Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Nur Tjahjadi

Bebas Berekspresi, Kebebasan Akademik, Bebas yang bertanggung jawab...

Kalimat yang Ini Ringan Diucapkan, tapi Berat Timbangannya

OPINI | 20 June 2010 | 23:47 Dibaca: 723   Komentar: 8   2

Kemarin ada yang komentar ditulisan saya yang berjudul “Adegan sex di surga”.  Katanya, percaya pada yang gaib itu Ilusi.  Bahkan ia tambahkan lagi, delusional akut…

Supaya lebih akut, saya tambahkan lagi, ada kalimat yang ringan diucapkan dan di akhirat nanti akan berat timbangannya.  Kalimat itu adalah Subhanallah….dan Alhamdulillah…

Ada lagi kalimat yang beratnya lebih berat daripada bumi serta tujuh lapis langit dan bumi.  Kalimat itu adalah :  Laa ilaha illallah…

Dalilnya hadist Qudsi.  Hadist Qudsi adalah firman tuhan yang tidak terdapat di dalam Al Quran.  Suatu saat Nabi Musa as minta kepada Allah SWT satu kalimat Dzikrullah yang spesial.  Maka Tuhan menyuruh Musa membaca kalimat Laa ilaha illallah, yang artinya tidak ada tuhan selain Allah.  Musa menjawab kalimat itu sudah biasa saya ucapkan.  Maka Tuhan menjawab lagi, kalau saja kalimat itu diletakkan di satu sisi timbangan, dan di sisi timbangan yang lain adalah bumi serta 7 lapis lagit, maka kalimat itu akan jauh lebih berat.

Tuhan memang tak nampak, tapi Dia ada, Dia tak dilahirkan dan tak juga melahirkan.  Orang yang percaya kepada yang gaib adalah salah satu ciri orang yang beriman.  Tapi bagi yang tidak beriman, boleh saja ia katakan bahwa itu Ilusi atau delusional akut, atau apa saja.

Karena kalau semuanya sudah jelas, itu bukan iman lagi namanya.  Misalnya begini, orang yang sudah berada di dalam kubur, ia akan diperlihatkan surga dan neraka.  Ia akan melihat neraka dan surga.  Setelah ia melihat yang demikian, ia baru percaya, dan ia minta dikembalikan ke dunia.  Tetapi tidak bisa lagi.  Yang namanya beriman itu ya percaya kepada yang gaib.  Kalau sudah diperlihatkan dengan jelas baru dia percaya, itu mah bukan iman namanya….

Di dalam surat As Sajadah dijelaskan, penyesalan orang yang tak beriman itu dengan,  Ya Allah, sekarang aku sudah mendengar, aku juga sudah melihat (surga dan neraka), maka kembalikanlah aku ke dunia, barang sebentar saja, supaya saya dapat beramal… Tapi semuanya sudah terlambat, nah mumpung kita belum terlambat, mumpung kita masih hidup di dunia, kenapa nggak sekarang aja percayanya, Ilusi ya ? hehehe…

We will wait and see…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Intip Lawan Timnas U-23 di Asian Games : …

Achmad Suwefi | | 01 September 2014 | 12:45

Anda Stress? Kenali Gejalanya …

Cahyadi Takariawan | | 01 September 2014 | 11:25

‘Royal Delft Blue’, Keramik …

Christie Damayanti | | 01 September 2014 | 13:32

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 10 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 10 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Perbaikan Gedung DPRD Kab.Tasikmalaya …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kompasianer, dari Sekedar Komentator Hingga …

Sono Rumekso | 8 jam lalu

Legislator Karawang Sesalkan Lambannya …

Abyan Ananda | 8 jam lalu

Di The Hague [Denhaag], ada …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: