
Mahasiswa yang sekaligus praktisi IT. Aktif di AIPSE (Association of Indonesian Professionals for Science, Technology and Enterprises), PPI Jerman, MER-C Jerman dan FLP Jerman. Seorang penikmat seni yang senang mempelajari bahasa dan budaya, fotografi dan memasak di akhir pekan.
Dibaca: 77
Komentar: 0
Nihil

Keberhasilan nampak bagaimana orang bisa menyingkap rahasia kehidupan. Sangat manusiawi seorang laki-laki yang ditelpon istrinya bahwa anaknya sakit. Manusiawi kalau dia langsung tergambar dokter spesialis, obat paten, rumah sakit andalan. Tapi dia akan sangat malu dihadapan Allah apabila dia menemukan dirinya telah melampaui batas kepatutan karena tadi dia baru menjadi orang.
Sedang sekarang dia sadar bahwa sudah hampir setengah abad, 30 tahun, 20 tahun, dia menjadi orang beriman, mestinya refleksi awal ketika problem datang, anak sakit, istri sakit, bukan dokter, bukan obat, melainkan: “wa idzaa maridhtu fahuwa yasy-fiin“. “Apabila aku sakit, dia yang menyembuhkan” -Ash Shu’ara:80
Soal ikhtiar sesudah itu adalah hal yang biasa. Tapi yang istimewa dari orang beriman, refleksi pertama adalah Allah.
(Untaian nasihat Sang Murabbi, Sang Guru, Allahuyarham Ustadz Rahmat Abdullah)
***
Bersyukurlah bagi yang berpuasa, karena nikmat puasa hanya bagi orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang selalu me-refleksikan segala sesuatu kepada Dia Yang Maha Pencipta.
“Siapa dilanda kesusahan dalam suatu masalah hendaklah dia mengucapkan Laa Haula wa laa quwwata illa bil-laahil ‘aliyyil-’azhiim’ (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang maha Tinggi lagi Maha Agung)”. -Sabda Rasul, Hadist Riwayat Baihaqi dan Ar Rabi’i.
Episode Ramadhan in Marburg
6 Ramadhan 1431H
–
Kredit: Terima kasih untuk saudaraku Boy Ichsan untuk ilustrasi gambarnya: “Granada, Spanyol” :)