Seandainya Ramadan ini adalah seorang makhluk, betapa amat baiknya dia. Tuhan pasti akan mengaruniainya banyak pahala. Sebab ia rela dirinya dimanfaatkan atau merelakan dirinya menjadi manfaat bagi orang lain.
Betapa tidak, saat masuk bulan suci Ramadan (bahkan jauh-jauh hari sebelum masuk) para musisi dan grup band tanah air sudah menyiakan beberapa lagu religinya dalam rangka bulan suci Ramadan. Para pebisnis pun tak kalah ketinggalan. Nalurinya sekesiap saja muncul bagaimana memanfaatkan moment Ramadan ini meraih keuntungan (bisnis) sebanyak-banyaknya. Atau para seniman yang tiba-tiba karyanya menjadi sedemikan religius (bahkan tak seperti biasanya yang liar dan meliarkan).
Amat baiknya Ramadan ini. Saya pun berterima kasih padanya. Karena Ramadan ini gairah menulis saya muncul. Dan memang sengaja saya munculkan karena saya ingin menjadikan Ramadan ini sekolah menulis saya selama sebulan (yang akhirnya saya menerbitkan jurnal online kecil-kecilan khusus Ramadan termasuk tulisan ini, hehe).
Lain lagi dengan ibu-ibu rumah tangga yang biasanya hanya sembunyi di rumah kini mulai berhamburan keluar mencari lapak-lapak kosong untuk buka stand es buah bakal buka puasa maghrib. Semua lantaran Bulan Ramadan adalah bulan berkah. Semua orang pasti kecipratan berkahnya. Semua orang pasti mendapatkan apa seperti apa yang diharapkannya. Dan betapa seandainya ia adalah seorang makhluk, amat baiknya ia.
Terkait fenomena ini saya tak ingin menjustice baik buruknya mereka memanfaatkan Ramadan. Semua sah-sah saja. Sebab yang tidak sah itu adalah mereka yang meninggalkan puasa.
Begitulah fenomenanya. Masing-masing orang akan mendapatkan seperti yang diniatkannya. Kalau seorang musisi memanfaatkan Ramadannya untuk menciptkan lagu-lagu religi, ya saya yakin pasti dia mendapatkan yang diingingkannya itu. Begitu juga para pengusah-pengusaha dadakan itu, saya yakin juga mereka bakal dapat keuntungan sesuai yang mereka harapkan.
Namun saya hanya ingin menelisik sedikit saja dari mereka yang benar-benar memanfaatkan ini karena cinta. Cinta kepada Sang Pemilik Ramadan. Toh apapun yang ia lakukan di bulan Ramadan, semata-mata ingin kesempatan Ramadan ini ia mendapatkan balasan yang hanya sekadar balasan di keuntungan (dunia) saja.
Terkait hal ini saya ingat sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa segala sesuatu itu tergantung pada niat. Innamal a’malu binniat. Dan tiap-tiap orang tergantung pada apa yang ia niatkan. Wa innama likullimriin ma nawa.
Maka sebgaimana hijrah, kata nabi, barangsiapa yang hijrah karena dunia, atau karena wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kea rah yang ia tuju.
Jadi bagi saya, pasti setiap orang akan mendapatkan apa yang ia inginkan melalui Ramadan. Baik itu keinginan-keinginanannya untuk keuntungan di dunia ini saja atau ketakwaan seperti yang diharapkan Sang Pemilik Ramadan. Saya rasa, seandainya Ramadan seorang makhluk, ia tak kan banyak menyesal perkara orang memanfaatkan dirinya untuk hal apa pun. Semua sudah ada ketentuannya masing-masing.(*)
19 Agustus 2010