Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Bang Nasr

Bangnasr. Masih belajar pada kehidupan, dan memungut hikmah yang berserakan. Mantan TKI. Ikut kompasiana ingin selengkapnya

Kaum Sabean Irak

OPINI | 23 July 2010 | 13:59 Dibaca: 759   Komentar: 4   2

Hari ini 23 Juli 2010 dan dua sebelumnya merupakan hari Raya  atau Awal Tahun bagi penganut agama Sabean. Dalam Al-Qur’an kelompok tersebut disebut dengan ‘Al-Sabi’in’, (surat Al-Baqarah:62). Mereka kebanyakan tinggal di Irak. Bagi penduduk Baghdad, dengan memakai serba putih mereka pergi ke tepi sungai Eufrat untuk membersihkan badan dan jiwa mereka dari segala kotoran jasmani dan rohani.

Jumlah pemeluk Kaum sabean semakin hari sedikit di Irak. Pada tahun 1980-an ditengarai jumlah mereka ada sekitar 100.000 di Irak. Namun akibat penjajahan AS terhadap Irak, banyak yang menjdi korban mati, hijrah ke luar Irak maupun pembersihan etnik sehingga semakin sedikit, bahkan terancam punah. Sebagai kelompok minoritas, hak-hak mereka dilindungi, bahkan Parlemen Irak memberikan wakil mereka di Parlemen. Total jumlah mereka saat ini ditenagari cuma tinggal 20.000 orang di Irak.

Sheikh Ala’ Aziz, Wakil Ketua Kaum Sabean merasa sedih dengan kenyataan yang ada. Dia melihat kaumnya yang datang menyelam di air sungai Eufrat semakin sedikit. Biasanya selama 3 hari mereka mensucikan diri dan jiwa dari kototran jasmani dan rohani berendem di sungai tersebut di tengah kota baghdad. Dulu biasanya, kawasan sungai itu dipenuhi oleh pengikut Kaum Sabean hingga sore hari. Sekarang, sore sehabis matahari tergelincir sudah tidak ada lagi mereka berada di sungai.

Kaum Sabean dikenal juga dengan nama “Mindaen”, menggunakan bahasa dan tatacara ibadat tersendiri dalam ibadah kepada Tuhan. Akan tetapi bahasanya berasal dari Bahasa Aramik.  Agama tersebut sudah ada sebelum Kristen. Nabi mereka adalah Nabi Adam dan mereka mengkuduskan Yacob Sam’idan. Mereka ditengarai merupakan sempalan dari agama yahudi, yang pemeluknya menetap di Palestina dan Irak. Di Baghdad Tengah terdapat rumah ibadah kaum sabean, teptnya di Distrik Gardiyah. Temple atau rumah ibadah mereka bercirikan di atapnya terdapat salib yang dibungkus kain warna putih sebagai lambang kesucian.  Kelompok Sabean tidak menyebarkan agama mereka dengan jalan dakwah atau adanya para dai atau missionaris sebagaimana agama Islam dan Kristen. Pengakuan pemeluk agama mereka berdasarkan garis keturunan (kelahiran).

Peringatan awal tahun selama tiga hari sebagai makna proses penciptaan alam semesta. Ajaran agama Sabean berprinsip atas dasar 5 pilar (sila). Pertama, tauhid, yaitu pengakuan mereka terhadap Tuhan pencipta alam semesta. Dua, Ta’mid, yaitu penyucian tubuh dan jiwa. Karena keberadaan mereka di Irak, maka tuqus (tatacara ibadah) mereka dilakukan di sungai yang terdapat di Irak yaitu sungai Eufrat dan Tigris. Tiga, Shalat sebanyak tiga waktu sehari untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Empat, Puasa, yaitu menahan dan menjauhkan diri dari kekejian dan yang diharamkan yang dapat menjauhkan diri dari Tuhan, dan lima, Sedekah, yaitu memberi bantuan kepada sesama manusia dengan ikhlas dan rahasia (tidak ada yang tahu kecuali diri sendiri). Memberi kepada orang yang lapar dan miskin merupakan kewajiban.

Kehidupan dengan kelompok atau pemeluk agama lain sangat harmonis dan menghormati pemeluk agama lain. Hal ini yang menyebabkan mereka bertahan hidup berdmpingan secara damai di Irak. Bahkan pemerintah Irak merasa nyaman dengan pola keberagamaan mereka yang cinta damai dan kasih serta menghormati pemeluk agama lain. Karena asal agama mereka di Irak, kehidupan dan prinsip agama mereka di sekitar dua sungai di Irak, akan tetapi dengan adanya migrasi sehingga semakin berkurang jumlah mereka di Irak yang telah menetap lebih dari 2000 tahun di negeri 1001 malam tersebut. Saat ini Kaum Sabean menyebar hidup di Eropa seperti di Swedia, Belanda, Jerman, Australia dan Iran. Mereka sangat mengharapkan suatu waktu kaum Sabean kembali menetap di tepi sungai Eufrat dan Tigris.

salam,,

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 11 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 8 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

Ditunggu Kehadiran Buku Berkualiatas Untuk …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: