Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Aunurrofiq Fitriadi

Mahasiswa Komunikasi UMY | @aunurrofiqF

Muktamar 1 Abad Muhammadiyah

OPINI | 07 August 2010 | 09:10 Dibaca: 767   Komentar: 3   0

Muktamar 1 Abad Muhammadiyah di Yogyakarta baru saja telah usai. Ada yang sangat special dari Muktamar kali ini, dimana kita hanya dapat bertemu dengan Muktamar sekali seumur hidup. Kenapa? karena Muktamar 2 Abad Muhammadiyah kita kemungkinan besar tidak akan berjumpa kembali. Muktamar pada waktu kemarin adalah Muktamar yang dinanti-nantikan oleh kader Persyarikatan.

Banyak Muktamirin dan juga penggembira yang berdatangan dari seluruh penjuru Nusantara mulai dari Aceh, Padang, Jambi, Palembang, Samarinda, Bali, Makasar, dan juga hingga Papua. Bahkan juga dari PCIM di 18 negara juga ikut hadir dalam Muktamar yang ke 46. Mereka sungguh sangat bersemangat untuk menjadi saksi hidup dalam perhelatan akbar Muktamar 1 Abad Muhammadiyah. Banyak diantara mereka yang telah menabung setahun sebelumnya demi untuk datang ke ‘Ibu Kota Muhamadiyah’.

Muktamar kemarin memang menjadi kenangan terindah bagi Muktamrin dan juga penggembira mereka merasa senang dan juga puas terhadap pelayanan dan keramahan dari panitia dan juga warga Yogyakarta yang sangat serius. Mereka menyebut Mukatamr kali ini adalah yang paling berkesan dan juga terbaik.

Selain itu mereka juga terkesan dengan acara saat pembukaan dan juga malam harinya saat tasyakuran yang sangat luar biasa. Menggabungkan antara kebuadayaan tradisional dan juga modern yang dikemas secara menarik. Memang ada sebagian kalangan yang menggangap bahwa Muhammadiyah itu anti dengan seni, terutama tradisi yang seperti tari-tarian, music tradisional, dll. Namun hal tersebut mampu dijawab oleh Muhammadiyah dalam pembukaan dan juga malam tasyakuran, bahwa Muhammadiyah tidak anti seni. Justru seni dapat dijadikan media dakwah oleh Muhammadiyah.

Warga Yogyakarta pun juga sangat antusias dalam penyelengaraan Muktamar kali ini. Sudah jauh-jauh hari berbagai kegiatan di Cabang dan Ranting diseluruh DIY diadakan. Mulai dari baksos, sepeda gembira, khitanan masal, lomba keagamaan, lomba administrasi ortom, lomba mural, donar darah, dll. Berbagai macam media ruang iklan untuk promosi Muktamar 1 Abad Muhammadiyah juga sangat semarak di Yogyakarta. Seperti baliho, umbul-umbul, bendera, spanduk dan juga di Taxi, Trans Jogja, balon udara, dll. Yogyakarta pada tahun 1990 juga menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah yang ke 42. Muktamar waktu itu terbilang sangat sukses, dan kini Yogyakarta juga mengulang kesuksesan tersebut.

Walikota Herry Zudianto yang juga menjadi Ketua Panitia Penerima Muktamar 1 Abad Muhammadiyah menyatakan ada sekitar satu juta penggembira yang ke Yogyakarta. Selain itu juga ada perputaran uang sekitar 735 Milyar selama sembilan hari (1-9 Juli 2010). Hanya Muktamar kali saja yang mampu mendatangkan penggembira begitu banyak. Maka tentu saja hal ini berdampak positif bagi warga Yogyakarta. Dari segi ekonomi ribuan masyarakat mengalami kenaikan omset secara besar seperti pedagang baju, makanan, souvenir, cinderamata, kuliner khas Jogja juga seperti tukang parkir, guide. dengan Dari segi transportasi banyak jalur ke Yogyakarta mengalami kenaikan yang luar biasa baik udara maupun darat (bus, travel, kerata api). Becak, Andong, Angkutan Kota serta Trans Jogja juga mengalami kenaikan. Belum lagi ratusan tukang ojek yang direkrut panitia atau yang terkenal dengan Ojek Muktamar mengalami panen rezeki. Dari segi wisata banyak objek wisata yang mengalami lonjakan kenaikan wisatawan hingga 5 X lipat dibandingkan hari biasa. Selain itu promosi wisata dan juga budaya Yogyakarta akan menjadi lebih terkenal.

Muktamar 1 Abad Muhammadiyah memang banyak kenangan dan juga kesan yang menarik. Muktamar yang hanya dapat kita nikmati sekali seumur hidup itu mampu mendatangkan berkah bagi ribuan masyarak Yogyakarta. Mereka merasa senang dan juga bangga Yogyakarta menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah yang ke 46 ini. Semoga Muktamar yang ke 47 yang akan datang menjadi lebih baik dan bisa menggerakan perekonomian masyarakat lebih luas lagi. Amin.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 14 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 16 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 17 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 18 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: