Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Nur Tjahjadi

Bebas Berekspresi, Kebebasan Akademik, Bebas yang bertanggung jawab...

Kalimat yang Ini Ringan Diucapkan, tapi Berat Timbangannya

OPINI | 20 June 2010 | 23:47 Dibaca: 725   Komentar: 8   2

Kemarin ada yang komentar ditulisan saya yang berjudul “Adegan sex di surga”.  Katanya, percaya pada yang gaib itu Ilusi.  Bahkan ia tambahkan lagi, delusional akut…

Supaya lebih akut, saya tambahkan lagi, ada kalimat yang ringan diucapkan dan di akhirat nanti akan berat timbangannya.  Kalimat itu adalah Subhanallah….dan Alhamdulillah…

Ada lagi kalimat yang beratnya lebih berat daripada bumi serta tujuh lapis langit dan bumi.  Kalimat itu adalah :  Laa ilaha illallah…

Dalilnya hadist Qudsi.  Hadist Qudsi adalah firman tuhan yang tidak terdapat di dalam Al Quran.  Suatu saat Nabi Musa as minta kepada Allah SWT satu kalimat Dzikrullah yang spesial.  Maka Tuhan menyuruh Musa membaca kalimat Laa ilaha illallah, yang artinya tidak ada tuhan selain Allah.  Musa menjawab kalimat itu sudah biasa saya ucapkan.  Maka Tuhan menjawab lagi, kalau saja kalimat itu diletakkan di satu sisi timbangan, dan di sisi timbangan yang lain adalah bumi serta 7 lapis lagit, maka kalimat itu akan jauh lebih berat.

Tuhan memang tak nampak, tapi Dia ada, Dia tak dilahirkan dan tak juga melahirkan.  Orang yang percaya kepada yang gaib adalah salah satu ciri orang yang beriman.  Tapi bagi yang tidak beriman, boleh saja ia katakan bahwa itu Ilusi atau delusional akut, atau apa saja.

Karena kalau semuanya sudah jelas, itu bukan iman lagi namanya.  Misalnya begini, orang yang sudah berada di dalam kubur, ia akan diperlihatkan surga dan neraka.  Ia akan melihat neraka dan surga.  Setelah ia melihat yang demikian, ia baru percaya, dan ia minta dikembalikan ke dunia.  Tetapi tidak bisa lagi.  Yang namanya beriman itu ya percaya kepada yang gaib.  Kalau sudah diperlihatkan dengan jelas baru dia percaya, itu mah bukan iman namanya….

Di dalam surat As Sajadah dijelaskan, penyesalan orang yang tak beriman itu dengan,  Ya Allah, sekarang aku sudah mendengar, aku juga sudah melihat (surga dan neraka), maka kembalikanlah aku ke dunia, barang sebentar saja, supaya saya dapat beramal… Tapi semuanya sudah terlambat, nah mumpung kita belum terlambat, mumpung kita masih hidup di dunia, kenapa nggak sekarang aja percayanya, Ilusi ya ? hehehe…

We will wait and see…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 9 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 10 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 11 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gimana Terhindar dari Jebakan Oknum Trading …

Adhie Koencoro | 7 jam lalu

Dari Priyo Sampai Ahok, Akhirnya Demokrat …

Auda Zaschkya | 8 jam lalu

Daya Tarik Kota Emas Prag, Ditinggalkan …

Cahayahati (acjp) | 8 jam lalu

Cycling, Longevity and Health …

Putri Indah | 9 jam lalu

Menemukan Pembelajaran dari kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: