Back to Kompasiana
Artikel

Agama

Asrul

Penggiat lingkungan hidup dan persampahan. Menginisiasi Pengolahan Sampah (Kab/Kota) di Indonesia by NGO Posko Hijau selengkapnya

Marah (1)

OPINI | 26 May 2010 | 13:13 Dibaca: 510   Komentar: 8   1

Dalam sehari mungkin ada orang yang marah sampai tiga atau empat kali, apalagi kalau memang hobinya pemarah, bisa sampai sepuluh kali bahkan lebih dalam sehari ia marah.

Marah adalah sangat manusiawi, tetapi setiap orang mempunyai cara sendiri kalau marah, coba perhatikan ayah atau ibu anda kalau lagi memarahi anaknya atau seorang ibu guru di sekolah ketika ia memarahi anak muridnya begitu pula seorang manajer marah kepada bawahannya. Orang bisa marah karena ada motif yang menyebabkan sehingga amarahnya muncul.

Tetapi jika anda merekam suara anda atau raut muka anda ketika lagi marah, mungkin anda menyesal apa yang telah anda lakukan atau malu melihat diri anda sendiri. Oleh sebab itu Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi:

“ Barang siapa yang ingat kepada-Ku ketika marah, niscaya aku ingat kepadanya ketika aku marah, dan tidak akan kuhilangkan rahmatKu sebagaimana orang-orang yang aku binasakan atau hilangkan rahmatnya”.

Allah SWT memberitahukan kepada kita bahwa barang siapa yang ingat kepada Allah SWT, ketika sedang marah dengan menghentikan amarahnya, Allah pasti akan mengingatnya ketika Ia murka dan tidak membinasakannya atau menghilangkan rahmat dari padanya. Allah akan menjaga dan memeliharanya sehingga hilang kemarahannya, atau dikendalikan oleh akalnya sehingga tidak melampaui batas, atau kemarahannya dipalingkan oleh Allah menjadi marah karena Allah dan ia akan mendapatkan pahala.

Berzikir kepada Allah sangat dianjurkan sehingga di saat sedang marah pun hendaknya harus segera mengingat Allah (berzikir) dan menghentikan amarahnya, zikir merupakan penyembuh (obat) penyakit, sedangkan marah merupakan semacam penyakit jiwa, yang dimanifestasikan secara mendadak. Orang yang sedang marah hampir-hampir tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya bahkan sampai kehilangan keseimbangan, sehingga menimbulkan hal-hal yang tidak diingini.

Dalam hadits Qudsi di atas disebutkan ada dua macam jenis marah yaitu: marahnya manusia dan marahnya (murka) Tuhan.

Marah manusia menunjukkan gejala mendidihnya darah dalam jantung yang didorong dengan motif ingin membinasakan; yang menyebabkan panasnya mengalir hingga ke kepala, mukanya menjadi merah padam, matanya berkunang-kunang, telinganya memerah dan tak mendengar nasehat atau peringatan, air muka kelihatan bengis mengerikan dan begitu mendidih darahnya hingga kaki dan tangannya gemetar, keseimbangannya hilang, jiwanya tak dapat dikendalikan yang akhirnya dorongannya disalurkan pada mangsanya yang menurut penglihatannya sangat kecil.

Hal tersebut digambarkan dalam sabda Nabi Muhammad saw:

“Jagalah dirimu dari perbuatan marah, sesungguhnya marah itu laksana bara api yang menyala di dalam hati bani Adam. Cobalah perhatikan (ketika seseorang sedang marah) lehernya berkembang, dua biji matanya memerah”

Marahnya manusia dengan marah atau murkanya Allah sangat berbeda, arti murka Allah tidak seperti marahnya manusia sebagai makhluk-Nya. Hal itu mustahil baginya. Murka Tuhan berarti tindakan hukuman terhadap orang-orang yang durhaka kepada-Nya, atau orang yang melanggar larangan-Nya dan tidak mau mengerjakan perintah-perintah-Nya.

Sifat marah pada manusia diakui adanya dan memang haknya, sedangkan murka Tuhan merupakan tindakan hukum yang didasarkan pada sifat-Nya Pengasih lagi Penyayang walaupun tindakan-Nya sangat keras, namun sifat marah pada manusia harus dikendalikan hingga tidak melampaui batas.

Lalu bagaimana cara mengendalikan marah?

Adapun cara mengendalikan marah dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

Pertama, Dzikir kepada Allah sambil mengingat akan keutamaan menahan marah, keutamaan memberi pengampunan dan maaf, keutamaan bersikap sabar dan menahan diri di waktu memperoleh sesuatu yang tidak menyenangkan.

Kedua, Membaca shalawat kepada Nabi saw berkali-kali sambil mengingat Allah dan dampak akibat kemarahnnya tersebut.

Ketiga, Berwudhu’ atau mandi, karena marah itu adalah api dan api dipadamkan oleh air, yaitu air wudhu atau mandi.

Keempat, membaca “A’uudzu billahi minsya-syaithonirrajiim” –aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk-

Kelima, segera mengubah keadaan ketika marah ; kalau ia sedang berdiri, hendaklah segera duduk, dan kalau ia sedang duduk hendaklah segera berdiri atau berbaring.

Sehubungan dengan marah dalam berbagai riwayat dikemukakan:

“Sesungguhnya marah itu dari syetan dan syetan diciptakan dari api, dan api hanyalah dapat dipadamkan dengan air. Apabila di antara kalian marah, hendaklah berwudhu”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Barang siapa dapat menahan marah padahal ia sanggup melampiaskan kemarahannya, niscaya Allah swt, memanggilnya di hadapan khalayak ramai untuk dipersilahkan memilih bidadari yang dikehendakinya”

Hadits-hadits tersebut di atas menjadi dasar akan pentingannya menahan amarah, semoga Allah memelihara kita dari perbuatan marah yang bukan karena Allah dan dapat bersabar serta suka memaafkan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 11 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 12 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 14 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 14 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: