Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Yayok

Therapist pijat pengobatan tradisional, suka baca. Paling tersentuh kalau membaca dan mendengar kisah perjuangan meraih selengkapnya

Gereja Katholik di Alun-alun Pamekasan, Madura (Kok Provokatif?)

REP | 18 August 2010 | 00:48 Dibaca: 1761   Komentar: 81   4

Pamekasan dan Agama Islam

Pulau Madura, khususnya Kabupaten Pamekasan, mayoritas penduduknya beragama Islam. Walaupun sebagian masyarakat Madura kurang taat menjalankan agama, namun hampir semua orang Madura memiliki fanatisme yang tinggi. Isu-isu kegamaan mudah menyulut kemarahan masyarakat. Dan kegiatan keagamaan, menjadi hal yang dominan di tengah masyarakat. Apalagi di bulan Ramadlan, di pamekasan ada Bazar Takjil, terdiri dari stand-stand yang menjual aneka makanan, minuman dan kue untuk takjil/buka puasa.

Alun-alun Pamekasan dan Bazar Takjil Romadlon (Dokumentasi Pribadi)

Bazar Takjil Romadhon di Alun-Alun Pamekasan (Dok. Pribadi)

Masjid Agung Asy Syuhada dan Gereja Katholik

Apabila kita masuk ke jalan yang membelah alun-alun Pamekasan dari arah timur, kemudian kita berhenti di sisi utara jalan, kemudian menghadap ke selatan, maka :

1. Saat menoleh ke barat, kita akan melihat Masjid Jamik Asy Syuhada :

Masjid Jamik di Sebelah Barat Alun-Alun (Dokumentasi Pribadi)

Masjid Jamik Asy Syuhada, Barat Alun-Alun (Dok. Pribadi)

2. Saat Menoleh ke Timur, maka kita akan melihat gereja katholik :

Gereja Katholik Di Sebelah Timur  Alun- Alun Pamekasan (Dok. Pribadi)

Gereja Katholik Di Sebelah Timur Alun- Alun Pamekasan (Dok. Pribadi)

Kerukunan Hidup Umat Beragama dalam Bingkai NKRI

Berdirinya Gereja Katholik, di samping timur alun-alun Pamekasan, walau pun mungkin peninggalan kolonial Belanda, tetap merupakan fenomena yang menyejukkan. Di kota yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dan sempat terjadi unjuk rasa, sekitar tahun 1996-an, eksistensi gereja, merupakan sinyal yang positif bagi kerukunan hidup beragama. Menunjukkan, kemenangan aliran Islam yang  bijak, terhadap Islam garis keras, yang tidak suka terhadap kehadiran non muslim dan non pribumi.

Gereja Katholik Kota Pamekasan (Dok. Pribadi)

Gereja Katholik Kota Pamekasan (Dok. Pribadi)

Bara Dalam Sekam

Bila dicermati dari dekat, ada rasa miris dalam dada, karena umat katholik yang terkenal lemah lembut, ternyata sangat provokatif dalam memberi nama gerejanya. Perhatikan foto berikut :

Maria Ratu Para Rasul, Nama Yang Provokatif (Dok. Pribadi)

Maria Ratu Para Rasul, Nama Provokatif (Dok. Pribadi)

Diakui atau tidak, Rasul, adalah kata serapan dalam bahasa Indonesia, yang berasal dari bahasa Arab (Islam) untuk utusan Tuhan, sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad As. Dalam akidah agama Islam, semua Rasul berjenis kelamin laki-laki. Kata Rasul ini kemudian juga di adopsi oleh umat kristen, di pakai dalam kehidupan beragama sehari-hari dan penulisan Al Kitab, termasuk, kata serapan lain,  seperti iman, kafir, takwa, dll.

Logika nama Maria Ratu Para Rasul, dari iman Katholik, bisa dibenarkan, karena para murid Nabi Isa AS, Yesus Kristus, disebut Rasul. Namun, menurut umat Islam, pemilik asal kata Rasul,  ada 25 Rasul yang namanya disebutkan dalam Al Qur’an, yakni Nabi Adam AS, NUH AS, Zakaria AS, MUSA AS, Ibrahim AS, Ishaq AS, Yakub, Yahya, Isa AS dan  Nabi Muhammad adalah Rasul terakhir, sekaligus Sayyidul Mursalin. Pemilihan nama Maria Ratu Para Rasul, seakan mementahkan klaim umat Islam, bahwa Rasulullah SAW-lah, Penghulu / Raja Para Rasul itu. Sehingga menurut saya, umat katholik, harus cukup jeli dalam meilih nama, agar tidak mencemari ajaran cinta kasihnya dan tidak memancing kebrutalan umat Islam, karena Islam tidak mengajarkan kekerasan.

Semoga Tetap Harmonis

Walaupun nama gereja menurut saya provokatif, semoga tidak menimbulkan kemarahan umat Islam, toh Raja dan Ratu biasa bersanding. Apabila agama dianggap sebagai sumber pemuas dahaga dan makanan bathin, maka perbedaan, semestinya tidak menimbulkan pertikaian dan perpecahan. Pemuka agama dan tembat ibadah, hendaknya seperti penjual makanan, yang tidak sewot terhadap stand lain, seperti pada gambar berikut :

Tukang Sate Bijak (Dok. Pribadi)

Tukang Sate Bijak (Dok. Pribadi)

Tukang sate bijak, yang asyik melayani pembeli dan komit terhadap kualitas pelayanan. Tidak sewot terhadap pendatang dan penjual lalapan ayam dari Lamongan. Demikianlah seyogyanya, pemuka agama, membudayakan agama agar menjadi kebutuhan pokok umatnya, dan melayani umat, fokus pada pembenahan internal, hidup damai dan rukun dengan tetangganya. Memberikan kemerdekaan kepada umat, untuk memilih dan menjalankan agama yang diyakininya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Ire Rosana Ullail | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 9 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 11 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 14 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Smartphone dan Pribadi Boros Energi …

Dian Savitri | 8 jam lalu

Gerakan Indonesia Menulis; Mencari Nilai …

Rendra Manaba | 8 jam lalu

Pegawai BRI Beraksi Bak Debt Collector …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Tradisi dan Teknologi …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pisah Sambut Kejari Singaparna …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: