Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Abdul Adzim

Belajar menulis dan berbagi informasi

Menyambut Bulan Sakral ” RAMADHAN”

OPINI | 26 July 2010 | 01:50 Dibaca: 510   Komentar: 12   3

Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu diciptaknnya hari, bulan dan tahun. Aktifitas manusia sehari-hari, seperti makan, minum, belajar, tidur, tidak terlepas oleh waktu (hari, bulan dan tahun), serta tempat. Sebagai seorang muslim, manusia juga melakukan aktifitas interaktif dengan tuhan-Nya, seperti Sholat, berbuasa, zakat, serta haji ke rumah Allah di Makkah. Jika diperhatikan, manusia hidup itu memiliki tiga waktu (1) sedang dilakukan (sekarang), (2) telah dilakukan (lampau), (3) dan akan dilakukan (masa depan).

Di antara hari yang sangat mulya di antara hari-hari yang ada ialah hari jum’at, yang dikenal dengan (Sayyidul Ayyam). Artinya, hari jum’at memang sangat istimewa di sisi-Nya, karena banyaknya kebaikan (berkah) yang ada di dalamnya. Ada waktu (saat) tertentu yang tidak ada sebuah permintaan (do’a), kecuali akan dikabulkan oleh Allah SWT (al-Qurtubi 8:18). Konon, yang dimaksud (saat) tertentu yaitu antara dua (Adzan dan Iqomah) dan antara dua khutbah. Imam Muslim, juga menyebutkan hadis Nabi S.a.w tengtang keistimewaan hari jum’at yang isinya:’’sebaik-baik hari, saat matahari sedang terbit yaitu hari jum’at, pada hari itu Adam as di maksukkan surga, dan pada hari itu juga dikeluarkan dari surga.[1]Dalam redaksi lainya, Adam diciptakan pada hari jum’at, dan kiamat itu juga akan jatuh pada hari jum’at.

Jika Allah SWT mengistimewakan hari tepat pada hari jum’at. Di antara dua belas bulan yang tercantum di dalam al-Qur’an, Romadhan adalah bulan special, Nabi S.a.w juga mengistimewakan. Al-Qur’an sebagai pedoman diturunkan secara serentak pada bulan romadhan, tepatnya pada malam lailatul mubarokah, atau yang lebih populer disebut dengan ‘’lailatul qodar’’. Di sisi lain, banyak keistimewaan yang dimiliki bulan ini, Nabi menyebutnya dengan’’ Sahru Ummat’’ bulan pengikutku. Tidak ada umat islam yang hidup di muka bumi, kecuali sangt bersuka ria ketika menyambut bulan suci romadhan yang penuh berkah dan ampunan.

Makna Bulan Romadhan.

Romdhan berasal dari bahasa Arab (ر م ض ن) yang berarti sangat panas atau kering kerontang, khususnya di tanah Arab yang memang kondisinya sangat panas dan kering. Asal kalimat Romadhan adalah ( رم ض ), kemudian ditambah hurf Alif dan Nun (الألف والنون ) yang berarti (sangat) panas. Memang, bangsa Arab waktu itu penghitungan hari mengikuti Babylonia. Bangsa Babylonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh segatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadhan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Masih terkait dengan epistimologi Ramdhan, setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadhan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami ‘panas’nya Ramadhan secara metaphoric (kiasan). Karena di hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadhan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadhan orang yang berpuasa tak lagi berdosa.

Keutamaan Bulan Romdahan.

Sebagaimana hari jum’at, bulan Romadhan disebut juga dengan Sayyidul Suhur (sebaik-baik) bulan. Karena semua amal perbuatan positif yang dilakukan pada bulan ini mendapatkan imbalan yang luar biasa, kebaikannya berlipat ganda. Banyaknya kebaikan yang dilimpahkan Allah SWT kepada manusia, menjadikan bulan ini lebih baik, dari pada bulan lainya. Agar supaya aktifitas ibadah yang dilaksanakan tidak terganggu oleh syetan dan sekutunya, Nabi S.a.w menuturkan:’’ ketika memasuki bulan suci Romdhan, pintu surga dibuka luas-luas, dan pintu neraka ditutup rapat-rapat, syetan-pun dibelenggu’’.

Allah juga memberikan peluang sebesar-besarnya kepada orang yang sedang melakukan puasa Romadhan untuk meraih keuntungan dunia dan akhirat. Sangat wajar, jika tuhan menyediakan sebuah pintu (al-Royyan), yang khusus untuk mereka yang melakukan puasa Romadhan. Besarnya pahala ibadah di bulan suci romadhan, membuat orang islam dibelahan dunia berlomba-lomba berbuat baik, seperti member makan orang berpuasa (iftor), tarawih, membaca al-Qur’an, serta beragam aktifitas positif lainnya.

Secara khusus, Nabi S.a.w menganjurkan kepada para pengikutnya agar supaya menghidupkan malam Romdahan dengan melakukan Qiyamu Ramdhan dan membaca al-Qur’an. Allah SWT menurunkan al-Qur’an secara serentak tepat pada bulan Romdahan, yaitu pada malam Lailatul Qodar. Sedangkan pada tanggal 17 Romdahan di peringati Nuzulul Qur’an (turunya al-Qur’an) disesuaikan dengan kebutuhan dan kejadian penting Nabi S.a.w Surat yang pertama kali turun (al-Alaq 1-5), tepatnya pada malam ke-17 Romhadhan, yang kemudian diperingati dengan Nuzulul Qur’an.

Di dalam al-Qur’an Allah mempertegas, bahwa al-Qur’an itu memang turun pada bulan Romdahan yang artinya:’’Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”[3]. Jadi, membaca al-Qur’an pada bulan Romadhan sama dengan memperingati turunnya. Nabi S.a.w sendiri setiap bulan Romadhan didatangi oleh Malaikat Jibril untuk bermutoalah bersama, kecuali menjelang wafatnya.

Yang membedakan bulan Romadhan dengan bulan lainnya yaitu kewajiban melakukan berpuasa. Memang tidak dipungkiri, hampir setiap bulan Nabi S.a.w tidak pernah meninggalkan puasa sunnah, akan tetapi tidak ada puasa yang dilakukan sebulan penuh, kecuali puasa bulan Romadhan. Konon, puasa Romadhan ditetapkan pada tahun kedua hijriyah,[4] dan hukumnya wajib bagi setiap orang muslim, baligh, berakal, serta mampu (kuat) untuk melakukan puasa.[5] Pahala ibadah puasa khusus, Allah sendiri yang akan membalasnya, sebagimana keterangan hadis Nabi yang berbunyi’’ semua amal ibadah anak Adam untuknya, kecuali puasa hanya untukku, dan aku sendiri yang akan membalasnya’’.

Kewajiban ini berdasarkan nash (teks) al-Qur’an yang artinya:’’Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa’’.[6]Keterangan ayat ini yang menjadi dalil sorih, atas kewajiban puasa bulan Romadhan. Selama di Madinah, Nabi hanya melakukan puasa wajib bulan Romadhan hanya sembilan kali, karena pada usia 63, beliau wafat.

Karena bulan ini sangat istimewa, beliau S.a.w senantiasa deres (membaca al-Qur’an) di dalam masjid. Sebagian ulama’, menghatamkan al-Qur’an setiap tiga hari sekali, sebagian lagi seminggu sekali, sebagian lagi sebulan. Do’a (permintaan) setelah hatam membaca al-Qur’an dikategorikan do’a mustajab (diterima). Di dalam sebuah hadis, Imam al-Nawawi menuturkan:’’Sungguh sangat dianjurkan berdo’a setelah merampungkan membaca al-Qur’an, dikatakan’’ barang siapa membaca al-Qur’an, kemudian berdo’a, ada tujuhpuluh para malaikat mengamini do’a itu’’.[7] Kegiatan Nabi pada usia senja banyak dihabiskan untuk beri’tikaf di dalam masjid Nabawi. Beliau tidak pulang ke rumah, walaupun jarak kediaman beliau sekitar 10 M, kecuali ketika waktu membuang hajat. Dan menjadi tuntunan bagi setiap umatnya untuk ikut serta I’tikaf di dalam masjid, walaupun tidak di Makkah (masjidil haram) atau masjid nabawi (Madinah).

Al-Qur’an dan puasa seolah-olah tidak dapat dipisahkan. Kelak, al-Qur’an itu berubah menjadi sosok menarik yang menawarkan pertolongan kepada setiap orang yang senantiasa membacanya.


[1] . H.R Muslim, 2013

[3] . Q.S Al Baqarah (1:185)

[4] . Al-Zuhaili, Muhammad, Dr, 1993. Al-Islam fi al-Madi wa al-Hadir ( Darul Qolam-Beirut, hal 65)

[5] . Al-Bagho, Mustofa Dr, 1992. Al-Tadhib Fi Adillati Matan al-Ghoyah wa al-Taqrib. Dar Ibn Katsir- Beirut, hal 102.

[6] . Q.S al-Baqarah (1;183)

[7] . 90 Quds, Muhammad Ali, Syeh, 1334. Kanju al-Najah wa al-Surur fi Adiyati allati Tasrohu al-Sudur. hal, 90.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 8 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 9 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepucuk Surat untuk Gadis Kaili….. …

Soentanie Yukie | 8 jam lalu

Haruskah Kugembok Akunku? Belajar dari Kasus …

Anggie D. Widowati | 8 jam lalu

Trik Marketing atau Trik Penipuan? …

Putriendarti | 9 jam lalu

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 10 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: