Artikel

Agama

Muhammad Jabir

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Hanya orang biasa. Berusaha cinta menulis apapun. Pengembala dan pengembara.

Beribadah dengan Santun


REP | 29 May 2010 | 09:56 Dibaca: 181   Komentar: 4   1 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat

Sholatlah sesuai tuntunan Nabi

Sholatlah sesuai tuntunan Nabi

Saya tinggal di suatu rumah yang berhadapan langsung dengan speaker salah satu musholla di kota tempat tinggal saya. Musholla yang menjadi tempat ibadah warga  satu RT itu kerap menjadi biang keributan dan mengganggu ketentraman warga, terutama ketentraman saya. Jangan harap bisa sholat dengan tenang di rumah (bila terlambat sholat berjamaah) bila bila speaker musholla itu telah dihidupkan… Ributnya minta ampun. Saya terus terang terganggu. Saya pikir semua orang akan terganggu. Apalagi suara imam yang memimpin sholat jama’ah itu melengking serak-serak banjir. Sebelum adzan dikumandangkan, suara orang mengaji sudah dibunyikan lewat loudspeaker masjid atau musholla. Tidak sebagaimana di zaman Rasulullah, tak ada bunyi-bunyian lain sebelum azan selain azan merdu yang dikumandangkan oleh Bilal. Musholla yang seharusnya menjadi sumber kedamaian itu menjadi sumber ketidaktenangan masyarakat di sekitarnya. Ketika ada waktu antara adzan dan iqomat, seharusnya orang melakukan sholat sunnah atau berdoa, namun diisi dengan dzikir atau shalawat yang disuarakan dengan keras (plus mikrofon) yang bisa mengganggu orang yang ingin khusyu’ sholat sunat antara adzan dan iqomat.

Saya tidak habis pikir mengapa mereka melakukan ritual yang pada dasarnya tak ada perintahnya yang jelas  sama sekali. Alasan klasik adalah : itu adalah syi’ar Islam. Saya sudah berusaha mencari dalil yang mereka gunakan untuk melakukan ritual ‘aneh’ itu, namun sampai saat ini saya belum menemukannya. (Bila pembaca yang tahu, mohon saya diberitahu). Dzikir yang aneh.. Sebagian besar bukan dzikir setelah sholat lima waktu yang diajarkan oleh Rasulullah. Menyebutkan nama-nama orang tertentu (sepertinya nama warga yang sudah meninggal dunia) yang kemudian akan dikirimkan surat Al Fatihah dan dibaca sekeras-kerasnya.. pake mikrofon pula. Apa mereka khawatir bila berdoa denga suara pelan, doa mereka tidak akan didengarkan Allah ? Apa Pak Imam tidak tahu bahwa banyak  juga wanita muslimah dan orang lain yang sholat dirumah dan terganggu dengan ritual yang mereka lakukan?

Saya kira beribadah itu sudah ada tuntunannya yang jelas. Tidak perlu menambah-nambah tata cara ibadah apa yang sudah ditetapkan Allah dan RasulNya. Apa mereka beranggapan bahwa agama ini belum sempurna diturunkan dengan sempurna dan sehingga masih perlu ditambah-tambah? Kalau karena ketidaktahuan mereka, yah itu wajar. Mungkin ini adalah kesalahan orang yang sudah tahu, tapi tidak mau memberitahukan kepada mereka yang belum tahu. Atau bisa juga sudah diberitahu, namun tidak mau mendengarkan atau mengikuti apa yang sudah disampaikan.

Rasulullah adalah sebaik-baik teladan dalam semua perkara. Hal ini pernah disabdakan Beliau, “Sholatlah sebagaimana aku sholat.” (HR Bukhari-Muslim). Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah;   Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.

Cukuplah Rasul menjadi contoh bagaimana beliau melakukan sholat wajib. Tidak mengganggu ketentramanan orang lain. Tidak ada dzikir berjama’ah dengan suara yang melengking tinggi, tidak ada doa berjamaah setelah sholat wajib apalagi dengan suara keras. Bahkan ketika Rasul sholat tahajud di malam hari, suaranya tidak sampai membangunkan istrinya yang sedang tidur. Bukankah Rasul memerintahkan kita untuk sholat sebagaimana beliau sholat? Jika tidak, maka kita akan terjerembab dalam lumpur bid’ah yang menyebabkan amalan sholat tidak diterima bahkan hanya akan mendatangkan  dosa. Allahu a’lam.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: