannya mudah dimengerti sehingga dapat menyentuh jiwa dan perasaan.
  6. Tertib yaitu berturut-turut dalam rukun-rukunnya maupun antara khutbah pertama dan khutbah ke dua.

Selain yang tersebut diatas, seorang khatib harus memahami dan mengerti tentang rukun khutbah yaitu diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT
  2. Bershalawat kepada Rasulullah SAW
  3. Mengucapkan syahadad
  4. Berwasiat taqwa
  5. Membaca ayat Al Qur’an pada salah satu dari kedua khutbah
  6. Mendo’akan kepada kaum muslimin dan muslimat pada khutbah ke dua

Apabila menjadi khatib, juga harus memahami tentang sunat khutbah jum’at. Sunat khutbah jum’at antara lain:

  1. Khutbah dilaksanakan di atas mimbar atau di tempat yang ditinggikan dan tempatnya di sebelah kanan tempat imam (pengimaman).
  2. Khatib mengawali dengan ucapan salam , setelah itu duduk dan mendengarkan adzan dari muadzin.
  3. Khatib dalam berkhutbah harus jelas, gampang dipahami, dan khutbahnya sedang yaitu tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek.
  4. Khatib menghadap ke jamaah dan tidak berputar-putar
  5. Menertibkan tiga rukun yaitu puji-pujian, shalawat dan nasihat taqwa

Tatacara Tabligh dan Dakwah

Tatacara dalam tabligh dan dakwah harus dilakukan oleh setiap orang yang beriman kepada Allah SWT. Tatacaranya yaitu mengikuti tatacara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW diantaranya adalah

  1. Dimulai dari diri sendiri, misalnya seorang da’i mengajak bertauhid kepada Allah SWT , maka da’i tersebut telah melakukannya (pelajari Qur’an surat As-Shaf (61) ayat 3).
  2. Dalam bertabligh dan berdakwah disesuaikan dengan yang didakwahi artinya ada perbedaan dalam penyampaian sesuai dengan tingkat intelektualnya agar yang disampaikan oleh da’i bisa dipahaminya. Singkatnya, khatib harus mengetahui psikologi jamaah, sehingga dapat

menyampaikan khutbahnya dengan tema dan bahasa yang sesui dengan kadar dan tingkat

pengetahuan jamaah.

  1. Da’i menyampaikan dengan ucapan yang tegas atau al hikmah dan dengan pengajaran yang baik atau al mauidzah al hasanah. Hal ini juga disebut dengan dakwah bi al qaul yaitu mengajak orang yang didakwahi secara lisan atau ucapan.
  2. Da’i mengajak orang yang didakwahi dengan memberikan contoh melalui perbuatan sesuai dengan ucapan sang da’i (pelajari Q.S. Al ahzab (33) : 21).

Contoh Materi Khutbah untuk Peragaan Khutbah Jum’at

Menghargai Waktu

(disarikan dari berbagai sumber)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah mencurahkan kenikmatan dan karunia-Nya yang tak terhingga dan tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa kesehatan, kesempatan sehingga pada hari ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat jum’at.

Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan uswah kita nabi Muhammad SAW, yang melalui perjuangannyalah, cahaya islam ini sampai kepada kita, sehingga kita terbebas dari kejahiliyahan dan kehinaan. Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan khutbah jum’at ini khatib pesankan kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah semuanya, agar kita selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.

Jamaah Jum’ah Masjid …Rahimakumullah

Allah SWT berfirman Dalam Surat Al Ashr yang berbunyi:

Artinya:

Demi waktu, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al Ashr (103)

Dalam Al Qur’an surat Al Ashr ayat 1 dan 2, Allah SWT bersumpah dengan salah satu makhluknya, yaitu waktu. Sumpah Allah SWT ini menandakan bahwa waktu memiliki arti yang sangat penting untuk senantiasa diperhatikan oleh manusia.

Setiap manusia diberi jatah waktu yang sama oleh Allah SWT yaitu selama 24 jam atau 1440 menit atau 86.400 detik dalam sehari. Namun kesadaran untuk memanfaatkannya tentu saja sangat beragam dan berbeda-beda dalam penyikapannya. Ada yang sigap, biasa-biasa saja, tapi ada pula yang cenderung berleha-leha atau nyantai-nyantai saja. Dan lebih parah lagi ada yang menyikapi waktu ini digunakan untuk berperilaku, berpikir, bertindak mengikuti ajaran - ajaran setan, bahkan menganggap bahwa ajaran agama Islam yang dibawa Rasulullah SAW belum cukup, belum

sempurna sehingga perlu disempurnakan yaitu dengan membuat ajaran-ajaran anyar atau baru

yaitu ajaran-ajaran yang tidak diajarkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, tidak mempercayai bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasul yang terakhir, sehingga dengan beraninya ada yang mengaku bahwa dirinya sebagai rasul yang mendapat wahyu di gunung Bunder Bogor,

Jamaah Masjid … yang berbahagia,

Dalam buku Nabi-Nabi Palsu dan para penyesat umat disebutkan bahwa di negeri ini sangat subur dengan ajaran-ajaran yang tidak benar alias ajaran sesat, ajaran yang mengikuti setan. Dan ini ternyata telah mengelilingi kita, ada yang jadi pendesain atau perancang, ada yang mengusung, ada yang menyebarkan, ada yang dimunculkan sebagai figure entah sebagai nabi palsu, pengelola lembaga sesat, perdukunan dan lain sebagainya. Dan itu semuanya membawa-bawa agama, mengatasnamakan Allah SWT. Padahal itu semuanya dusta belaka. Na’udzubilahi min dzalik. Ini benar-benar pemanfaatan waktu yang keblinger. Menurutnya benar tetapi hakekatnya adalah salah besar dan jaminannya adalah neraka jahannam.

Jamaah Jum’ah yang berbahagia,

Kembali ke masalah waktu, tentu saja, hasil dari etos penyikapan waktu, itu akan sangat bervariasi pula, terutama dihadapan Allah SWT. Dalam konteks ini, Allah SWT lebih menilai sebuah proses daripada hasil akhir. Oleh karena itu, kita harus dapat menyolusinya atau memanfaatkannya dengan benar yaitu yang berdasar pada Qur’an dan Hadits.

Dalam Al Qur’an , Allah SWT mendifinisikan atau memberikan suatu pengertian tentang waktu secara gamblang atau dengan sangat jelas. Waktu memiliki arti kehidupan itu sendiri. Sebuah proses menjalani kehidupan untuk menilai siapa yang paling baik amalnya disisi Allah SWT, bukan dinilai yang paling sesat dan menyesatkan, sebelum akhirnya kematian menjemputnya.

Firman Allah SWT dalam surat Al Mulk ayat 2 disebutkan bahwa:

Artinya:

Allah SWT yang menciptakan hidup dan mati, untuk menguji siapa diantara kamu yang paling baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengasih. (QS Al Mulk (67) : 2)

Jika saja manusia ingin berpacu dengan waktu, tentu saja hal tersebut tidak akan bisa. Mengapa? Karena jumlah pekerjaan dan amalan yang mulia lebih banyak ketimbang waktu yang tersedia. Oleh karena itu, teramat sayang apabila waktu terbatas yang kita miliki ini dihabiskan secara sia-sia tanpa makna apapun. Terlebih lagi malah dihabiskan untuk berbuat yang dianggapnya benar padahal itu sesat dan menyesatkan.

Dengan demikian, dalam pemanfaatan waktu kita harus terus mengerahkan seluruh potensi atau kemampuan kita untuk beramal shaleh. Minimal, dengan kemampuan kita untuk bisa menjawab beberapa pertanyaan yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih Abu Barzah Al Islamy. Yang artinya

“ Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan. Tentang hartanya, dari mana ia dapatkan, dan untuk apa dia infakkan. Serta tentang badannya untuk apa dia kerahkan.” (HR Tirmidzi).

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Kita hidup di dunia ini tidak hanya sekedar hidup, tetapi hidup yang lebih hidup artinya jangan sampai hidup kita ini menjadi sia-sia belaka. Hidup kita ini semua ada pertanggungjawabannya, semuanya akan ditanya di akhirat. Kita tidak bisa mungkir kita tidak bisa mengelak. Oleh karena itu dari khutbah yang singkat ini mudah-mudahan dapat menggugah hati kita semua untuk dapat menghargai dan memanfaatkan waktu yang telah disediakan oleh Allah SWT dengan amal-amal yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam, amal- amal yang diridhai oleh Allah SWT dan amal-amal shaleh. Amin ya rabbal ‘alamin.

Untuk dapat menyusun naskah khutbah, tabligh dan dakwah, perlu mengetahui trik-triknya diantaranya yaitu menentukan tema yang akan disampaikan, menetapkan judulnya, menentukan metodenya, menguraikan isi khutbah atau dakwahnya sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya yang bisa didapat dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sense of Meteorology: Kemampuan Meramalkan …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 18 September 2014 | 18:29

Tidak Ada Porter di Australia …

Roselina Tjiptadina... | | 18 September 2014 | 10:45

Perjuangannya Dilaporkan ke Polisi …

Anindita Adhiwijaya... | | 18 September 2014 | 16:41

Larangan Mobil Berpelat Jakarta (B) ke Bogor …

Hanna Chandra | | 18 September 2014 | 16:23

Lomba Menulis Kisah Cinta dan Pernikahan …

Fiksiana Community | | 18 September 2014 | 13:49


TRENDING ARTICLES

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 9 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 10 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 11 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 11 jam lalu

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

LPG untuk Masyarakat, Tak ada Jalan Mundur …

Tri Hatmoko | 8 jam lalu

Ditinggal Shalat, Balita pun Menghilang …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Membumikan Tasawuf di Tengah Umat …

Fadh Ahmad Arifan | 8 jam lalu

‘Papa Pulang, Mama Basah’ …

Muhammad Fikrillah | 8 jam lalu

Kekacauan Sistematika Perundangan Bidang …

Suprijanto Rijadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: